Sergio Busquets: Pahlawan dalam Senyap

Lionel Messi merupakan salah satu bakat terbaik yang pernah dihembuskan ke muka bumi. Anda tidak bisa membantahnya. Lepas dari berbagai kontra terhadap dugaan rekayasa bermotif ekonomi di balik pemilihan Ballon d’Or, Anda tidak bisa (walaupun mau) menolak kedigdayaan, estetika, kecerdasan, dan ketajaman seorang Messi. Sudah semestinya Anda menyebut nama Messi dalam semua hikayat akan kejayaan Barcelona yang kelak Anda ceritakan kepada anak-cucu.

Messi adalah kunci. Itu benar. Tetapi, mengatakan dia-lah satu-satunya sudah jelas salah. Messi merupakan atlet dari sebuah cabang olahraga yang mengedepankan taktik dari sebuah unit terstruktur dengan 11 individu di dalamnya. Messi merupakan satu dari unit tersebut. Bukan satu-satunya.

Sepak bola berserta kompleksitasnya memuat banyak rangkaian sebab-akibat. Sebuah rantai proses yang menjadi kunci kesinambungan sirkulasi bola, kestabilan pertahanan, kesadaran ruang, dan fase eksekusi. Sampai sebelum sebuah gol tercipta ada (terlalu) banyak variabel yang melatar belakanginya. Dan pemain merupakan variabel terpenting dari proses ini.

Saat seseorang menyebut Messi sebagai kunci, akan ada orang lain yang turut menyertakan nama Andres Iniesta dan Xavi Hernandez. Ketiganya, antara rentang 2008-2015, dianggap sebagai pemain kunci Barcelona. Opini yang sulit disangkal. Tetapi ketika seseorang lain lagi menyebut nama Sergio Busquets, suara di ruangan akan tiba-tiba senyap. Beberapa mengernyit penuh tanya dan beberapa diam dalam sinis.

Di sebuah grup Facebook permainan sepak bola berjenis manajer, salah seorang anggota pernah berkomentar kurang lebih seperti ini, “Busquets? Bisa apa dia, orang tinggal ngasih bola ke Messi. Gampang gan :v”. Pernyataan yang luar biasa. Tidak ada satire di dalamnya.

Pendapat berhak disuarakan. Itu hak asasi. Tetapi ketika ia sekadar menafikan peran individu dalam tataran taktis tanpa mau mencoba memahaminya, dengan penuh keprihatinan kukatakan, kamu jahat, mas.

Busquets’ role

Untuk (mencoba) memahami Busquets, kita mulai dari Busquets’ role. Pernah dengar frasa ini? Busquets’ role menjadi populer karena juego de posicion ala Pep Guardiola memainkan la salida lavolpiana dalam fase membangun serangan dari belakang. Dan Busquets, dikarenakan posisinya sebagai no. 6, kebagian tugas sebagai regista dalam fase ini.

Apa itu salida lavolpiana?

Salida lavolpiana merupakan sebuah taktik progresi milik Ricard Lavolpe, bekas pelatih timnas Meksiko. Terjemahan sederhana salida lavolpiana adalah jalan keluar ala Lavolpe, yaitu sebuah cara berprogresi yang mana dua bek tengah bergerak melebar untuk memberikan ruang bagi no. 6 masuk ke lini belakang. Bagaimana Barcelona dan Busquets memainkannya, bisa kita lihat ketika Barcelona menghadapi Atletico Madrid 30 Januari 2016 lalu.

Barcelona 2-1 Atletico Madrid.
Barcelona 2-1 Atletico Madrid.
Salida lavolpiana Barcelona.
Salida lavolpiana Barcelona.

Menciptakan overload atau situasi menang jumlah 3v2 memudahkan Barcelona berprogresi. Dengan keunggulan 3v2, ada saatnya gelandang lawan ikut terpancing maju demi menyeimbangkan jumlah, yang bila dimanfaatkan dengan timing dan struktur yang tepat dapat menciptakan ruang gerak lebih besar bagi gelandang tengah (lini kedua). Dengan kata lain, akses ke lini kedua menjadi lebih baik.

Dalam fase membangun serangan dari belakang, sering kali ditemui lawan-lawan Barcelona melakukan pressing blok tinggi untuk menekan lini pertama (belakang) Barcelona. Dalam situasi ini, kemampuan para pemain dalam menciptakan ruang yang cukup untuk memperlancar progresi amat krusial. Tidak serta-merta, inisiatif seorang gelandang yang turun ke bawah untuk menjemput bola merupakan tindakan yang tepat.

