Portugal: Tak Meyakinkan Tetapi Mengagumkan

Piala Eropa 2020 telah usai dan memunculkan Italia sebagai pemenang setelah mengandaskan perlawanan Inggris di babak final melalui drama adu penalti.

Gli Azzurri menjadi negara kedua setelah Portugal yang menjuarai Piala Eropa dengan format 24 tim. Namun berbeda dengan Italia, Seleccao das Quinas menggapai trofi juara dengan penampilan yang kurang meyakinkan.

Pada babak kualifikasi Piala Eropa 2016, Pepe dan kawan-kawan tergabung di Grup I bersama dengan Denmark, Serbia, Albania, dan Armenia.

Di atas kertas, Portugal memiliki peluang lolos yang cukup besar. Namun pada laga perdana Grup I menjamu Albania, secara mengejutkan anak asuh Fernando Santos takluk 0-1 dari sang lawan

Untungnya hasil minor tersebut hanya terjadi sekali saja. Pada tujuh laga tersisa, Portugal mampu menyapu bersih tiga angka termasuk membalas kekalahan atas Albania dengan skor serupa.

Negara tetangga Spanyol ini pun melenggang ke putaran final dengan status juara grup via koleksi 21 poin alias berselisih tujuh angka dari Albania yang menempati peringkat kedua.

Meski terlihat mengesankan, kemenangan-kemenangan yang dipetik peringkat tiga Piala Dunia 1966 ini kebanyakan lahir lewat skor tipis dengan selisih gol tidak lebih dari satu.

Portugal menutup babak kualifikasi dengan catatan 11 gol memasukkan dan lima kali kebobolan, serta empat kali mencatatkan nirbobol.

Di putaran final, Seleccao das Quinas masuk ke Grup F untuk bersanding dengan Austria, Islandia, dan Hungaria.

Kembali jika dilihat dari hitung-hitungan, Portugal adalah favorit utama untuk keluar sebagai juara grup.

Akan tetapi, kenyataan di lapangan berkata lain. Mengawali laga pertama melawan tim debutan Islandia, langkah Pepe dan kolega tertahan setelah bermain imbang 1-1.

Sempat unggul lewat Luis Nani di babak pertama, gawang Rui Patricio kebobolan oleh tendangan jarak dekat Birkir Bjarnason.

Beranjak ke laga kedua, para pemain Portugal menemui jalan buntu untuk membobol gawang Austria yang dikawal Robert Almer.

Kesempatan mencetak gol lewat titik putih pun gagal dikonversi menjadi gol oleh sang pemain andalan, Cristiano Ronaldo. Tendangan penaltinya cuma menerpa tiang gawang. Alhasil, kedua tim harus puas dengan skor imbang tanpa gol.

Laga pamungkas Grup F yang menampilkan Portugal kontra Hungaria barangkali menjadi salah satu laga terseru dalam pagelaran Piala Eropa 2016.

Selain banyak gol yang tercipta, proses balas-membalas gol menjadi sajian utama dalam laga menentukan ini.

Hungaria membuka keunggulan lewat Zoltan Gera di menit 19. Kemudian dibalas oleh sepakan Nani pada menit 42 sekaligus menutup babak pertama dengan skor 1-1.

Baru dua menit babak kedua berjalan, Hungaria merestorasi keunggulan via tendangan bebas Balazs Dzsudzsak. Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama setelah Ronaldo menyamakan kedudukan dengan backheel indah di menit 50.

BACA JUGA:  Transformasi Menonton Laga Sepakbola

Dzsudzsak kembali menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Seleccao das Quinas tatkala tendangan kaki kirinya mengoyak jala Rui Patricio untuk kedua kalinya saat laga memasuki menit 55.

Mujur bagi Portugal, tujuh menit berselang Ronaldo mencetak brace melalui sundulan sekaligus menyelamatkan negaranya dari kekalahan. Skor 3-3 bertahan hingga peluit akhir dibunyikan wasit.

Dengan hasil tersebut, Hungaria menempati peringkat pertama dengan lima poin, disusul Islandia dengan poin yang sama tetapi kalah selisih gol.

Sementara Portugal bertengger di urutan ketiga dengan tiga poin hasil dari tiga seri yang didapat dan meninggalkan Austria yang berada di posisi paling bawah dengan satu poin.

Jika format kompetisi masih 16 tim, langkah pasukan Santos sudah terhenti di sini. Namun mengingat Piala Eropa 2016 adalah edisi perdana dengan jumlah peserta 24 tim, perjalanan Portugal masih berlanjut ke fase gugur sebagai perwakilan peringkat ketiga grup terbaik bersama dengan Slovakia, Republik Irlandia, dan Irlandia Utara.

Kendati lolos, mungkin tidak banyak yang memperkirakan Pepe dan kolega mampu melangkah lebih jauh lagi.

Terlebih dengan kehadiran Spanyol, Jerman, Italia, Inggris, Belgia, dan tuan rumah Prancis di babak gugur.

