Puja-Puji untuk Cahya Supriadi

cahya supriadi

Ada yang bersinar saat laga Indonesia kontra Thailand dalam pertandingan ke-3 Piala AFF U-19 2022. Sinar itu datang dari Cahya Supriadi, kiper Garuda Muda yang mampu menahan gempuran pasukan Gajah Putih sepanjang laga.

Total lima penyelamatan penting dilakukan oleh Cahya sepanjang laga kontra Thailand. Termasuk satu momen krusial di menit 74 saat ia menepis tembakan Seksan Ratree dalam posisi satu lawan satu. Hasil nirbobol kemudian membuat kiper bertinggi badan 179 cm itu dinobatkan sebagai man of the match laga tersebut.

Tanpa menihilkan peran penggawa timnas lainnya, Cahya memang tampil gemilang bak pahlawan. Kala rekan-rekannya terlihat lelah dan hilang konsentrasi, komandonya terus berjalan kencang hingga peluit panjang berbunyi. Sambil berjibaku dengan tangan dan kakinya, kiper muda Persija Jakarta itu terus menegur rekan setimnya agar tak hilang fokus dan berhenti melakukan kesalahan fatal.

Berangkat dari Karawang, Cahya akhirnya mampu mewujudkan mimpi membela Timnas Indonesia. Impiannya memang sempat tertunda saat Indonesia gagal mentas di Piala AFF U-23 awal tahun 2022 gara-gara kondisi COVID-19 yang menerpa penggawa timnas saat itu.

Jika ditelusuri, bakatnya sebagai penjaga gawang terbentuk karena Cahya tumbuh bersama sepakbola. Sejak umur 7 tahun, bocah asal Karawang itu sudah menggeluti si kulit bulat di level SSB, tepatnya di SSB Tunas Pupuk Kujang. Kisahnya berlanjut setelah memutuskan merantau ke ibukota dan bergabung dengan tim Blue Eagle Jakarta. Cahya kemudian mengikuti sederet turnamen usia muda, termasuk saat dirinya berlaga di Liga Topskor bersama Ragunan Soccer School pada 2016.

Tak butuh waktu lama, bakatnya langsung terendus oleh Macan Kemayoran. Kariernya berjalan cukup mulus saat bergabung dengan tim muda Persija U-16, kemudian menembus skuad Persija U-18, dan kini sebagai pelapis Andritany di skuad senior. Saat mengawal gawang Persija U-16, Cahya bahkan sempat menarik perhatian berkat gol tendangan bebasnya. Strategi aneh pelatih yang saat itu mengganti posisi Cahya sebagai penyerang di penghujung babak kedua berbuah manis ketika dirinya sukses menjebloskan bola ke gawang tim muda Persikabo 1973.

BACA JUGA:  Jejak yang Coba Diikuti Andritany

Puja-puji melekat untuk Cahya tak hanya saat laga kontra Thailand saja. Sebelumnya, di turnamen Toulon Cup 2022, penampilan gemilangnya menyita perhatian saat menahan serangan bertubi-tubi dari tim Venezuela U-21. Berkat itu ia kembali dipanggil Coach Shin Tae-yong untuk menggantikan peran Ernando, kiper Timnas U-19 sebelumnya.

Cahya memang tak terlalu tinggi. Namun atributnya sebagai penjaga gawang patut diperhitungkan. Ia tak sekadar beruntung tiba-tiba mampu menghalau bola yang datang ke gawang. Kekuatannya adalah pada penempatan posisi. Cahya cukup cerdas membaca serangan lawan. Ia tak sungkan maju menyambar atau sabar menunggu lawan melepaskan tembakan. Dengan itu, ia seolah-olah beruntung ketika lawan mengarahkan bola kepadanya. Padahal, penyelamatan itu adalah hasil kerja kerasnya sejak tumbuh dari Karawang bersama sepakbola.

 

Komentar