Pemecatan Sinisa Mihajlovic dan Obsesi Silvio Berlusconi

Siapa yang tak kesal ketika menerima surat yang berisikan tentang pemberhentian tugas atau pemecatan. Bahkan politisi sekaliber Fahri Hamzah pun tampak kesal saat mengetahui dirinya dipecat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Kekesalan Fahri terlihat dari argumen-argumennya terkait pemecatan dirinya. Di konferensi pers, Fahri sempat melontarkan keheranannya perihal alasan dirinya didepak dari PKS.

Fahri merasa tak pernah berbuat macam-macam seperti kader-kader PKS lainnya yang bermasalah. Pemecatan luput dari kader-kader bermasalah lainnya semisal kader yang terjerat skandal korupsi sapi hingga kader yang nonton bokep di ruang dewan. Kini Fahri berencana menggugat keputusan pemecatan dirinya.

Apa yang dialami oleh Fahri Hamzah tampak selaras dengan apa yang saat ini dialami Sinisa Mihajlovic. Miha seketika diberhentikan dari kursi pelatih AC Milan oleh para petinggi klub.

Namun sayang Miha bukanlah Fahri. Miha bukanlah seorang politisi yang bisa mempertanyakan keputusan pemberhentian tugasnya. Miha hanyalah juru taktik yang harus tunduk oleh setiap keputusan yang diambil oleh dewan tertinggi Milan.

Mempertanyakan pemecatannya saja tidak bisa. Apalagi berani menggugat seperti yang dilakukan Fahri. Yang bisa dilakukan Miha hanyalah meratapi nasibnya. Menangis dalam hati lantaran bersiap jadi seorang pengangguran.

Nada sumbang terdengar begitu lantang saat Miha pertama kali ditunjuk sebagai pelatih Milan pada awal musim 2015/2016. Para suporter I Rossoneri agaknya sedikit trauma lantaran dalam CV Miha tak jauh lebih istimewa dibanding dengan apa yang dimiliki oleh Filippo Inzaghi, pelatih AC Milan sebelumnya.

Seakan menjawab keraguan-keraguan publik San Siro. Miha sesegera mungkin membenahi Milan dengan cara yang berbeda.

Pada awal musim, metode latihan Miha dinilai mengesankan. Para pemain Milan menilai asupan latihan tim berbeda dengan sewaktu Inzaghi masih melatih.

Miha dinilai telah menerapkan disiplin tinggi serta menanamkan etos kerja keras kepada anak asuhannya. Porsi latihannya pun lebih berat dibanding sebelumnya.

Miha juga pandai dalam menjalin kedekatan dengan pemain. Hal tersebut terlihat dari minimnya pemain Milan yang ngambek saat dibesut Miha. Mungkin hanya Mario Balotelli saja yang selalu muram. Bukan karena Miha tapi karena Balotelli kini sudah tahu bahwa dirinya memang benar-benar apel busuk seperti apa yang dikatakan oleh Berlusconi.

Setelah kurang lebih 10 bulan duduk di kursi pelatih Milan. Miha kini harus berdiri dari kursinya dan bersiap berkemas untuk segera meninggalkan Milanello.

Salah satu alasan kenapa Miha diberhentikan yakni kekalahan AC Milan saat menjamu Juventus akhir pekan lalu (9/4) di San Siro. Kekalahan 1-2 tersebut menjadi penentu nasib Miha di Milan. Kekalahan dari Juventus seakan menjadi penegas dari rentetan hasil minor sepanjang tahun 2016.

BACA JUGA:  Atalanta: Dewi Cantik yang Membuat Kita Jatuh Cinta

Di awal tahun ini, penampilan AC Milan bersama Miha cukup impresif. Kemenangan atas Inter, Fiorentina, dan juga sukses menahan imbang AS Roma dan Napoli yang tengah dalam tren positifnya menjadi bukti perubahan tengah terjadi di kubu Milan.

Aroma kebangkitan yang tengah dirasakan publik Milan secepat kilat sirna di beberapa pekan belakangan ini. Dari 5 pertandingan terakhir Milan termasuk melawan Juve. Milan hanya meraih 2 poin dari 15 poin yang mungkin diperoleh. Rentetan hasil buruk itu tak pelak menghapus asa untuk sekadar mendapat tiket menuju Liga Champions di urutan ketiga.

Apa yang dilakukan Miha selama 10 bulan ini mendapat rapor merah dari Silvio Berlusconi. Mantan bek Lazio dan Internazionale Milano itu dirasa tidak mampu mencapai target awal Milan untuk berlaga di Liga Champions.

Terlebih lagi Milan sudah melakukan transfer yang cukup mengesankan musim ini. Milan mendatangkan banyak pemain yang kualitasnya tak buruk sama sekali. Sebut saja Luiz Adriano, Bertolacci, Romagnoli, Carlos Bacca, Kucka, dan Balotelli.

