Review Buku Melampaui Peluit Panjang

Melampaui Peluit Panjang (fandom.id)
Melampaui Peluit Panjang (fandom.id)

Buku berjudul Melampaui Peluit Panjang karya Ade Saktiawan sangat apik dalam mengemas kisah perjalan kiprah PSM Makassar di Liga Indonesia. Ade mampu menuliskan kisah-kisah unik baik di dalam maupun luar lapangan klub berjuluk Juku Eja tersebut dengan segar dan bahasa yang renyah. 

Ade mencoba membedah perjalanan PSM Makassar dari beragam topik. Mulai dari sejarah, fakta unik, pengalaman pribadi, hingga keluh kesah sebagai fan terhadap tim yang diidolai dengan begitu detail dan penuh rasa cinta. Ade seolah menyerukan bahwa banyak hal menarik dalam sepakbola yang bisa digali, diceritakan, atau dilihat setelah peluit panjang itu dibunyikan.

Sebagai penikmat sepakbola Indonesia di medio 2005 ke atas, saya punya interest tersendiri dengan PSM Makassar. Pasalnya dulu saya mengenal klub ini karena gaya mainnya yang sangat khas dan sebagai gudang pemain lokal maupun asing yang berkualitas. Namun karena membaca buku ini mampu memperlihatkan kepada saya sisi pandang dengan begitu luas terkait PSM Makassar yang tidak banyak saya tahu.

Bagian menarik

Dari 17 bab di buku ini, bab terfavorit saya adalah Starting XI Tionghoa PSM Makassar. Karena bahasan terkait hal tersebut belum pernah saya dengar atau baca sebelumnya dan terbilang hal yang tidak umum. Mengingat pemain bola dari etnis Tionghoa di Indonesia relatif kecil atau bahkan sangat jarang.

Penggunaan sebelas pemain dari etnis Tionghoa di skuad Juku Eja terjadi di era 1928-1930 an dimana etnis ini memang tengah mendapatkan diskriminasi. Yang kemudian menggunakan klub atau sepakbola sebagai ajang perlawan terhadap hal tersebut. Hal ini juga membuktikan bahwa PSM Makassar saat itu mampu menjadi wadah asimilasi, akulturasi dan pemutus stereotype buruk bagi kaum tertindas.

BACA JUGA:  Narasi Motivasi dan Media Sepak Bola

Kemudian bab PSM Makassar dalam Irisan Politik Elektoral juga menjadi bab yang sangat menarik untuk dibaca. Bab ini seolah menjadi cermin secara keseluruhan tentang kondisi sepakbola Indonesia yang tidak jauh-jauh dari cengkraman politik. Ade mampu menggambarkan dengan begitu detail tentang pusaran politik elektoral dalam keberjalanan PSM Makassar dari masa ke masa.

Dan bab terakhir yang cukup membuat miris ketika membaca adalah Tidak Ada Stadion Hari Ini. Sebagai klub yang sarat sejarah dan termasuk klub besar di Liga Indonesia, PSM Makassar hingga saat ini tidak punya stadion yang dibilang layak untuk menggelar pertandingan. Ini tentu sebuah ironi. Dengan gairah sepakbola yang begitu tinggi masyarakat Makassar, ditambah sebagai kota besar, kota yang dikenal dengan kuliner Coto Makassar ini tidak mampu menyediakan fasilitas stadion yang layak. Ketika mencoba membangung Stadion Barombong justru proyek yang dinanti-nantikan publik Makassar berakhir mangkrak. Bahkan di Liga 1 2022/2023 PSM Makassar harus menempuh perjalanan empat jam ke Ujung Pandang untuk menggelar pertandingan di Stadion BJ Habibie.

Buat penggemar sepakbola Indonesia maupun penggemar Juku Eja, buku melampaui peluit panjang dari Ade Saktiawan wajib kalian miliki.

Komentar
Medioker yang bisa diandalkan. Kadang dukung Manchester United kadang dukung AC Milan. Bisa kalian sapa di twitter @CandraBantara