Romansa dan Pragmatisme Roberto Mancini

Roberto Mancini
Roberto Mancini

Adem Ljajic menggiring bola di depan kotak penalti guna mencari ruang tembak, saat bola masih lekat di kakinya datanglah Marcelo Brozovic yang berlari menusuk jantung pertahanan Frosinone tanpa kawalan. Tak butuh waktu lama buat Ljajic untuk mengambil keputusan, dengan enteng kakinya melepas umpan mendatar yang langsung dihajar Brozovic tanpa ampun.

Bola meluncur deras ke sisi kiri gawang yang dikawal Nicola Leali, papan skor di stadion Giuseppe Meazza (23/11) pun berubah menjadi 4-0. Sampai wasit Marco Guida meniup peluit panjang, skor tersebut bertahan bagi kemenangan FC Internazionale.

Untuk kali pertama pada musim ini, Inter menang dengan selisih gol lebih dari satu. Dan untuk keempat kali secara beruntun, I Nerazzurri, julukan Inter, sukses mencatat clean sheet di pertandingan liga yang mereka lakoni sekaligus memenangi semuanya. Yang paling lantang bersorak jelas Interisti, pendukung setia Inter.

Jujur saja, sudah lama tifosi kubu biru-hitam tak merasakan euforia macam ini. Bicara sejarah, terakhir kali Inter sukses mencatat empat laga tanpa kebobolan plus memenanginya adalah pada 2009 lalu saat figur eksentrik asal Portugal bernama Jose Mourinho masih duduk di balik kemudi pelatih.

Namun bila dikerucutkan lagi, ada satu sosok yang girang bukan main dengan hasil yang didapatkan Inter kali ini. Tak lain tak bukan adalah pria yang berdiri di tepi lapangan guna memberi instruksi buat Mauro Icardi dkk., bernama Roberto Mancini.

Kemenangan telak itu membuat allenatore yang sedang menjalani periode kedua menangani Inter setelah 2004-2008 lalu ini sedikit banyak bisa meredam hujan kritik yang menimpa tim besutannya.

Dasarnya apalagi kalau bukan torehan kemenangan Inter yang cuma diraih melalui skor-skor tipis, khususnya 1-0. Tujuh dari sembilan kemenangan yang berhasil direguk I Nerazzurri awal musim ini memang berasal dari kedudukan minimalis tersebut.

Banyak kalangan yang menganggap bahwa Inter hanya beruntung dengan hasil yang mereka capai. Ada juga yang berkata jika koleksi kemenangan tipis tersebut menunjukkan bahwa kubu hitam-biru terlalu bergantung pada teknik individu pemainnya.

Padahal kita sama-sama tahu, kemenangan 1-0 ataupun 100-0 nilainya tetap tiga poin! Dan terdapat nama-nama berlainan yang menjadi pahlawan di kemenangan minimalis itu. Sebut saja Stevan Jovetic, Icardi, Felipe Melo, Gary Medel hingga Geoffrey Kondogbia.

Ah, Mungkin nanti kalau FIFA punya presiden baru akan muncul aturan gres perihal kemenangan 1-0 yang tak lagi dihargai tiga angka sebab tiga angka hanya pantas didapat dari kemenangan telak dan permainan menawan. Silakan saja berkhayal, bebas-bebas saja kok karena belum ada fatwa haram soal ini.

Kritikan teraktual bagi Mancio dikirim oleh salah seorang pelatih legendaris di tanah Italia, Arrigo Sacchi.

BACA JUGA:  Membayangkan AC Milan Tanpa Zlatan

“Inter memainkan sepak bola yang kuno. Yang barangkali tak lagi diapresiasi di era modern seperti sekarang. Walau tak masalah jika dimainkan di Italia yang memang mendewakan hasil,” kata Sacchi.

Sebagai pelatih yang menggemari permainan menyerang tentunya Sacchi punya dasar yang kuat untuk melontarkan hal tersebut. Terlebih rival sekota Inter, AC Milan, yang ditukanginya pada 1987-1991 sanggup mengenggam sebiji Scudetto dan sepasang gelar Liga Champions berkat pola permainan menyerang nan indah usungannya.

Namun dengan beribu hormat, ada baiknya jika beliau tak perlu repot-repot mengomentari apa yang dikerjakan Mancio bersama Inter saat ini. Toh, yang menggaji Mancio tetaplah Erick Thohir.

Kalau mesti ada yang diurus, mungkin bekas klub asuhannya lebih pantas menerima hal itu. Paling tidak sekadar sumbang saran agar bisa tampil lebih baik tanpa harus memecat Interista bernama Sinisa Mihajlovic dari posisi pelatih kepala.

Bahasan cenderung ledekan soal spesialisasi menang 1-0 yang terus menerus dituai Inter juga muncul di grup whatsapp penulis. Dengan gaya sedikit diplomatis ala bapak bangsa, penulis pun menjawab karena Inter bukanlah FC Barcelona yang sepak bolanya mahadahsyat itu.

