Misi Mengembalikan Kejayaan Barcelona

Sekitar satu setengah dekade silam, Barcelona menjelma sebagai kesebelasan yang sangat sulit ditaklukkan dan gemar memanen prestasi. Diasuh Pep Guardiola, setidaknya ada empat belas titel yang dibawa pulang ke Stadion Camp Nou.

Mulai dari tiga gelar La Liga Spanyol, sepasang Copa del Rey, tiga Piala Super Spanyol, dan masing-masing dua trofi Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Kedigdayaan itu melambungkan Blaugrana sebagai tim yang digemari banyak orang. Terlebih pencapaian itu mereka raih dengan gaya permainan menyerang yang memanjakan mata.

Setelah ditinggalkan Pep, sapaan akrab Guardiola, Barcelona memang mengalami sedikit penurunan ketika dibesut oleh Tito Vilanova dan Gerardo Martino.

Namun hal itu berlangsung singkat sebab pelatih berikutnya, Luis Enrique, kembali mengantar kesebelasan yang berdiri tahun 1899 ini merajai tanah Spanyol, Eropa serta dunia.

Walau belum sampai menyamai rekor enam trofi dalam semusim yang diukir pada era Pep, Barcelona era Enrique sanggup menyegel sembilan trofi. Di antaranya adalah dua gelar La Liga Spanyol, tiga Copa del Rey, serta masing-masing sebiji Piala Super Spanyol, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Runtuhnya Masa Kejayaan

Usai melalui dua periode emas tersebut, degradasi performa mulai diperlihatkan oleh Barcelona, utamanya di level Eropa. Setelah menjuarai Liga Champions pada musim 2014/2015, mereka senantiasa gagal menembus semifinal kejuaraan antarklub paling prestisius di Benua Biru tersebut.

Cara tumbang Blaugrana bahkan cukup memalukan, misalnya saja terkena remontada AS Roma dan Liverpool serta digunduli Bayern Munchen.

Sementara di kancah domestik, Lionel Messi dan kawan-kawan pernah bermuram durja saat dipecundangi Valencia ada laga final Copa del Rey 2018/2019, gagal memenangkan kompetisi liga musim 2019/2020 akibat dipermalukan Osasuna pada jornada ke-37 di Stadion Camp Nou serta digasak Athletic Bilbao pada final Piala Super Spanyol 2020/2021.

Momen tak mengenakkan itu sendiri diwarnai dengan problem pelik yang membelit manajemen. Mulai dari utang yang menumpuk sampai keputusan-keputusan buruk yang dibuat sang presiden klub, Josep Maria Bartomeu. Sang presiden sendiri akhirnya mundur dari jabatannya per Oktober 2020 silam.

Mencetak Bintang atau Membelinya

BACA JUGA:  Polemik Mauro Icardi dan Curva Nord

Pada musim perdananya melatih Barcelona, Pep membuat sejumlah keputusan krusial. Nama-nama bintang semisal Deco, Ronaldinho serta Zlatan Ibrahimovic dan Yaya Toure (di musim keduanya menangani klub) dianggap sebagai surplus di tubuh skuad dan wajib dilepas.

Alih-alih membeli bintang lainnya, Pep justru mempromosikan beberapa jebolan akademi La Masia seperti Sergio Busquets dan Pedro Rodriguez. Saya sendiri masih ingat bahwa di final Liga Champions 2010/2011, ada tujuh alumnus La Masia yang bercokol di starting eleven.

Bukan tanpa alasan Pep mempercayai produk akademi. Busquets adalah metronom yang jenius dan bisa menjadi dinamo permainan di sektor tengah mendampingi Andres Iniesta dan Xavi Hernandez.

Sedangkan Pedro dapat diandalkan sebagai tandem dari Messi dan David Villa di lini serang. Kehilangan Thierry Henry dan Samuel Eto’o pun tak perlu ditangisi.

Berbeda dengan Pep yang berani mencoret nama besar untuk mengorbitkan pemain-pemain muda La Masia, pendekatan Enrique sedikit lebih konservatif.

Ia mengandalkan pemain-pemain warisan Pep serta menambah beberapa amunisi lewat transfer seperti Ivan Rakitic dan Luis Suarez.

