Sepak Bola, Teknologi Komunikasi, dan Idealitas Sepak Bola

Di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat cepat dan belum pernah terjadi sebelumnya ini, proses produksi dan konsumsi informasi sepak bola juga ikut berubah. Lanskap media sepak bola mengalami pula satu perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebuah sinyal suram yang merepresentasikan keadaan sepak bola dan khalayak sepak bola negeri ini.

Kajian-kajian kontemporer tentang sepak bola dunia, yang satu dekade belakangan banyak mencuat, mulai menghadirkan wajah sepak bola dunia dari sudut pandang yang sama sekali baru. Sepak bola tak lagi dipandang sebagai sebuah permainan lugu dan polos yang kekanak-kanakan, melainkan sebagai sebuah produk sekaligus kerja satu mekanisme yang sangat rumit.

Sepak bola tidak lagi dilihat sebagai sebuah area steril, melainkan dijabarkan sebagai sebuah wilayah yang bersilangan dengan teritori lain: bisnis, sosiologi, budaya, seni, manufaktur, penyiaran, media, teknologi, dan sebagainya. Kajian sepak bola menjadi sebuah wilayah diskusi interdisipliner yang mulai mengundang akademisi-akademisi dari pelbagai latar belakang ilmu untuk memasukinya. Cara pandang terhadap sepak bola pun mulai jadi sangat bervariasi, sehingga sedikit demi sedikit beraneka wajah alternatif sepak bola mulai tampak.

Pembahasan-pembahasan tentang sepak bola yang dilakukan oleh banyak ahli, seperti Franklin Foer dan Richard Giulianotti, menggarisbawahi banyak fakta, antara lain peran sepak bola di dalam desa global kontemporer seperti saat ini. Sepak bola, tak beda dengan musik, film, atau bahasa, kehilangan peran mulianya sebagai pemersatu yang tulus dan mulai menjadi sarana pengusung pesan pihak dominan di dalam konstelasi politik budaya dunia.

Sebuah pertandingan sepak bola bukan cuma menghadirkan pertandingan dua kelompok lelaki dewasa yang tanpa agenda, melainkan telah menjadi arena bagi hal-hal lain untuk hadir: diskursus politik, pesan konsumsi, standar fesyen, serta parameter gaya hidup. Dengan pretensinya sebagai sebuah permainan polos, lugu, dan bersahabat, sepak bola bisa menjadi medium yang lebih ampuh bagi banyak hal di atas. Siapa pun yang ingin menghadirkan diskursus dominan mesti mulai melirik sepak bola sebagai juru bicaranya. Ini jelas bukan hal baru.

Jas, gaya rambut, dasi, olahraga rekreasi, minuman, makanan, mobil, hingga orientasi terhadap homoseksualitas dan serangan teror di Paris, serta persoalan buruh anak-anak adalah beberapa isu diskursif yang kini ikut diolah oleh sepak bola. Permainan terpopuler di dunia ini tak hanya menghadirkan persoalan tendangan balik bandung, sepakan pisang, sundulan tajam, atau gaprakan keras, melainkan juga mulai menghadirkan seremoni pengutukan terhadap aksi teror, protes terhadap satu kejadian tertentu, atau dukungan terhadap hal lain, yang kemudian mengkristalkan persoalan “kita” dan “mereka” secara internasional.

***

Sepak bola, tak berbeda dengan banyak bidang lain selayaknya film, musik, atau sastra, merupakan satu bagian arus besar yang bergerak dari satu sisi dunia ke sisi dunia lain; dari sentra ke pinggiran; dari “utara” ke “selatan”. Arus geraknya bukan merupakan satu aliran alamiah, melainkan hasil sebentuk sejarah yang telah mapan, yang menempatkan “utara” sebagai pemenang serta maju dan “selatan” sebagai yang tak pernah menang serta selalu ingin maju.