BACA JUGA:  Karim Benzema Seorang Manusia Biasa

Kenapa? Karena hal tersebut bila dilakukan dengan timing buruk dapat memberikan akses pressure bagi tim bertahan di kedalaman pertahanan tim menyerang. Tulisan lain tentang pentingnya kesadaran spasial juga bisa anda baca di sini.

Busquets dalam fase pertama menyerang. Barcelona vs Athletic Bilbao
Busquets dalam fase pertama menyerang. Barcelona vs Athletic Bilbao

Busquets dalam bentuk berlian.

Saat menghadapi Manchester United (MU) di Liga Champions 2009, Busquets beberapa kali menunjukan kesadaran ruang yang membantu Barcelona keluar dari lini pertama pressing MU. Sikap Busquets dalam menghadapi pressing MU sedikit berbeda dengan apa yang ia lakukan ketika menghadapi Bilbao.

Barcelona vs MU Final UCL 2009. Busquets memutuskan bergerak lebih ke dalam demi keperluan mempertahankan bentuk berlian dan superioritas jumlah.

Barcelona vs MU Final UCL 2009. Busquets memutuskan bergerak lebih ke dalam demi keperluan mempertahankan bentuk berlian dan superioritas jumlah.

Busquets dalam penguasaan bola

Busquets merupakan pemain dengan kemampuan individu yang sangat baik. Aksi dan keputusannya kerap kali sederhana  tetapi istimewa. Faktor utamanya adalah pressing-resistance (kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan lawan dalam area kerja yang sempit) Busquets sangat tinggi.

Setelah Busquets menerima umpan Dani Alves, Ever Banega dan Carlos Bacca segera memberikan tekanan. Tetapi, Busquets mampu menipu keduanya sekaligus.

Sesaat setelah Busquets menerima sodoran Jeremy Mathieu, Victor Iborra dan Banega segera memberikan tekanan. Sekali lagi, Busquets mampu mempertahankan penguasaan bola dan berprogresi.

Dua aksi Busquets ini dilakukan dalam ruang yang sempit. Efek positifnya, Barcelona mempertahankan penguasaan bola dan mampu berprogresi. Bila Anda memperhatikan bagaimana Busquets melakukan keeping, gaya tersebut merupakan khas dirinya saat ia beraksi di dalam area yang sesak. Busquets menggerakan bola dengan telapak kaki untuk kemudian memindahkannya menggunakan kaki bagian dalam. Sederhana.

Barcelona vs Atletico Madrid, 2011. Busquets maju ke depan menciptakan overload.
Barcelona vs Atletico Madrid, 2011. Busquets maju ke depan menciptakan overload.

Seperti yang terlihat dalam gambar di atas, sebagai no.6 Busquets diwajibkan menjadi pemain pendukung (cover) bagi formasi penetrasi Barcelona ke sepertiga akhir. Ini berarti, Busquets berada di area yang lebih dalam, bersiap baik ketika Barcelona membutuhkannya untuk menciptakan superioritas jumlah, sebagai papan pantul, atau sebagai titik perpindahan permainan. Penempatan posisi semacam inilah yang memaksimalkan visi bermain Busquets yang didukung oleh kecepatannya bertindak.

Busquets selalu berposisi di antara dua lini dengan maksud menjaga akses vertikal mapun jalur umpan diagonal, seperti yang bisa Anda lihat pada menit 47:06 sampai 47:11.

Menit 47:26, Busquets bergerak dan menahan posisinya di half-space kiri. Pergerakan ini, selain memberikan ruang kerja yang besar bagi Pique di tengah-kanan juga mengisolasi Ateltico Madrid ke sisi kiri Barcelona. Busquets menahan posisinya sampai bola diberikan kepada Pique.

Menit 47:31, Pique bergerak ke depan. Busquets lantas turun ke belakang, menggantikan posisi Pique memastikan okupansi di lini belakang.

Dalam sebuah pressure Real Madrid, Busquets turun ke half-space kiri untuk menciptakan formasi berlian sekaligus keunggulan jumlah, 4v3. Perhatikan beberapa kali Busquets melakukan shoulder-check (menoleh) untuk memantau area sekitarnya.

Setelah menerima sodoran bola Claudio Bravo, Busquets mengidentifikasi ruang serang di sayap kanan. Ia segera memindahkan permainan kepada Sergi Roberto. Barcelona berprogresi. Sederhana.

