Premier League Memanas!

waterbreak
Waterbreak para pemain Liverpool. (mirror.co.uk)

Premier League memanas! Pekan kedua Liga Inggris 2022/2023 berlangsung lebih panas dari biasanya. Bukan karena perseteruan antara Thomas Tuchel dan Antonio Conte, kartu merah Darwin Nunez, atau kursi kepelatihan Erik Ten Hag, namun memanas dalam arti harfiah.

Dampak perubahan iklim sangat terasa di pertandingan Premier League. Pada pekan kedua, rata-rata pertandingan mencapai suhu lebih dari 33 derajat celcius.

Suhu tertinggi mencapai 34 derajat celcius mewarnai laga Brentford versus Manchester United di Gtech Community Stadium di barat daya Inggris. Sementara 70 mil ke utara, tepatnya di Falmer Stadium di mana Brighton & Hove Albion bertanding kontra Newcastle United, temperatur berada di 5 angka lebih rendah pada 29 derajat celcius.

Kenaikan suhu di musim panas secara signifikan mempengaruhi performa dan kesehatan para pemain. Suhu yang tinggi berpotensi menyebabkan dehidrasi dan kesulitan untuk melakukan pemulihan pasca laga.

Untuk itu, Premier League menetapkan kebijakan water break mulai pekan kedua yang dilakukan ketika laga menginjak menit ke-30 dalam setiap babak.Sebuah aturan yang pada 2020 lalu dikritisi oleh Pep Guardiola dan David Moyes.

Menurut kedua pelatih tersebut, water break seringkali dimanfaatkan oleh tim untuk memberikan instruksi tambahan atau perubahan taktik daripada fokus menggunakan waktu tiga menit jeda itu untuk mengatasi haus dan kelelahan pemain akibat cuaca panas.

Pandangan yang diungkapkan Pep maupun Moyes memang benar adanya. Seperti yang terlihat saat Thomas Frank membawa papan strategi dan mengumpulkan para pemainnya untuk memberikan instruksi di tengah sesi water break. Water break sendiri bukan aturan baru di sepakbola.

Aturan tersebut pertama kali diterapkan saat Piala Dunia 2014 di Brasil untuk mengantisipasi dampak cuaca panas yang ada di Negeri Samba tersebut. Sejarah water break pertama di sepakbola terjadi saat laga Amerika Serikat kontra Portugal di mana laga dihentikan pada menit ke-39 untuk istirahat minum.

BACA JUGA:  Warna Baru Manchester City Bersama Pep Guardiola

Umumnya, water break dilakukan ketika suhu saat pertandingan mencapai lebih dari 32 derajat celcius, sementara di Premier League musim ini ditetapkan minimal suhu 30 derajat celcius. Selain dampak kepada para pemain, cuaca panas di Premier League juga berpengaruh terhadap aspek lain seperti lapangan.

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp mengeluh lapangan yang sangat kering sehingga mengganggu permainan timnya saat bertandang ke Craven Cottage, markas Fulham pada pekan perdana Premier League. Faktor kelelahan juga menjadi perhatian utama staf kebugaran atau pelatih fisik di tim-tim sepakbola.

Contoh terbaru, seorang dokter spesialis sports science asal Los Angeles mengkritik kebijakan Erik Ten Hag yang membatalkan libur dan justru memaksa pemainnya berlari sejauh 13.8 km di tengah cuaca panas Inggris.

Dr. Rajpal Brar menilai Ten Hag mengambil langkah berbahaya sebab aktivitas itu beresiko membuat pemainnya cedera karena proses recovery yang tidak lancar. Dilansir dari The Athletic, sejumlah tim juga rutin melakukan pengawasan terhadap level hidrasi para pemain ketika sebelum, saat, dan sesudah laga untuk memantau kadar elektrolit dalam tubuh para pemain.

Thomas Tuchel usai laga melawan Spurs juga mengeluhkan kondisi panas ini. Ia menilai sepakbola sebaiknya segera menginisiasi kampanye untuk melawan perubahan iklim dan bisa menciptakan pengaruh bagi para penggemar yang jumlahnya sangat besar.

Klub Premier League juga tak lepas dari kritik sebab lebih sering menggunakan perjalanan udara untuk menempuh jarak pendek dengan pesawat terbang daripada perjalanan darat, di mana pesawat adalah salah satu transportasi yang mengeluarkan emisi paling banyak di antara pilihan kendaraan lainnya.

Menurutmu, langkah apa yang bisa dilakukan sepakbola untuk melawan perubahan iklim?

Komentar