Miha tak becus meracik ramuan yang cocok untuk Milan. Eksperimen formasi masih sering dilakukan di tengah kompetisi. Mulai dari formasi 4-3-1-2, 4-3-3 hingga yang terakhir 4-4-2. Miha seperti kebingungan merancang pola apa yang mumpuni untuk mengakomodasi kemampuan anak asuhnya.

Mihajlovic dipecat Milan setelah dinilai bekerja tak memuaskan. Liga Italia sudah berjalan 32 pekan, dia hanya mampu membawa Rossoneri menempati posisi enam klasemen sementara dengan raihan 49 poin. Ambisi untuk kembali ke Liga Champions pun sepertinya tak akan terwujud.

Rinciannya, Mihajlovic membawa Milan memetik 13 kali kemenangan di Liga Italia, 10 hasil imbang, dan 9 kekalahan. Dalam data yang dilansir oleh Opta, persentase kemenangan Mihajlovic ada di angka 40,62 persen. Dia menghasilkan rata-rata 1,53 poin setiap pertandingan.

Di Liga Italia, Milan tercatat mampu memasukkan sebanyak 42 gol. Soal rekor pertahanan, mereka kebobolan sebanyak 35 gol dari 32 kali bertanding.

Catatan itu masih lebih baik dari Filippo Inzaghi yang mencatatkan persentase kemenangan dengan catatan 34,21 persen. Dalam 38 pertandingan yang dilakoni, Milan memetik 13 kali kemenangan, 13 kali hasil imbang, dan 12 kali menelan kekalahan.

Di antara tiga pelatih terakhir Milan, Clarence Seedorf bisa mencatatkan persentase kemenangan paling bagus dengan torehan sebanyak 57,89 persen. Dia menangani Milan dalam 19 pertandingan dengan rincian 11 kali menang, 2 kali imbang, dan 6 kali menelan kekalahan.

BACA JUGA:  Apa Dampak Akuisisi Persebaya Terhadap Jawa Pos?

Kini nasi sudah menjadi bubur. Miha harus menerima kenyataan bahwa dirinya hanyalah pelatih medioker yang tak kuasa mengarsiteki kesebelasan dengan tekanan sebesar Milan.

Obsesi Berlusconi

Pasca-pemecatan Miha, Milan pun tak perlu berlama-lama memilih pelatih penerusnya. Pilihan jatuh kepada Christian Brocchi. Mantan pemain Milan yang dulu terkenal dengan gaya bermainnya yang mirip dengan Gennaro Gatusso.

Sebelum ditunjuk menjadi pelatih Milan. Brocchi adalah pelatih tim primavera AC Milan. Brocchi menjadi pelatih primavera setelah mengisi posisi pelatih kosong semenjak Inzaghi promosi menjadi pelatih tim senior AC Milan.

Entah, apa yang ada di kepala Berlusconi ketika memutuskan memilih Brocchi. Satu hal yang pasti adalah penunjukan Brocchi tak terlepas dari obsesi Berlusconi dengan pelatih muda.

Berlusconi seperti terinspirasi oleh fenomena Pep Guardiola yang bergelimang prestasi dengan Barcelona beberapa tahun lalu, yang kemudian mengantarkan dirinya sebagai salah satu pelatih papan atas dunia. Seorang pelatih muda yang mengemparkan jagat sepak bola.

Hal itu terlihat dari penunjukan pelatih-pelatih Milan yang berusia muda dan minim pengalaman. Semenjak Carlo Ancelotti hengkang dari Milan. Berlusconi seolah-olah sedang berjudi dengan memilih pelatih sekaliber Leonardo, Allegri, Seedorf, Inzaghi, Mihajlovic, dan Brocchi.

Dari deretan pelatih tersebut hanya Allegri yang lumayan performanya. Alegri sukses menggondol gelar juara Serie A 2010/2011 dan Piala Supercoppa 2011. Bau “Pep” juga tercium dari penunjukan Inzaghi dan Brocchi. Mereka berdua menjadi semacam follower jejak Pep yang memulai karier kepelatihannya dari tim junior.

Obsesi Berlusconi mengenai pelatih muda bisa juga tampak dari raut muka Berlusconi. Lihat saja wajahnya yang tampak muda lantaran hasil operasi plastik. Rambutnya terlihat lebat setelah cangkok rambut. Terlihat bahwa Berlusconi terobsesi untuk jadi “muda”.

Entah itu wajah, pelatih hingga soal selera perempuan. Ingatlah beberapa waktu silam, Berlusconi terjerat skandal cinta dengan perempuan yang usianya terpaut sangat jauh. Bisa dibilang Berlusconi adalah generasi menolak tua. Semua harus serba muda.

Terlepas dari itu semua. Hanya waktu yang bisa membuktikan kemampuan Brocchi di sisa laga AC Milan musim ini. Namun, mengingat track record pemecatan pelatih di Milan sejauh ini sungguh luar biasa. Ada kemungkinan Brocchi bisa jadi korban obsesi Berlusconi selanjutnya.

 

Komentar
Mantan Mahasiswa dan Berposisi sebagai regista saat bermain sepakbola.