Inter hanya klub semenjana yang musim lalu bahkan megap-megap hanya untuk finis di zona Eropa. Masih kurang apalagi? Tapi pada akhirnya, penulis pun tertawa geli karena kalau diperhatikan lebih jauh, mereka yang bukan Interisti kok sibuk banget ya ngurusi Inter? Klubmu, kesebelasan Anda, tim kalian sendiri piye? Oh, sudah apik rupanya. Kalau begitu silakan mengucap hamdalah.

Bicara soal kemenangan tipis dan Mancio ibarat mendiskusikan dua sejoli yang sedang memagut kasih penuh romantisme. Perasaan kasih dan sayang memenuhi dada dan jiwa serta siap untuk diutarakan satu sama lain tanpa jeda.

Karena sejak pertama kali duduk di bangku kepelatihan, Mancio dikenal tidak sungkan untuk bermain pragmatis. Hasil akhir merupakan titik acuannya namun patut dicatat pula jika itu tak serta merta menjadikan Mancio miskin taktik.

Gaya main tim asuhannya selalu menitikberatkan pada kekokohan di lini belakang karena ia selalu menekankan bahwa pertahanan yang solid adalah hal mutlak yang bisa jadi kunci kesuksesan sebuah tim. Tanpa pertahanan yang kuat, maka sekumpulan striker yang tajam pun akan nirguna.

Hal yang sejatinya terbalik dengan profil dirinya dahulu kala bermain sebagai seorang trequartista yang jadi otak serangan.

Lagipula pragmatisme yang dianut Mancio menghasilkan sederet trofi bagi klub-klub yang pernah ditanganinya. Fiorentina dihadiahi satu trofi Piala Italia, begitu juga dengan Lazio.

Sementara Inter sempat diberinya tiga Scudetto serta masing-masing dua Piala Italia dan Piala Super Italia di periode pertamanya jadi pelatih I Nerazzurri.

Kala terbang ke Britania dan menjadi manajer Manchester City, Mancio lewat gaya pragmatisnya pun sanggup membawa tiga buah silverware yang sudah lama absen ke lemari trofi The Citizens, julukan Manchester City, masing-masing satu trofi juara liga, Piala FA dan Community Shield.

BACA JUGA:  Ruhe in Frieden: Gawang Kosong Robert Enke

Saat mengembara semusim di Turki bersama Galatasaray pun Mancio lagi-lagi sukses menggondol satu gelar Piala Turki buat Cim-Bom, julukan Galatasaray.

Secara keseluruhan Mancio mengoleksi 13 gelar selama meniti karier sebagai pelatih. Curriculum Vitae pelatih kelahiran Jesi ini pun mengkilap karena deretan piala tersebut. Maka apa masih salah bila ia mengimani sepak bola pragmatis sementara klub-klub yang mempekerjakannya memanen gelar?

“Saya menyukai kemenangan dengan skor tipis 1-0. Karena dengan tidak kebobolan dan Anda memiliki pemain berkualitas seperti Edin Dzeko, Carlos Tevez dan David Silva, kemungkinan Anda untuk menang adalah 90%. Tak masalah bagi saya untuk bermain membosankan di dua atau tiga partai dan menang hanya dengan skor 1-0. Karena bila Anda menyaksikan kesebelasan-kesebelasan yang keluar sebagai juara, mereka kebobolan sedikit gol,” papar Mancio dalam wawancara dengan The Guardian pasca-membawa Manchester City memenangi trofi Liga Inggris pada 2011/2012 silam.

Kenny Dalglish dalam kolomnya di Daily Mail pada tahun 2010 silam bahkan dengan elegan menyebut jika dengan gaya pragmatisnya Mancio takkan punya banyak kawan. Tapi jika itu menelurkan hasil positif dan gelar demi gelar (bagi The Citizens), maka kritikan pedas yang dialamatkan padanya pun hanya akan menguap tanpa jejak.

Kritik soal pragmatisme yang begitu lekat dengan Inter musim ini tentu akan terus wara-wiri di telinga pelatih yang kembali ke Appiano Gentile, markas latihan I Nerazzurri, per November 2014 lalu ini. Namun seperti yang sudah-sudah, Mancio pasti bergeming dengan hal tersebut sebab yang terpenting baginya adalah tim asuhannya, bukan apa yang dikatakan orang lain.

Sebab PR yang dikerjakan Mancio sejak setahun terakhir bersama Inter bukanlah hal sepele yaitu mengembalikan status Inter sebagai calon juara Serie A. Maka siapa pun Anda, Interisti atau bukan, suka tidak suka bersiaplah untuk terus menyaksikan laga-laga membosankan dari kubu hitam-biru.

Walau linimasa twitter penulis sendiri cukup sering juga kebanjiran kicauan yang isinya kurang lebih begini, “Nggak masalah menang 1-0 sampai akhir musim. Yang menang tipis kan tim idola saya, kok fans tim lain yang berisik?”

Oh ya, hari ini tanggal 27 November adalah hari di mana pelatih yang merupakan mantan suami Federica dan memiliki tiga anak ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-51. Sudah sepatutnya jika penulis juga mengucapkan selamat ulang tahun baginya.

Buon Compleanno, Mancio. #ForzaInter.

 

Komentar