Rasanya berat bagi anak asuh Santos untuk bersaing dengan nama-nama tadi bila mengacu pada hasil di fase grup.

Segalanya terasa kian berat karena di babak perdelapan final, Portugal sudah ditunggu Kroasia yang menjadi juara Grup D.

Walau kurang diunggulkan, Portugal menunjukkan bahwa mereka bukan tim yang gampang untuk ditundukkan.

Setelah menahan imbang tanpa gol armada Vatreni di waktu normal, gol Ricardo Quaresma di menit 117 pada babak perpanjangan waktu menjamin langkah Portugal menuju perempat final.

Pada babak tersebut, Polandia menjadi lawan yang mesti dihadapi. Pasukan Adam Nawalka melangkah ke perempat final setelah menjadi runner up Grup C di bawah Jerman dan sanggup memulangkan Swiss pada fase perdelapan final lewat adu penalti.

Polandia unggul cepat di menit kedua melalui Robert Lewandowski. Seleccao das Quinas kemudian membalas berkat tendangan keras Renato Sanches pada menit 33.

Skor 1-1 tak berubah hingga waktu normal dan babak perpanjangan waktu. Laga kemudian dilanjutkan ke babak adu penalti guna mencari pemenang.

Di babak ini, Polandia tidak berhasil mengulang kesuksesan seperti di laga melawan Swiss. Jakub Blaszczykowski gagal menunaikan tugasnya.

Sementara Quaresma kembali menjadi pemasti langkah Portugal ke semifinal kala menjadi penentu dalam drama tos-tosan yang berkesudahan 5-3.

BACA JUGA:  Darko Pancev: Ular Kobra yang Gagal Meracuni Italia

Menembus semifinal, Pepe dan kawan-kawan berjumpa Wales. The Dragons menjadi tim kuda hitam usai memuncaki gGrup B yang dihuni Inggris.

Mereka pula yang mematahkan harapan Irlandia Utara dan Belgia pada babak perdelapan final dan perempat final.

Ajaib, Portugal justru menggebrak di laga semifinal dengan meraup kemenangan pertamanya di Piala Eropa 2016!

Dua gol yang disumbangkan Ronaldo dan Nani sudah cukup untuk menyudahi perlawanan Gareth Bale beserta kolega. Portugal pun sah menggenggam tiket final!

Bertempat di Stade de France, lawan yang kudu ditaklukkan Portugal di partai puncak adalah tuan rumah Prancis.

Di atas kertas, Portugal kembali tak difavoritkan. Apalagi alasannya kalau bukan status tuan rumah serta performa Les Bleus yang mengagumkan sejak penyisihan grup.

Dalam perjalanannya menembus final, hanya sekali Prancis gagal meraup kemenangan yakni saat ditahan imbang 0-0 oleh Swiss di fase grup.

Selebihnya, skuad yang diarsiteki Didier Deschamps sukses melibas lawan-lawannya, termasuk tim favorit juara, Jerman, di semifinal.

Kengerian laga final makin terasa buat Portugal sebab kapten dan bintang utama mereka, Ronaldo, harus ditarik keluar pada menit 25 akibat cedera.

Kehilangan seorang pemimpin di tengah pertandingan dan bermain di bawah tekanan penonton tuan rumah bikin beban bertambah berat saja bagi anak asuh Santos.

Dihinggapi situasi yang serba tak mengenakkan, tidak serta-merta melemahkan tekad dan semangat para pemain Portugal.

Seleccao das Quinas sanggup menahan imbang Prancis hingga waktu normal usai. Ronaldo juga ikut memberikan instruksi dan motivasi kepada rekan-rekannya dari pinggir lapangan layaknya seorang pelatih.

Akhirnya kerja keras serdadu Portugal membuahkan hasil. Empat menit babak kedua perpanjangan waktu berjalan, tendangan tak terduga Eder melesat mulus ke gawang Hugo Lloris.

Keunggulan satu gol ini bertahan hingga wasit meniup peluit akhir pertandingan dan membuat satu sejarah baru tercipta.

Portugal resmi keluar sebagai pemenang Piala Eropa 2016. Ini adalah trofi Eropa pertama mereka.

Ronaldo berhasil menuntaskan kegagalan di final Piala Eropa 2004 saat keok di hadapan publik sendiri dari negara tak diunggulkan Yunani.

Walau dicibir karena meraih juara dengan cara yang tak kelewat mengagumkan, tetapi gelar tetap didapat Portugal.

Seleccao das Quinas boleh menyejajarkan diri dengan Belanda, Denmark, Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Uni Soviet, dan Yunani sebagai negara yang pernah menjadi raja di Benua Biru.

Kian mengasyikkan, Pepe dan kolega menjadi negara pertama yang melakukan itu dengan modal peringkat ketiga terbaik di fase grup.

Komentar
Harri Rahmad Fadil
Tidak percaya diri dengan tulisan sendiri, penganut aliran britpop yang (belum) taat, pemalas, bungkuk dan suka sekali makan pisang.