Kestabilan pertahanan

Kesadaran ruang sangat diperlukan oleh seorang individu agar ia mampu turut serta membangun kompaksi pertahanan yang baik. Busquets memiliki kesadaran ini, bukan hanya dalam fase menyerang, tetapi juga dalam transisi bertahan dan fase bertahan.

Busquets dan gegenpressing. Saat Neymar menguasai bola di tengah-akhir (06:16), Busquets merupakan pemain terdekat. Ketika akhirnya penetrasi Neymar ke sepertiga-akhir digagalkan, Busquets dengan cepat bergerak ke depan melakukan gegenpressing (06:26) kepada Banega.


Busquets menutup ruang yang ditinggalkan oleh Dani Alves.


Gerard Pique bergerak keluar untuk mengawal CR7. Busquets yang melihat ini segera turun dan mengisi pos yang ditinggalkan Pique. Ia pun sukses menghentikan Park ji-Sung dengan tackle-nya.


Umpan Messi kepada Rakitic terhenti. Banega mengambil alih penguasaan bola. Saat ia hendak bergerak ke tengah, Busquets segera naik sedikit menutup jalur umpannya kepada Bacca yang bersiap di garis tengah. Bila saat itu Busquets membiarkan Alves seorang yang menekan Banega, sangat mungkin umpan Banega telah menjangkau Bacca yang berdiri bebas.

Bola yang dibuang Yaya Toure dikontrol oleh Michael Carrick dan diteruskan kepada Park. Busquets yang melihat Park membelakangi gawang Barcelona segera mendekati Park. Ketika Park memutar tubuh untuk melakukan penetrasi, Busquets mampu menghentikannya.

Keahlian khusus: sign kanan, belok kiri

Anda tidak salah membaca. Sign (memberi tanda, merujuk pada fungsi lampu sign pada kendaran bermotor, red.) kanan, belok kiri, itu yang tertulis. Busquets merupakan salah satu pemain yang paling ahli soal beginian. Bedanya, Busquets tidak membahayakan diri sendiri atau tim. Jagat sepak bola mengenal kemampuan ini sebagai umpan palsu (fake-pass). Sergio Busquets dan Mats Hummels merupakan pakar tipuan semacam ini.

Dengan tubuhnya, ia membimbing lawan ke satu sisi. Ketika terlena dan dunia mereka teralihkan, ke dalam harapan palsu, Busquets mendadak berubah. Tanpa memalingkan wajah, ia mengumpan ke arah sebaliknya.

Setelah Busquets menerima umpan Dani Alves, Ever Banega dan Carlos Bacca segera memberikan tekanan. Tetapi, Busquets mampu menipu keduanya sekaligus.
20 detik dari tipuan Busquets, Messi menciptakan satu-satunya gol pertandingan ini. Atletico 0-1 Barcelona Mei 2015.

The video.

Video milik Allas FCB. Perhatikan Jesus Gamez yang menjaga Arda Turan di sisi kiri kotak 16 Atletico. Gamez terpeleset karena ia terkecoh oleh Busquets yang melakukan tipuan “sign kanan, malah jalan lurus.”

Kesimpulan

Pemain seperti Busquets merupakan pahlawan dalam senyap. Nyaris semua peran dan pergerakannya tidak terdeteksi oleh fan, dikarenakan, sering kali, apa yang dilakukannya sangat tidak terkait langsung dengan fase eksekusi peluang dan penciptaan gol.

Busquets, Julien Weigl, Jorginho dan no. 6 lainnya sering kali kurang mendapatkan apresiasi ketika mereka tidak menciptakan assist atau gol. Padahal apa yang mereka lakukan adalah kunci. Mereka berada pada posisi di mana Seorang pemain harus mampu menjamin proses permainan, dari fase pertama sampai fase penciptaan peluang, tetap terkoneksi secara menyeluruh, baik menyerang maupun bertahan.

Sekilas, anda mungkin menyangka Busquets itu “malas”. Padahal tidak. Busquets memiliki work-rate yang tinggi. Hanya saja, ia melakukannya dengan santai. Efisiensi merupakan inti sari pergerakannya.

Lepas dari diving, sandiwara dan kekotoran yang ia tumpahkan di atas lapangan hijau, Busquets merupakan pemain brilian. Salah satu yang paling brilian yang pernah dilahirkan. Salah satu pemain dengan otak tercepat dan ketenangan tinggi.

 

Komentar