Rangnick dan Siklus dalam Sepakbola

Nama lelaki asal Jerman, Ralf Rangnick, akhirnya didapuk manajemen Manchester United sebagai pelatih interim sampai akhir musim 2021/2022.

Sosok berkacamata itu lantas akan berperan sebagai konsultan bagi The Red Devils selama dua tahun.

Kedatangan Rangnick memang gampang diduga. Pasalnya, kiprah United bersama Ole Gunnar Solskjaer belakangan ini sungguh memilukan.

Fans United mana yang tidak patah hati melihat tim kesayangannya dipermalukan 2-0 oleh sang rival sekota, Manchester City, dalam laga Derbi Manchester (6/11)?

Kian pahit, kekalahan itu diderita di kandang sendiri, Stadion Old Trafford. Pada tempat yang sama, rival United yang lain, Liverpool, sebelumnya juga berpesta dengan kemenangan telak 5-0 (24/10).

Kesabaran manajemen betul-betul habis setelah United dibantai tim papan bawah, Watford, dengan skor telak 4-1 (20/11).

Catatan-catatan negatif itu membuat kepulangan Cristiano Ronaldo tak terasa. Bahkan ada yang menganggapnya cuma gimmick semata.

Bobroknya performa The Red Devils bikin lini masa media sosial saya dipenuhi ledekan dari teman-teman.

Teman saya yang seorang fans Liverpool kini tampak begitu gembira melihat United dan saya terkungkung dalam penderitaan.

Bahkan teman saya yang menjadi penggemar Arsenal juga penuh semangat melontarkan olok-olok.

Apa boleh buat, semua memang harus saya terima dengan lapang dada. United memang medioker. Mereka sedang asik menari di atas kegoblokannya!

Kejadian ini mirip sekali dengan tahun 1987. Saat itu, Sir Alex Ferguson yang baru saja menukangi United diminta pergi.

Minimnya peningkatan performa dari The Red Devils bikin Ferguson dikecam fans, ditekan manajemen, dan dirisak media.

Meski punya skuad yang cukup berkelas, United pada era awal Ferguson melatih dihuni pemain-pemain yang hobi minum alkohol dan malas berlatih. Akibatnya, performa mereka di lapangan begitu semenjana.

BACA JUGA:  Pembuktian Miguel Almiron

Apakah Ferguson saat itu menyerah dengan keadaan? Tidak! Secara perlahan, ia mampu mengubah kebiasaan buruk tersebut dengan menanamkan disiplin ketat bagi seisi skuad.

Singkat cerita, setelah tiga musim menakhodai United, barulah Ferguson bisa mempersembahkan gelar pertama. Dalam laga final Piala FA 1989/1990, The Red Devils memecundangi Crystal Palace.

Tekanan manajemen berhasil dijawab Ferguson. Kesuksesan itu menjadi penanda awal panjangnya era kepelatihan lelaki Skotlandia itu di Old Trafford.

Ya, sisanya kemudian menjadi sejarah yang penuh kegemilangan untuk United. Bersama Ferguson selama 26 tahun, ada 38 gelar prestisius yang mampu direngkuh.

Status kesebelasan terbaik di Inggris pun didapat oleh United pada rezim Ferguson. Sungguh periode yang indah.

Tak heran jika pada masa itu, suporter United jumlahnya naik drastis. Mereka menjadi magnet luar biasa bagi para penggemar sepakbola. Mirip dengan kedigdayaan AC Milan dan Real Madrid.

Penghakiman kepada Ole mungkin kelewat kejam. Toh, masanya menjabat sebagai kepala pelatih United juga belum terlalu lama.

Berbeda zaman, tentu berbeda pula segalanya. Ferguson beruntung bahwa manajemen United punya sikap yang lebih sabar kepadanya daripada manajemen United era Ole.

Melihat proses yang dijalani lelaki Norwegia tersebut, rasa-rasanya United sudah berjalan ke arah yang tepat.

Nahas, ada terlalu banyak inkonsistensi yang terlihat dari The Red Devils asuhan Ole. Ditambah dengan karakter fans yang berubah karena terbiasa dimanja gelar oleh Ferguson, bikin Ole seringkali ditimpa kritikan dan diminta lekas angkat kaki.

Satu yang saya yakini bahwa sepakbola memiliki siklus. Siklus apa? Ya, siklus buat sukses maupun terpuruk.

Sebelum memperoleh gelar juara Liga Inggris pada tahun 1992 di bawah kendali Ferguson, terakhir kali United mengangkat trofi tersebut adalah tahun 1966. Bisa dihitung berapa lama waktu untuk meraihnya kembali?

BACA JUGA:  Membumilah Interisti

Pada era modern seperti sekarang, Liverpool juga butuh waktu tiga dekade untuk mengangkat trofi juara Liga Inggris.

Saya menerima, saat ini adalah era kejayaan Liverpool dengan Jurgen Klopp dengan Mohamed Salah atau Pep Guardiola bersama Kyle Walker di Manchester City.

Semua memang ada masanya. Mungkin, episode gelar demi gelar memang mustahil didapat United bersama Ole.

Dan mungkin saja, kisah itu justru bisa dimulai kembali dengan hadirnya Rangnick. Bicara rekam jejak, prestasi sosok yang satu ini memang tidak mentereng.

Akan tetapi, Rangnick diakui sebagai salah satu visioner di kancah sepakbola. Lelaki yang memiliki kemampuan untuk membangun sebuah fondasi kekuatan, suatu hal yang diidam-idamkan United.

Ekspektasi terhadap Rangnick boleh saja meninggi. Namun fans harus ingat bahwa ia datang bukan untuk melakukan atraksi sulap. Rangnick datang buat membangun ulang kekuatan tim yang selama ini bolong di sana-sini.

Semuanya hanya perkara waktu untuk melihat The Red Devils berjaya kembali. Sama seperti yang terlihat belakangan ini dari Liverpool.

Ini adalah momen yang baik bagi manajemen untuk mengintrospeksi diri mereka sehingga tak bodoh dalam membuat keputusan.

Di sisi lain, fans juga bisa belajar lebih banyak tentang rasanya berjuang dari nol sehingga tak lagi manja seperti dulu.

United coba memulai siklus baru bersama Rangnick. Sebuah siklus yang entah berbuah besok, lusa, seminggu ke depan atau bahkan 30 tahun lagi.

Pokoknya usaha saja dulu buat berbenah. Jangan kelewat betah menjadi klub medioker.

Komentar
Penggemar sepakbola yang kini bekerja di salah satu Rumah Sakit di kota Bandung. Bisa disapa di akun Twitter @Wisnu93