Sepak bola bukan sebuah bentuk budaya yang netral dan bebas, melainkan telah menjadi sebuah idealitas yang dialirkan secara hegemonistik dari satu kelompok ke kelompok lain. Kita, masyarakat Indonesia, bisa dibilang tidak berdaya menghadapi idealitas mapan dari Eropa. Sama ketika kita tidak berdaya menghadapi idealitas mapan Amerika dan Eropa di musik atau film. Kita hanya berada di dalam posisi menerima idealitas dominan tersebut dan mencoba menyesuaikan diri.

Premier League, Euro, Serie A, Manchester United, dan Cristiano Ronaldo adalah idealitas yang kita pandangi dengan binar kekaguman dan kita coba sekuat tenaga untuk reproduksi seraya kita cintai tanpa syarat. Pikiran kita lalu secara aktif menyerap idealitas tersebut dan menjadikannya sebagai dasar semua gagasan tentang sepak bola.

Pada saat itu, sepak bola, bersama perangkat budaya dan elemen kehidupan lain, menjadi alat pengekalan dominasi antarkelompok di skala global. Olahraga ini kian menegaskan penaklukan logika yang dilakukan oleh orang Eropa terhadap semua bangsa lain di seluruh dunia. Brasil dan Argentina boleh memiliki kemampuan mengolah bola bak dewa dan menjebol gawang lawan tak tertahankan, tapi cuma Eropa yang mampu “mengukir idealitas sepak bola” secara mumpuni: Premier League, La Liga, Serie A Italia, Bundesliga, Euro. Argentina boleh melahirkan Lionel Messi, tapi mesin produksi sepak bola Eropa yang mengubahnya menjadi citra dewa sepak bola yang punya daya jual setinggi kahyangan. Brasil boleh menjadi pengoleksi gelar juara sejagat terbanyak dan merupakan mesin bakat paling produktif, tapi ukuran ideal sepak bola tidak dibentuk di sana. Mengapa?

Imaji! Eropa dan Amerika Serikat (AS) adalah mesin citra paling subur. Citra ideal muncul dari Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Amerika Serikat, Swiss, dan negara Eropa lainnya. Sepak bola, fesyen, seni, fotografi, makanan, film, dan musik ideal adalah yang berasal dari Eropa. Terpaan imaji dari Eropa dan AS yang menerpa pikiran kita meninggalkan citra dan imaji tentang semua idealitas tersebut di relung logika kita. Kecintaan dan kebanggaan mereka yang tinggi terhadap diri mereka seolah meluber dan menulari kita: kita juga jadi sangat mencintai mereka—sekali lagi: tanpa syarat.

Kita meluangkan begitu banyak waktu untuk mengonsumsi imaji yang mereka ciptakan dan alirkan: konser musik, siaran langsung, buku, pertunjukan film, tur Asia, acara televisi, hingga tayangan iklan. Kita lalu mulai terpikat oleh idealitas mereka dan bertekad menyatu dengan idealitas itu atau mereproduksinya di konteks kehidupan kita. Idealitas Manchester United pun menyerap sosok-sosok kita di seluruh Indonesia. Idealitas timnas Spanyol juga sama. Pun begitu idealitas Euro.

BACA JUGA:  Sepakbola Kampung yang Dirindukan

***

Imaji yang dipancarkan medialah yang membuat dominasi idealitas sepak bola Eropa jadi sangat berkuasa di dunia. Citra yang kita serap lewat televisi dan bacaan yang menyuburkan proses dominasi halus sepak bola Eropa ke negeri ini. Lebih luas lagi, citra yang kita serap lewat televisi dan bacaan yang membuat keseluruhan Eropa dan Amerika Serikat sebuah idealitas peradaban bagi kita. Eropa dan AS adalah tanah yang dijanjikan, sebuah cita-cita, satu model dan anutan, dan satu impian buat kita.

