Piala Eropa, Liga Indonesia, dan Memori Bocah

Selama satu bulan terakhir, para penggemar sepakbola disibukkan oleh gelaran Piala Eropa 2020 (diselenggarakan pada 2021 karena adanya pandemi Covid-19).

Banyak dari kita yang rela begadang demi menyaksikan tim pujaan berlaga pada tengah malam atau pagi buta waktu Indonesia.

Situasi demikian memunculkan beraneka kenangan di kepala saya. Terutama ajang Piala Eropa 2008 yang dihelat di Austria dan Swiss.

Kala itu, Spanyol yang dimotori Fernando Torres berhasil keluar sebagai kampiun usai menaklukkan Jerman yang dibela Manuel Neuer pada babak final.

Gol semata wayang Torres sudah cukup untuk membawa pulang trofi Henri Delaunay ke Negeri Matador.

Kebahagiaan meliputi saya waktu itu karena La Furia Roja adalah tim favorit. Mengapa memilih Spanyol? Sebagai ‘anak baru’ dalam ranah menggemari sepakbola, saya memilih mereka karena warna seragamnya sesuai dengan warna kesukaan.

Sampai akhirnya saya sadar beberapa tahun kemudian bahwa saat itu, Spanyol sedang mengawali kedigdayaannya di kancah sepakbola berbekal materi pemain yang luar biasa hebata.

Medio 2008, saya masih duduk di bangku kelas dua Madrasah Ibtidaiyah. Masa-masa itu merupakan awal pendekatan saya terhadap sepakbola.

Dari situlah saya perlahan-lahan mengetahui nama sejumlah pesepakbola ternama sampai letak geografis sebuah negara.

Walau terkesan biasa-biasa saja, setidaknya ini membantu saya punya wawasan lebih luas dibanding mereka yang tidak mengikuti Piala Eropa 2008.

Bukan mau berbesar kepala, tetapi apa yang saya ungkapkan di atas memang benar adanya.

Contoh kecilnya adalah 16 negara partisipan Piala Eropa 2008. Mereka adalah negara-negara yang berasal dari satu benua yang sama yakni Eropa.

Saya akhirnya tahu bahwa Spanyol ada di kawasan Eropa Barat, sementara Rusia berada di timur Eropa.

BACA JUGA:  Laga Pembantaian di Liga 2

Piala Eropa sendiri merupakan kejuaraan sepakbola antarnegara Eropa yang diselenggarakan tiap empat tahun sekali.

Selain itu, saya juga mengetahui jika Eropa memiliki sebuah julukan tersendiri yaitu Benua Biru.

Sepakbola Dalam Negeri

Selain berkenalan dengan sepakbola Eropa, saya juga mulai mengamati sepakbola Indonesia.

Liga Indonesia divisi utama musim 2007/2008 merupakan kompetisi yang membawa saya mengenal tim-tim sepakbola lokal.

Saya masih ingat bahwa Liga Indonesia pada saat itu diikuti oleh 36 kesebelasan yang dibagi ke dalam dua wilayah yakni Barat dan Timur.

Di luar dari itu, saya belum mengerti tentang format kompetisi Liga Indonesia. Namun satu yang bikin saya kerap bingung adalah nama klub-klub Indonesia yang didominasi prefiks Per.

Walau demikian, saya akhirnya tahu bahwa Persija berasal dari Jakarta, Persib bermarkas di Bandung, Persebaya merupakan tim idola masyarakat Surabaya, dan Persipura adalah klub asli Jayapura.

Sisi Lain Sepakbola

Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa sepakbola tidak akan menambah wawasan apapun di luar bidangnya.

Akan tetapi, pengalaman saya dan mungkin banyak sekali orang lainnya, yang merasa tercerahkan karena cabang olahraga yang satu ini.

Selain berbentuk hiburan, nyatanya sepakbola memberi nutrisi pengetahuan. Entah itu berkaitan dengan ilmu ekonomi, kesehatan, geografi atau bahkan hukum.

Andai tulisan saya ini masuk ke dalam fase yang serius, maka dalam pembelajaran filsafat ilmu, seluruh pengalaman yang tertulis di sini merupakan salah satu sumber memperoleh pengetahuan selain oleh akal (verstand), budi (vernunft) dan intuisi.

Diakui atau tidak, sepakbola mampu membawa kita ke dalam dimensi yang berbeda.

Tak melulu tentang sepakbola itu sendiri, tetapi banyak hal lain yang berkaitan dengannya.

Apalagi banyak dari kita yang merasakannya saat masih bocah sehingga sensasi mendapat pengetahuan baru itu membuat kita gembira bukan kepalang dan umumnya awet tersimpan di memori.

BACA JUGA:  Persibo Bojonegoro, Lumpia, dan Buku

Wajar bila kemudian sepakbola menjadi sesuatu yang selalu menarik untuk diikuti dan bahkan dipelajari.

Layaknya sebuah buku ensklopedia, kita bisa mendapatkan banyak hal yang tidak kita ketahui sebelumnya dari sepakbola.

Komentar
Mohamad Ekky Rizky Dwi Putra
Penggemar Manchester United dan Persib yang sedang belajar literasi sepakbola. Mari bertegur sapa di twitter via akun @mohamadekkyrdp