Perlukah Mengambil Lisensi Kepelatihan untuk Menulis Sepak Bola?

Ini sebenarnya bukan kasus baru, namun kalau disebut sebagai kasus yang lama, agaknya kurang tepat. Permasalahan perlunya lisensi untuk menjadi penulis sepak bola atau penganalisis taktik itu semacam problematika yang cukup mengganggu dan sekiranya perlu untuk dibahas dan ditelaah sebaik mungkin.

Merebaknya budaya populer dalam wujud football writing di Indonesia, diakui atau tidak, salah satu sosok penting yang berperan tentu adalah Zen Rachmat Sugito sebagai founder sekaligus chief editor situs Panditfootball.com.

Dan kalau mau tahu pun, Zen RS, nama beken beliau, setahu saya tidak dan belum menempuh pendidikan untuk mengambil lisensi kepelatihan. Tapi apakah itu meminimalkan kemampuan beliau dalam menulis dan menganalisis taktik? Saya rasa tidak.

Sepak bola, perlu ditekankan mungkin, adalah ladang opini. Tidak ada hukum mutlak di sini. Tidak ada salah dan benar. Mau bermain pragmatis untuk juara, silakan. Mau menjadi moralis dan bermain cantik juga silakan, kalau mampu.

Mau menyebut Cristiano Ronaldo arogan, juga tidak salah. Mau melabeli Lionel Messi sebagai kriminal karena mengemplang pajak, juga bebas. Toh, semua masih bisa dipertanggungjawabkan selama didukung data dan fakta.

Nah, berangkat dari pemahaman bahwa sepak bola adalah ladang opini, lalu bolehkah saya, misal, seorang mahasiswa yang menempuh tahun ketujuh kuliah dan belum juga wisuda ini nggambleh panjang lebar soal sepak bola dalam bentuk tulisan atau analisis taktik?

Jawabnya, tentu saja boleh. Siapa berhak melarang saya juga Anda untuk menulis dan menganalisis sebuah pertandingan sepak bola dengan perspektif kita sendiri? Karena sepak bola adalah untuk segala umat dan segala bangsa. Rasa-rasanya, untuk meminta para pandit dan penulis sepak bola agar menempuh lisensi kepelatihan adalah hal utopis.

Lagipula, ini jujur, tidak semua pandit dan penulis memiliki cita-cita untuk menjadi pelatih sepak bola, baik di level amatir atau profesional. Sekarang saja, menjadi penulis sepak bola sudah menjadi lapangan pekerjaan yang asyik.

Kita bisa merawat sepak bola sebagai budaya permainan olahraga yang asyik sembari melestarikan sepak bola melalui jalan literasi. Bisa juga mengemas sepak bola dalam bentuk karya tulis dalam sebuah buku, blog, ataupun berita. Asyik, bukan?

Perlunya adil dalam menulis sepak bola

Satu hal, yang selalu saya hindari dalam menulis sepak bola adalah selalu merasa paling benar dan paling tahu. Itulah kenapa saya selalu berupaya membaca, memahami, dan rutin bertanya. Sebagai contoh saja, saya awalnya pusing sekali menelaah tulisan Ryan Tank di situsweb Fandom perihal taktik half-space yang luar biasa panjang itu.

BACA JUGA:  Mesin Uang Cristiano Ronaldo

Butuh tiga sampai empat bulan lebih bagi saya untuk benar-benar paham tentang half-space dalam konsep sepak bola. Itu pun baru soal half-space, belum lagi istilah taktikal lainnya seperti pressing resistance, pressing trap, konsep double pivot atau menjelaskan sepak bola ala Pep Guardiola yang filosofis sekaligus rumit itu.

Semua tidak instan dan tidak bisa ditulis dengan sembarangan. Jadi, untuk menilai pekerjaan menulis dan menganalisis taktik tanpa lisensi sebagai hal sepele, tentu sangat tidak adil.

Nah, itulah kenapa kita harus adil terhadap penulis sepak bola yang berasal dari awam, dan juga adil bagi para pembaca. Adil pada pembaca ini tidak mudah, terkadang para penulis pun harus benar-benar paham hal yang ingin ia tulis, baik berita atau cerita tentang sepak bola agar bisa dicerna dan dipahami pembaca tanpa kesulitan.

