Turnamen Tak Menyelesaikan Semua Masalah

Sudah dua turnamen berskala nasional yang digelar sepanjang 2015. Piala Kemerdekaan dan Piala Presiden menjadi semacam selingan selepas liga sepak bola Indonesia terpaksa dibubarkan.

Turnamen selingan lain, Piala Jenderal Sudirman (PJS), bahkan tengah berlangsung. Belum lagi fenomena tarkam yang kembali ramai menghiasi persepakbolaan sejak pembekuan dilakukan.

Segala upaya telah dilakukan untuk tetap menghidupkan sepak bola. Sayangnya, belum ada tanda-tanda liga akan kembali bergulir. Entah sudah sejauh mana Kemenpora dan PSSI berusaha untuk betul-betul damai. Entah sampai mana pula upaya negosiasi kepada FIFA soal sanksi bagi sepak bola Indonesia.

Satu hal yang pasti, sepak bola Indonesia membutuhkan liga yang sehat. Dan sebaiknya itu lekas diselenggarakan.

Sepak bola bagi sebagian orang adalah pekerjaan utama mereka. Lewat sebuah percakapan yang cukup panjang dengan Tony Sucipto, bek Persib Bandung, ia mengaku kalau sepak bola bukan lagi sekadar hobi bagi para pemain.

”Sepak bola sudah menjadi pekerjaan kami,” katanya tegas.

Belum lagi mereka yang berada di pusaran itu juga ikut menyambung hidup dari sepak bola. Banyak orang marah-marah karena sepak bola telah direnggut dari mereka.

Seperti penjual kaus bola, mengalami penurunan omzet yang drastis. Kaus tidak selaku dulu saat liga berjalan. Mereka mengeluh dan berharap supaya liga kembali bergulir. Bahkan ini belum bicara soal manajemen klub, keuangan, sponsor, dan segala tetek bengeknya yang juga ikut terganggu.

Persib yang disebut-sebut sebagai klub paling sehat secara finansial di Indonesia saja mengalami banyak masalah di tengah ketidakjelasan masa depan sepak bola nasional.

Sebelum PJS digelar November ini, beberapa punggawa Maung Bandung mengaku merasa keberatan tak disodorkan kontrak. Manajemen pun terlihat enggan memberikan kontrak jangka panjang lantaran tidak ada kejelasan liga.

BACA JUGA:  Saatnya Berburu Gelar Liga Champions dan Liga Europa

Manajemen hanya bersedia membayar pemain per pertandingan. Padahal bayaran itu sedikitnya mengkhawatirkan pemain karena tidak ada jaminan kejelasan, seperti jika pemain mengalami cedera.

Persib memang cepat tanggap, setelah itu manajemen menyodorkan kontrak setidaknya untuk tiga bulan. Mereka juga bekerja sama dengan asuransi demi melindungi para pemainnya.

Belum lagi mereka memanggil lagi fisioterapis Sigit Pramoedya kembali ke tim. Setidaknya dengan ini mereka bisa sedikit tenang soal cedera.

Hanya saja ada kendala tidak jauh dari itu, Vladimir Vujovic terlanjur pulang ke negara asalnya. Batu Balkan andalan lini belakang Persib itu merasa enggan bermain tanpa kontrak jangka panjang dan liga yang tidak jelas.

Sampai akhirnya Persib harus mencari pengganti dirinya. Manajemen sempat melabuhkan pilihan pada Fabiano Beltrame dan OK Jhon, tapi negosiasi berujung gagal. Untungnya, sebelum benar-benar melakoni PJS, Persib menemukan pengganti Vlado, David Pagbe.

Persib memboyong Pagbe dari Persela Lamongan. Pemain berusia 37 tahun itu sempat dianggap pembelian panik manajemen Persib, tapi mereka menampiknya. Djadjang Nurdjaman mengaku kalau Pagbe adalah pemain yang cukup bagus menggantikan Vlado.

Sayang, pembuktian itu belum terlihat jelas. Lini tengah Persib cukup kacau di pertandingan kedua mereka di PJS. Sampai akhirnya mereka harus menelan kekalahan 1-0 dari Surabaya United.

Lalu kasus Makan Konate yang dikabarkan akan hengkang selepas babak grup PJS usai. Walau mengaku senang berada di Persib, agennya ingin ia bermain di negara tetangga karena bermain di Indonesia tidak menjamin kariernya.

Jika klub yang dijadikan model klub profesional saja mengalami berbagai permasalahan itu, tentunya klub lain menderita permasalahan serupa. Manajemen tidak sepenuhnya bisa dipersalahkan karena kerja mereka menjadi terbatas karena berbagai ketidakjelasan pengelolaan sepak bola nasional.

BACA JUGA:  Utak-Atik Statistik dan Prediksi Persib Bandung di Piala AFC 2015

Sementara itu jika beranggapan bahwa menggelar turnamen bisa menyelesaikan semua masalah sepak bola nasional, jelas itu argumen yang salah. Carut marut sepak bola Indonesia tidak akan begitu saja sembuh karenanya.

Durasi turnamen yang sebentar tidak menjamin kestabilan pada industri sepak bola. Turnamen hanya membuat orang-orang lupa sejenak pada masalah-masalah yang seharusnya kelihatan jelas.

Bila dianalogikan, turnamen hanya obat bius yang membuat orang-orang kebal dari sakit yang sebenarnya. Sampai akhirnya satu per satu sadar ada luka yang menganga.

 

Komentar
Mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Tergabung dalam pers mahasiswa dJATINANGOR.