PR Stunt dalam Sepak Bola

Tak terlalu lama, pada 22 Juni lalu sebagaimana dilansir oleh Mirror, Carlo Ancelotti mengeluarkan klaim yang cukup menarik namun tak terlalu mengejutkan. Don Carlo, julukan Carlo Ancelotti, mengklaim bahwa dirinya tak diikutsertakan dalam perekrutan Martin Oodergard.

Ini, menurutnya, bisa-bisanya Florentino Perez saja dalam melakukan pr-stunt. Sebuah istilah yang tidak terlalu asing dalam dunia public-relations.

Pr-stunt (atau biasa dikenal juga dengan istilah publicity stunt) merupakan suatu kejadian di mana sebuah brand kemudian mengambil suatu keputusan atau tindakan untuk meraih atensi dari media.

Layaknya sebuah sirkus nan penuh atraksi, hal yang dilakukan haruslah di luar nalar. Penuh kejutan. Sehingga publik (dalam urusan sepak bola fans sepak bola itu sendiri) memiliki kesan saat sebuah klub atau seorang individu sepak bola melakukan sesuatu.

Pr-stunt, sebagaimana namanya, memang melaksanakan tugas public relations yang penuh tipu daya untuk menaikkan citra positif dan harus memiliki nilai berita. Semisal harus berkaitan dengan figur penting, kejadian penting, atau daya tarik lainnya.

Dalam sepak bola, hal ini sungguh tak terlalu asing. Terutama mengingat sepak bola yang telah menjadi industri.

Jika mengingat bahwa tak ada orang yang ingin dicitrakan miring, maka sepak bola dan pr-stunt adalah dua hal yang akrab.

Upaya Ronaldo memeluk Gareth Bale saat Portugal menang atas Wales, adalah wujud Pr-stunt. Ia berusaha merebut simpati dengan bertindak berbeda dengan Ronaldo yang kerap melebih-lebihkan selebrasinya.

Ia berusaha menunjukkan bahwa ia juga menghargai lawannya dengan memeluk Gareth Bale. Ia tahu betul bahwa apa yang ia lakukan akan mendapat atensi dari media, dan tak lama, berita mengenai Ronaldo dengan pesan respect bertebaran dimana-mana.

Atau bagaimana timnas Islandia melakukan Viking clap. Setelah menjadi underdog yang kita cintai, tindakannya memberikan salute terhadap penggemarnya yang sudah rela jauh-jauh datang adalah sikap yang akan membuat decak kagum.

BACA JUGA:  Ismael Bennacer: Mesin di Lini Tengah AC Milan

Tepuk tangan yang mereka berikan jelas akan membuat tim seperti Islandia akan terus dikenang, dan memiliki citra positif di mata kita sebagai penggemar sepak bola.

Itu adalah satu wujud atraksi yang dilakukan untuk meraih decak kagum melalui aksi di lapangan. Saya bisa tambahkan kepindahan Pep ke City demi mencari sebuah tantangan juga sebagai sebuah pr-stunt.

Dan masih banyak lagi sehingga, meski tak ke sana, seluruh dunia bisa tahu sebuah individu atau klub memang sedang melakukan suatu hal yang positif. Dalam urusan hiruk pikuk yang dikenal juga dengan transfer, sesungguhnya mengandung muatan pr-stunt juga rupanya. Meski tentu saja beda pesannya antara apa yang terjadi di dalamnya.

Kita mengenal Zlatan Ibrahimovic dengan arogansi kampanye “I Am Zlatan” miliknya. Membuat kita memuja brand bernama Zlatan dan membuat seluruh isi kehidupannya terasa sungguh sangat menarik.

Mulai dari aksi akrobatik hingga bicara yang sungguh sangat Zlatan sekali – penuh arogansi dan sangat percaya diri. Seakan media tak kehabisan cara untuk membingkainya menjadi sebuah berita.

Dalam titik tertingginya, ia melakukan sebuah stunt yang unik, pindah ke klub Manchester United – yang nasibnya sedang tak baik selama beberapa musim ke belakang.

Meski jelas jenis pemain antara Martin Oodegard yang saya jadikan pengantar tulisan ini dan Zlatan berbeda, namun asas transfer sungguh sama. Ia adalah sebuah atraksi mencari atensi kepada publiknya.

Harapannya, transfer juga menyajikan mimpi-mimpi saat kepindahan. Mimpi-mimpi bahwa manajer telah memiliki tim yang kuat untuk mengarungi musim ini. Suara optimisme fans yang menggambarkan bahwa masa depan dan impian utopis itu – trofi bergelimang, pemain bermental juara, manajer jenius – sudah ada di depan mata mereka.

Bedanya, Martin Oodegard menawarkan ilusi masa depan. Wonderkid macam Oodegard hanya ikut serta dalam – meminjam istilah Eddward S Kennedy dalam bukunya Sepak Bola Seribu Tafsir – mesin simulakra-nya Real Madrid.

BACA JUGA:  Mengapa Kick-off Beberapa Pertandingan Liga Inggris Digelar Malam Hari?

Menjadikan Real Madrid, setelah transfer gemilang dan sangat gilanya kepada Ronaldo, Kaka, hingga Bale, menjadi klub yang dicitrakan memiliki masa kini dan masa depan yang sangat cerah.

Martin Oodegard, yang sebelum kepindahannya ke Real Madrid sangat terpantau oleh media, dibeli. Semua orang percaya bahwa Oodegard akan menjadi penerus kisah-kisah hebat antara seteru Ronaldo-Messi dengan menyandengkannya dengan wonderkid yang dirasa punya kisah serupa di Barcelona, Alen Hallilovic.

Mengenai kesempatan keduanya, saya skeptis. Mengingat bahkan alumni akademi kedua klub sulit bersaing di klub mereka sendiri.

Sementara Zlatan menawarkan masa kini. Ia menawarkan bahwa Manchester United musim ini akan sangat berbeda. Kedatangannya jelas membuat Premier League dan Manchester United kian menarik.

Dengan adanya Mourinho, dan fans United, Zlatan akan melengkapi kepingan tim ini untuk menjadi definisi sesungguhnya Setan Merah: tim yang menyebalkan bagi tim lawan. Not arrogant, just better.

Itu adalah sekelumit kisah bagaimana pr-stunt terjadi dalam sepak bola. Apakah pr-stunt demi sebuah pencitraan buruk?

Jika Anda menilai buruk, tentu saja, itu karena tak adanya keselarasan antara perilaku manusia dan apa yang selama ini tercitrakan dalam benak Anda. Karena sepatutnya, pr-stunt terkesan natural: bertindak karena diperlukan dan sesuai dengan bagaimana karakter sebuah brand – individu atau klub – yang sudah kita kenal semuanya.

Karena jelas, dalam dunia sepak bola yang penuh atraksi ini, menjual janji dan memberikan decak kagum adalah sesuatu hal yang pasti dilakukan. Untuk apa? Selain menjaga industri ini agar tak menjadi membosankan, juga untuk lebih unggul dari serigala lainnya.

Ingatlah apa kata Thomas Hobbes, homo homonilupus – manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

 

Komentar