Pembaca itu raja, bagi kami. Dan sebaik-sebaiknya raja, tentunya harus adil dan bijaksana.

Menyuruh semua penulis dan pandit sepak bola untuk menempuh kepelatihan sepak bola demi sebuah lisensi, tentu agak kurang adil. Masalahnya, tidak semua penulis dan pandit, memiliki minat khusus menjadi pelatih. Dan juga, tidak memiliki waktu dan biaya untuk keperluan mengurus lisensi tersebut.

Tapi tidak sedikit di antara para penulis dan pandit sepak bola yang memang memiliki kapabilitas menulis taktik dengan cara yang luar biasa jelas dan mudah dipahami.

Di Fandom misalnya, kami memiliki dua sosok kompeten dalam wujud Qo’id Naufal dan Ryan Tank yang karya mereka berdua cukup menjadi acuan bagi kami, para penulis pemula, untuk memahami sepak bola secara teknis.

Ada juga nama Yamadipati Seno yang memiliki kapabilitas pemahaman taktik yang memadai walau pekerjaan sehari-harinya bukan pelatih sepak bola berlisensi.

Lisensi bukan hal yang buruk, malah sangat dianjurkan bagi mereka yang ingin menjadi pelatih profesional karena minatnya memang menuju ke arah sana. Saya tidak menyarankan banyak orang yang ingin menulis sepak bola untuk tidak mengambil lisensi kepelatihan.

Kalau memang minat dan bakat Anda semua ingin menjadi pelatih profesional seperti Roy Hodgson yang fenomenal itu, silakan saja. Semua waktu dan biaya yang diperlukan untuk lisensi tersebut adalah sepenuhnya hak masing-masing orang.

BACA JUGA:  Piala Menpora: Oase di Tengah Pandemi Covid-19

Dan karena itu hak, bukan kewajiban, maka tidak bisa dipaksakan agar semua orang menempuhnya, bukan?

Sepak bola untuk semua

Yang paling saya takutkan dari hal-hal tentang menulis dan menganalisis sepak bola, adalah munculnya kebiasaan untuk mendaku diri paling benar dan paling kompeten.

Kecuali Anda Sir Alex Ferguson atau minimal, Jose Mourinho, sebaiknya kita saling mengakui diri sebagai awam yang tidak tahu apa-apa tentang sepak bola. Gelas yang kosong lebih baik dalam menerima kritik dan saran dibanding gelas yang sudah telanjur penuh.

Gelas yang penuh membuat Anda bebal, anti-kritik, dan tak jarang, menjadi seorang yang fasis. Padahal, sepak bola itu menyenangkan, begitu membekas di memori, dan tak jarang, sensasinya membuat Anda betah terjaga dari malam sampai pagi.

Janganlah hal yang sedemikian seksi dan menggairahkan seperti sepak bola disusupi sikap bebal dan banal. Cukup iklim sepak bola nasional kita saja yang bebal. Untuk literasi soal sepak bola harus sebebas-bebasnya dan bertanggung jawab. Bertanggung jawab dengan konten, dan bertanggung jawab dengan data serta fakta.

Semua orang, siapa pun Anda, entah lulusan dari universitas mana, entah masih sekolah di SMP atau SMA, entah mau penarik becak atau kuli bangunan sekalipun, berhak dan bebas menulis sepak bola tanpa batasan.

Selama mau membaca, belajar memahami dan terbuka dengan kritik dan saran, saya rasa, masa depan literasi sepak bola di Indonesia akan sangat cerah. Bukankah sesuatu yang baik tidak jarang bermula dari literasi dan kemauan belajar?

Siapa tahu, dengan iklim literasi bola yang cerah, sepak bola di negara kita juga bisa makin berkembang. Kalau memang mau berkembang.

Dan sekadar trivia, tiga nama inspiratif dalam hal penulisan sepak bola bagi saya, entah Anda percaya atau tidak, ketiganya, tidak memiliki lisensi kepelatihan.

Sindhunata yang dahulu esai-esai sepak bolanya bisa kalian nikmati di Kompas, hingga generasi Zen RS, dan Darmanto Simaepa sekalipun, yang mampu menulis esai sepak bola dengan bernas tidak mempunyai lisensi kepelatihan.

Bukankah hidup ini asyik, bung?

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.