Raphael Varane, Obat yang Dibutuhkan Manchester United

Dalam bahasa Peancis, Raphael memiliki arti “Tuhan yang Menyembuhkan”. Bila kita membicarakan itu dan berhenti pada sosok Raphael Varane, tampaknya ia mengemban nama tersebut dengan sangat baik.

Di Real Madrid sendiri, masalah terbesar mereka sejak awal abad ini adalah posisi bek tengah yang selalu jadi momok besar.

Sejak Fernando Hierro meninggalkan pos tersebut, Florentino Perez amat sibuk mencari penggantinya.

Beberapa pemain akademi semisal Raul Bravo dan Alvaro Mejia pernah dicoba. Hasilnya? Jauh dari kata memuaskan.

Lalu ada pula rekrutan dengan banderol mahal seperti Fabio Cannavaro, Gabriel Heinze, Christoph Metzelder, Walter Samuel, dan Jonathan Woodgate yang tak begitu sukses kala memakai seragam Los Blancos.

Sampai akhirnya, sang presiden menemukan Pepe dan Sergio Ramos. Keduanya lalu menjadi palang pintu andalan selama beberapa musim.

Akan tetapi, Madrid ingin jaminan lebih. Sesuatu yang bisa membuat mereka aman di masa depan.

Di tengah situasi demikian, Zinedine Zidane yang menjabat sebagai Direktur Olahraga medio 2011 silam, merekomendasikan seorang bek berusia 18 tahun milik Lille OSC yang bermain untuk Racing Lens. Dialah Varane.

Varane sendiri diproyeksikan sebagai bek tengah masa depan Prancis, meneruskan jejak Laurent Blanc dan Marcell Desailly.

Tak cuma Madrid, Manchester United yang ketika itu dilatih Sir Alex Ferguson pun sudah memantau perkembangan Varane. Sang pelatih punya keinginan untuk memboyong sang bek muda ke Stadion Old Trafford.

Namun asa tersebut jauh dari kenyataan sebab Madrid lebih dahulu mengucurkan dana masif untuk mengamankan jasa Varane.

Pada musim pertamanya di Ligue 1, pemain kelahiran Martinique itu bermain dengan cukup impresif. Varane turun di 23 pertandingn dan mencetak 2 gol.

BACA JUGA:  Prediksi Atalanta vs Manchester United: Jadwal Liga Champions Live Streaming

Sayangnya, Varane gagal membantu Lens lolos dari jeratan relegasi pada pengujung musim.

Di balik transfer-transfer sukses Madrid pada dekade lalu seperti Toni Kroos dan Luka Modric, Varane bisa dibilang sebagai salah satu yang terbaik pula.

Keberhasilan Los Blancos mengamankannya dari The Red Devils memang layak dipuji. Sang pemain lantas melesat menjadi pilar yang membantu Madrid memanen beraneka trofi dalam satu dekade terakhir.

Ada ekspektasi yang bersemayam di pundak Varane sebagai bek tengah. Bersama Pepe dam Ramos, ia menjadi benteng kukuh di lini belakang sehingga mempermudah pekerjaan para penjaga gawang.

Banyak yang menyebut bahwa Varane bisa menjadi penerus Hierro. Sementara Zidane dan Jose Mourinho yang sempat melatih Madrid pada awal 2010-an merasa sang bek jangkung dapat melebihi pencapaian Blanc.

Tiga musim pertamanya di ibu kota Spanyol memang tak mudah. Ia mesti rela menjadi pelapis Pepe dan Ramos.

Semuanya berubah pada musim keempat. Kepercayaan yang didapatnya kian menjulang dan itu terus berlanjut sampai musim pamungkasnya bermain di sana.

Total, Varane bermain di lebih dari 300 pertandingan lintas ajang bersama Madrid serta merengkuh 18 gelar prestisius.

Tak hanya berkilau di Madrid, Varane juga bersinar di tim nasional Prancis. Ia menjadi pilihan utama di sektor pertahanan sejak Piala Dunia 2014.

Presensinya berlanjut di Piala Dunia 2018 dan dan Piala Eropa 2020. Varane tak dapat mentas di Piala Eropa 2016 akibat cedera yang mengganggunya.

Dari tiga turnamen itu, Varane mencicipi manisnya gelar juara di Piala Dunia 2018. Duetnya bersama Samuel Umtiti jadi kunci ketangguhan Les Bleus.

Tahun 2018 bisa dibilang adalah momen tersukses untuk Varane. Ia berhasil menjadi pemain keempat yang mengawinkan gelar Liga Champions dan Piala Dunia setelah Christian Karembeu, Roberto Carlos, dan Sami Khedira.

BACA JUGA:  Berburu Sosok Nekat dan Nerimo Pengganti Conte

Varane juga didapuk sebagai salah satu pemain terbaik di Team of The Year versi UEFA, FIFPro, IFFHS dan dianugerahi status Knight of The Legion of Honour, sebuah gelar dari pemerintah Prancis.

Kini, Varane siap memulai petualangan baru dalam karier sepakbolanya. Ia resmi hijrah dari Madrid ke United.

Sekilas, ada persamaan antara kepindahan Varane dari Lille ke Madrid dan dari Madrid ke United. Klub yang merekrutnya sedang butuh penguatan di lini belakang.

Selama beberapa musim terakhir, United mengandalkan Eric Bailly, Victor Lindelof, dan Harry Maguire sebagai bek tengah andalan.

Akan tetapi, performa mereka masih inkonsisten sehingga Ole Gunnar Solskjaer merasa butuh amunisi anyar supaya dapat bersaing dengan Chelsea, Liverpool, dan Manchester City di tanah Britania serta klub-klub mapan Eropa lain pada pentas regional.

Kehadirannya diharapkan bisa menjadi obat dari kurang tangguhnya jantung pertahanan United.

Mengingat kapabilitas dan pengalamannya, wajar bila harapan fans United makin beranak-pinak. Siapa tahu, Varane kelak bisa membawa The Red Devils kembali ke era kejayaan mereka.

Menuai sukses di kancah domestik maupun menikmati sampanye seperti momen-momen bahagia di Barcelona dan Moskow.

Welcome to Manchester, Varane.

Komentar
Rafli Arafat Zulkifli
Mahasiswa penggemar sepakbola yang berasal dari Tangerang Selatan.