Rakitic jadi tulang punggung di sektor tengah menggantikan Xavi yang minggat ke Qatar. Bersama Busquets dan Iniesta, gelandang Kroasia itu membentuk trio yang solid.

Sementara Suarez yang dibeli dengan cukup mahal dari Liverpool, menjadi juru gedor anyar di sektor depan buat menemani Messi dan Neymar.

Trio ini lantas disebut sebagai MSN (berasal dari huruf depan nama ketiganya). Siapapun tahu, mereka moncer dengan mengukir ratusan gol dalam rentang beberapa musim saja dan menjadi faktor penting raihan Treble di musim 2014/2015.

Setelah ditinggalkan Enrique, Blaugrana malah sering melakukan blunder di bursa transfer. Ratusan juta Euro mereka gelontorkan demi merekrut Philippe Coutinho, Ousmane Dembele, dan Antoine Griezmann, tetapi performa mereka jauh dari kata memuaskan.

Di sisi lain, tim juga kian jarang mengorbitkan pemain muda lulusan La Masia. Entah karena sumber daya yang berkurang atau memang kualitas pemain akademi yang tidak sesuai dengan standar klub.

Secara prestasi, mereka masih sanggup menggondol dua gelar La Liga Spanyol, dan masing-masing satu Copa del Rey dan Piala Super Spanyol kala dinakhodai Ernesto Valverde. Namun raihan itu sangat jauh dari ambisi serta ekspektasi klub.

BACA JUGA:  Sir Bobby Robson dan Ipswich Town

Statistik Pep (2008/09) vs Enrique (2014/15)

Musim 2008/2009 dan 2014/2015 adalah periode di mana Barcelona berhasil mencatat Treble. Mengacu pada data yang disusun Pandit Football, Barcelona era Enrique lebih unggul dibanding Barcelona era Pep terkait persentase kemenangan. 83,3o persen berbanding 67,7 persen.

Jumlah gol yang dibukukan dalam satu musim pun masih lebih baik era Enrique yang membukukan 175 gol. Sementara era Pep ‘cuma’ bikin 158 gol. Dari sisi kemasukan gol, lagi-lagi Barcelona-nya Pep inferior di hadapan Barcelona-nya Enrique (55 gol kemasukan berbanding 38 gol kemasukan).

Walau sama-sama agresi dan menampilkan sepakbola menyerang, ada sedikit perbedaan dari kedua era ini sehingga Blaugrana era Enrique lebih memiliki pertahanan lebih kokoh.

Pasalnya, gaya main mereka sesekali lebih pragmatis guna menyesuaikan diri dengan lawan. Hal ini tentu jarang ditampilkan Blaugrana era Pep.

Membangkitkan Raksasa Catalan

Kala dibesut Valverde, lalu Quique Setien, dan kini Ronald Koeman, ada perubahan nyata dari Barcelona yang membuat mereka tak segahar dahulu.

Namun khusus nama terakhir, di mana periode melatihnya masih berlangsung, tersimpan peluang untuk mengembalikan kedigdayaan klub seperti dahulu.

Bedanya, Koeman harus berpikir keras dan mencari tumpuan baru mengingat Messi kian menua dan kontraknya sendiri akan segera habis di Stadion Camp Nou. Pun dengan Jordi Alba, Busquets, dan Gerard Pique, para pilar yang usianya sekarang sudah mencapai kepala tiga.

Dembele (asal tak cedera terus) Sergino Dest, Frenkie de Jong, dan Griezmann bisa diapungkan sebagai andalan buat menyongsong masa depan. Selain mereka, Koeman juga masih punya sejumlah anak muda penuh ambisi dalam diri Ansu Fati dan Riqui Puig.

Masa transisi yang tengah dijalani Koeman takkan berlangsung mudah. Namun dengan pendekatan yang tepat serta dukungan manajemen dan fans, misi membangkitkan kejayaan Barcelona bukanlah kemustahilan.

Selagi sepakbola tak eksak layaknya matematika, selama itu pula kans untuk bangkit dari keterpurukan senantiasa terbuka. Entah di era Koeman sekarang atau di era pelatih-pelatih selanjutnya.

Komentar
Akbar Maulana Al Ishaqi
Penggemar Barcelona yang paling sabar. Alumni perikanan tapi bercita-cita jadi wartawan. Bisa disapa di akun twitter @Alishaqiakbar.