Revolusi Mental dan Peluang AC Milan Scudetto ke-20

AC Milan
AC Milan merayakan Scudetto ke-19. (acmilan.com)

Revolusi mental di tubuh AC Milan sukses menyulap tim yang terpuruk menjadi skuad bergairah juara. Perombakan dari segi manajemen hingga tim kepelatihan selama bertahun-tahun membawa Milan duduk di singgasana Serie A musim 2021/2022.

Tak sedikit yang menyebut bahwa skuad juara AC Milan adalah sebuah anomali atau kebetulan. Lantas, bisakah I Rossoneri melanjutkan kejayaannya musim depan?

Stefano Pioli menjadi sosok penting yang mewujudkan revolusi skuad AC Milan. Sejak kedatangannya pada 2019 silam, Pioli mengubah skuad muda Milan menjadi salah satu yang paling ganas di Serie A.

Dua aspek bertahan maupun serangan mereka berkembang begitu signifikan. Musim lalu, mereka paling sedikit kebobolan dengan 31 gol, sama dengan Napoli.

Sementara di aspek penyerangan, meski tak seproduktif Inter Milan, daya ledak Rafael Leao dan kolega terasa lebih cair dan mematikan.

Kedatangan juru gedor berpengalaman bernama Olivier Giroud juga turut mendongkrak ketajaman Rossoneri di depan gawang lawan. Kini menjelang bergulirnya musim 2022/2023, Milan terus berusaha memperkuat skuad demi mempertahankan scudetto di San Siro.

Seraya memperkuat komposisi tiap lini, Milan sepertinya tak perlu khawatir dengan pos di bawah mistar. Mike Maignan yang didatangkan dari Lille awal musim lalu menjelma jadi andalan sejak kepergian Gianluigi Donnarumma ke PSG.

Maignan tampil cemerlang dan kontribusinya dianugerahi oleh Serie A sebagai kiper terbaik musim 2021/2022. Ketangguhannya dibuktikan dengan torehan 16 cleansheets, di mana 8 di antaranya berhasil dicapai pada 10 laga terakhir yang krusial.

Pelapis Maignan pun terhitung aman. Dua kiper gaek yakni Ciprian Tatarusanu dan Antonio Mirante, serta calon bintang muda mereka, Andreas Jungdal siap pasang badan jika diperlukan rotasi.

Beralih ke depan gawang, sektor bek tengah tampaknya menjadi PR yang belum terselesaikan. AC Milan masih belum menemukan pelapis Fikayo Tomori yang tampil apik musim lalu.

BACA JUGA:  Maurizio Sarri: Rokok dan Revolusi Senyap Bersama Lazio

Kombinasi Kjaer yang tangguh di udara dan kecepatan Tomori di lini bertahan tak tergantikan di awal musim lalu. Beberapa kali Pioli mencoba hal baru saat Tomori maupu Kjaer cedera, namun hasilnya tak terlalu memuaskan.

Beruntung, Milan masih punya Pierre Kalulu yang muncul sebagai duet yang pas untuk Tomori ketika Kjaer absen lama karena cedera ACL sejak pertengahan musim. Namun, slot bek tengah senior kini hanya menyisakan Kjaer sebab Romagnoli telah hengkang ke Lazio.

Menyiasati kedalaman lini bertahan, Pioli dikabarkan mengincar bek PSG, Abdou Diallo. Sementara di sisi flank, performa menjanjikan Theo Hernandez dan Davide Calabria musim lalu, ditambah dengan kedatangan Alessandro Florenzi menawarkan garansi aman bagi Pioli.

Di lini tengah, Milan memang kehilangan Franck Kessie yang hijrah ke Barcelona. Namun, kecakapan double pivot mereka yakni Sandro Tonali dan Ismael Bennacer juga sudah teruji cukup mampu mereplikasi peran Kessie.

Apalagi, Tomasso Pobega yang notabene seorang gelandang multifungsi telah kembali dari masa peminjaman bersama Torino. Berbicara sisi sayap, Milan memang sudah punya sederet pemain sekaliber Alexis Saelemaekers, Junior Messias, hingga Ante Rebic.

Akan tetapi, Pioli membutuhkan upgrade jika ingin serangannya lebih kreatif, terutama di sisi kanan dan gelandang serang.

Untuk itu, Milan masih berburu guna mendapatkan jasa pemain serba bisa, Charles De Ketelaere yang diproyeksikan juga mampu mengisi pos nomor 10. Selain itu, nama Hakim Ziyech dan Noa Lang juga menjadi opsi tambahan yang potensial.

Terakhir di sektor terdepan, Pioli tampaknya tak perlu pusing lagi. Hadirnya Divock Origi di skuad Rossoneri menjadi nilai plus untuk melapisi Olivier Giroud yang sudah tidak muda lagi. Plus, mereka juga masih punya Lord Zlatan semusim ke depan.

BACA JUGA:  Menyikapi LGBT dalam Sepak Bola

Pengaruhnya di dalam maupun luar lapangan untuk skuad muda Milan bisa menjaga mentalitas juara Milan tetap bertahan. Untuk itu, revolusi mental AC Milan belum selesai. Rossoneri masih haus gelar dan ingin membuktikan bahwa prestasi musim lalu tak didapat dengan asal-asalan.

Komentar