Semangat Sosial Klub dalam Kostum Sankt Pauli 2015/2016

Sankt Pauli bukanlah klub kaya raya seperti Bayern Muenchen yang berulangkali menjuarai Bundesliga. Klub dari kota Hamburg itu bahkan jarang terdengar di liga teratas Jerman. Kalau pun sempat merasakan atmosfir Bundesliga itu tidak lama. Klub ini lebih sering berkutat di Bundesliga II atau divisi bawahnya.

Namun, hal ini tidak berarti mereka tak dikenal. Bagi para football hipster, St. Pauli adalah sebuah pilihan untuk didukung. Klub ini sukses menciptakan budaya cult yang membuatnya menjadi populer. Dengan meningkatnya popularitas klub ini, segala sesuatu yang berbau klub ini juga menjadi barang buruan, termasuk kostum yang mereka gunakan untuk berlaga.

Musim 2015/2016 ini adalah musim kedua St. Pauli menggunakan Hummel sebagai apparel klub. Hummel masuk sebagai sponsor teknik St. Pauli menggantikan sponsor sebelumnya, Do You Football, yang menjadi sponsor St. Pauli sejak musim 2005/2006. Bersama DYF sendiri, St. Pauli menghasilkan berbagai kostum menarik seperti kostum Camo yang mereka gunakan pada musim 2006/2007. Jersey tersebut lantas dinilai sebagai salah satu kostum sepak bola paling unik yang pernah diproduksi.

Pada musim pertamanya bersama Hummel, St. Pauli menghadirkan kostum yang cukup menarik. Terinspirasi dari Kiezhelden, sebuah gerakan sosial dari klub, sang desainer, Jason Lee, mencoba menghadirkan sebuah kostum yang memiliki elemen yang menyala dalam kegelapan. Menurut dia, pahlawan sesungguhnya tidak terlihat dalam cahaya, tapi memberi sinar di dalam kegelapan. Konsep ini diterjemahkan untuk seragam kandang dan kostum ketiga.

Inspirasi dari lingkungan klub berlanjut. Musim 2015/2016, Jason mempersembahkan tiga kostum St. Pauli yang masing-masing memiliki inspirasi yang berbeda-beda. Hal yang membuat ketiga kostum St. Pauli, ditambah kostum penjaga gawang mereka menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dimiliki.

BACA JUGA:  Sepatu Ikonik Zidane di Piala Dunia 2006: Adidas Predator Absolute Gold

Kostum kandang St. Pauli 2015/2016 memiliki warna hitam, dengan aksen coklat di beberapa bagian. Motif chevron khas Hummel juga dapat dilihat di seluruh bagian baju, kecuali bagian lengan yang memiliki strip dengan warna coklat lebih muda yang dilengkapi dengan grafis chevron Hummel yang mengeluarkan aura klasik dari kostum ini. Pemilihan warna ini karena bendera hitam yang kerap dibawa oleh suporter mereka saat mendukung klub di stadion. Bendera hitam yang kerap diasosiasikan dengan anarki, menjadi lambang etos klub atas isu sosial di sekelilingnya, tanpa harus terkungkung oleh aturan-aturan yang ada.

Sementara itu, anti-homofobia adalah tema di kostum tandang St. Pauli. Melengkapi kampanye rainbow laces yang menunjukkan dukungan terhadap kaum LGBT, St. Pauli melengkapi dukungan mereka dengan meletakkan warna pelangi, yang mereupakan warna dukungan untuk kaum LGBT, di lengan kostum tandangnya. St. Pauli bahkan melengkapi kostum ini dengan ban kapten berwarna pelangi. Sekali lagi untuk menunjukkan dukungan klub bagi kaum LGBT, seperti yang selama ini telah mereka lakukan melalui kelompok suporter mereka.

Di kostum ketiganya, giliran pesan anti-sexism yang coba dibawa oleh St. Pauli. Warna merah kostum tersebut terinspirasi dari bendera Jolly Rouge yang dibawa para suporter sebagai aksi protes atas klub striptease yang didirikan di stadion Millerntor. Walau akhirnya striptease dilarang, namun bendera merah Jolly Rouge telah menjadi lambang perlawanan atas sexism. Melengkapi warna merah di kostum adalah grafis yang terinspirasi dari kibaran bendera Jolly Rouge dan arus air yang mengalir di sungai dekat Hafenstra├če, tempat di mana bendera Jolly Rouge pertama kali berkibar.

Pesan sosial juga masih disampaikan ke kostum kiper mereka. Sebagai salah satu bentuk dukungan klub terhadap para pencari suaka dari Afrika yang terdampar di Hamburg, St. Pauli menyediakan tempat penampungan serta perlengkapan kepada mereka sebagai program pertama dari Kiezhelden. Warna hijau-merah-hitam merupakan warna bendera Pan-Afrika, tempat dari sebagian besar para pencari suaka tersebut berasal.

BACA JUGA:  Mengintip "Senjata" Kaki Wataru Endo di Final Carabao Cup 2024

Sementara itu, dua seragam kiper sisanya terinspirasi dari semangat 1980-an. Pemilihan motif 1980-an karena tahun 1981 merupakan awal dari pergerakan anarki para suporter St. Pauli yang menjadi semangat klub hingga saat ini. Hummel menampilkan motif-motif dan warna khas 1980-an dalam kostum tersebut, melengkapi keunikan seluruh kostum St.Pauli untuk musim 2015/2016.

Dengan desain yang lain daripada yang lain serta sarat dengan pesan sosial tentu jersey St. Pauli merupakan salah satu kostum terbaik musim 2015/2016. Tentunya juga layak untuk dikoleksi.

Komentar