Robin van Persie dan Kisah Getirnya di Inggris

Robin van Persie merupakan salah satu penyerang tajam asal Belanda yang pernah ada dalam sejarah sepakbola Eropa. Mulai dari Feyenoord, Arsenal, Manchester United, hingga Fenerbahce pernah dibelanya. Ia juga menjadi langganan tim nasional negara asalnya, Belanda.

Di awal karier profesionalnya, ia membela salah satu raksasa Belanda itu dari awal musim 2001/2002 sampai pada akhirnya Arsenal memboyong van Persie pada jeda transfer musim panas 2004. Hampir setengah karir sepakbolanya dihabiskan di Arsenal. Delapan tahun ia berada di Stadion Emirates.

Cukup berkesan kisahnya di sana. Jabatan kapten pernah van Persie emban bersama dengan gelar pencetak gol terbanyak Liga Inggris di musim 2011/12. Namun, itu terjadi di musim terakhirnya bersama Meriam London sebelum akhirnya hengkang ke salah satu rival Arsenal, yakni Manchester United.

Mengetahui hal tersebut lantas mnyulut amarah pendukung The Gunners dan tak ragu melabelinya sebagai pengkhianat. Sederhana saja, di saat Arsenal sedang berjuang melewati masa-masa sulit, ia yang berstatus kapten malah meninggalkan klub yang telah membesarkan namanya tersebut.

Namun, ada hal yang belum diketahui oleh sebagian orang tentang alasan van Persie pindah ke Old Trafford selain ingin memenangi gelar Liga Inggris. Ternyata, dalam penuturannya baru-baru ini kepada SoFoot, ia mengatakan alasan kepindahan dirinya tersebut bukan murni kehendaknya.

Saat itu van Persie masih memiliki kontrak satu musim bersama Arsenal dengan harapan kontraknya akan diperpanjang oleh klub. Namun Chief Executive Arsenal, Ivan Gadizis tak kunjung memberikan perpanjangan kontrak.

“Saya menerima (kritik tentang penghianatannya ke United) itu. Namunz saya berani bersumpah demi anak-anak saya, jika ada orang yang bisa memberi bukti kalau Arsenal menawari saya kontrak baru, saya akan memberinya satu juta (poundsterling) sekarang, hari ini”, kata van Persie.

BACA JUGA:  Dean Henderson dan Hikayat Kiper Inggris di Manchester United

Kecewa sudah pasti, namun dirinya tidak peduli lagi dengan hal itu. Di musim pertamanya bersama Setan Merah, van Persie langsung tancap gas. Gelar Liga Inggris dan Community Shield berhasil ia persembahkan, juga gelar pencetak gol terbanyak liga dengan 26 gol.

Ia menjadi salah satu kunci kesuksesan klub meraih juara liga di musim itu. Target gelar ke-20 United itu pula yang jadi alasan nomor punggung 20 menjadi pilihannya. Trofi yang jelas telah lama ia idamkan selama kariernya di Arsenal.

Namun, kebahagian itu tak mampir lama. Karena pada akhir musim yang sama manajer masyhur Setan Merah, Sir Alex Ferguson memilih pensiun. Pukulan telak bagi van Persie karena pelatih asal Skotlandia itulah yang membuatnya bergabung. Lagipula Fergie pernah berkata ia akan bertahan tiga musim lagi.

“Pada saat itu, bahkan Ryan Giggs, Scholes atau Ferdinand tidak mengetahui bahwa ia (Fergie, red.) akan pensiun. Padahal mereka adalah pemain yang sudah bekerja sangat lama dengannya dan mereka tidak menyangka pelatih akan pensiun,” ungkap juru gedor kelahiran Belanda itu.

Setelah Fergie pergi, United mengangkat David Moyes sebagai manajer baru. Sayang, ia tak mampu bertahan semusim dan digantikan sementara oleh Ryan Giggs untuk menuntaskan kompetisi.

Musim berikutnya, pihak klub mengontrak pelatih berpengalaman asal Belanda yaitu Louis van Gaal. Pada awalnya keputusan itu membawa angin segar bagi van Persie. Pasalnya, mereka berdua telah bekerja sama di Timnas Belanda.

Hasil dari tim oranye itu di Piala Dunia 2014 pun tak buruk-buruk amat. Lagipula, van Gaal terlihat akrab dengan penyerangnya itu. Lihat saja selebrasi mereka ketika menghempaskan Spanyol di babak grup.

BACA JUGA:  Pesepakbola di Indonesia Tidak Bermain 90 Menit: Studi Kasus Effective Playing Time PS Sleman

Namun, kenyataan berkata lain. Bukannya bakal bertahan lama karena memiliki pelatih dari satu negara, van Persie justru perlahan digantikan. Ia kecewa lantaran van Gaal menyingkirkannya dari United setelah hanya mampu mencetak 10 gol dari 29 pertandingan.

“Kejam. Menjelang akhir (karier saya di United), saya merasa ada yang akan terjadi, tapi tidak sekejam ini. Apalagi caranya mengatakannya. Dan kemudian ada banyak hal yang terlintas dipikiran saat dapat pesan seperti itu,” ujar van Persie melalui podcast The High Performance.

Ketidakcocokannya dengan van Gaal menjadi akhir dari kisahnya di Inggris. Pada musim panas 2015, ia dijual ke Fenerbahce dengan nilai transfer 6,5 juta euro. Empat tahun kemudian, pencetak gol terbanyak Timnas Belanda itu gantung sepatu di klub masa mudanya, Feyenoord.

Komentar
Penggemar Manchester United dan Bayern Munchen yang hobinya menulis dan membaca ini bisa ditemui di akun Twitter @mtorieqa.