Kita lalu sahih menjadi umat yang setia. Sistem berpikir dan denyut logika pemilik semua idealitas itu pun menjadi sistem berpikir dan denyut logika kita. Tak hanya model kompetisi, genre musik, atau format sajak yang kita serap, kurikulum pendidikan, seragam sekolah, menu makan siang, hingga karakter hubungan suami-istri dan ibu-anak pun jadi sesuai sama dengan format yang diterapkan kelompok dominan global tersebut dan kita melakukannya dalam upaya mereproduksi peradaban mereka agar mendapat label sukses dan menggapai citra kesuksesan yang mereka janjikan lewat pancaran-pancaran imaji yang mereka sebarkan lewat televisi dan bacaan.

***

Perubahan besar yang sebelumnya terjadi muncul terkait dengan perubahan teknologi media. Berkembangnya teknologi ini lalu mengubah pola produksi dan konsumsi informasi secara keseluruhan, termasuk informasi sepak bola dan elemen budaya populer lain.

Di sisi produksi, informasi sepak bola kini disajikan secara lebih cepat dan lebih bervariasi. Tak hanya narasi yang mengisahkan jalannya pertandingan, infografis, foto, video, hingga skor menit demi menit bahkan telah disajikan saat pertandingan masih bergulir. Dari sisi lapangan berita, dalam bentuk apa pun, telah dikirim.

Di sisi konsumsi bahkan perubahan lebih terasa. Jika dua puluh tahun lalu, orang di Nusantara mesti menunggu satu malam berlalu agar bisa membaca ulasan tentang pertandingan Serie A yang digelar pada pukul sembilan malam waktu Indonesia Bagian Barat. Baru pada keesokan harinya kita bisa membaca berita lempangnya. Jika ingin menikmati analisisnya, kita mesti menunggu tulisan berisi tetek bengek pertandingan yang dilabeli analisis muncul di tabloid atau majalah khusus sepak bola. Begitu pelan dan agak sunyi pola produksi dan konsumsi informasi sepak bola saat itu hingga para makelar informasi sepak bola masih bisa diterima oleh pasar yang tidak terlalu tergesa-gesa dan penuntut saat itu.

Sentralisasi produksi dan konsumsi informasi ini kian memperkokoh dominasi. Jika dulu imaji yang dipancarkan media global sebagai agen peradaban global masih diwarnai keputusan-keputusan “makelar informasi” di dalam wujud wartawan nasional dan lokal, kini tidak lagi. Jika dulu “nabi-nabi informasi” lokal memiliki peran membentuk imaji idealitas sepak bola, kini daya itu sama sekali pupus. Ketua FIFA, Sekjen UEFA, bos besar Chelsea, hingga Gareth Bale sendiri, bersama ribuan jurnalis dan kolumnis Eropa dan AS bisa masuk langsung ke ruang-ruang rumah kita dan menyampaikan pesan langsung seraya membentuk langsung idealitas yang mereka ingin kita serap. Lokalitas dan lokalisasi pun sirna. Globalisasi resmi mengalir tanpa hambatan: information superhighway to globalization superhighway.

“Makelar informasi” yang dulu bak nabi yang “khotbah informasinya” selalu didengarkan dan disimak dengan khidmat, kini jadi tidak terlalu menarik lagi. Untuk apa menyimak “nabi nasional dan lokal” kalau kita bisa menerima “wahyu sepak bola” langsung dari “para rasul yang berada di dekat tuhan sepak bola”?

Situasi kini berbeda. Jika dulu kita mesti menunggu para makelar (baca: media nasional) mengambil barang berupa informasi sepak bola, lalu memprosesnya (dengan segala distorsi dan bias kognitifnya), kemudian menyajikannya kepada kita dalam kemasan yang mereka pilih, kini kita bisa pesan langsung ke Italia: tanpa perantara! Para produsen asli informasi Serie A bisa mengirimkan langsung informasi dari ruang pers di Stadion San Siro atau di pinggir lapangan Stadio Olimpico ke para fan Milan dan AS Roma di Cibitung atau Jepara tanpa perlu bantuan dari para makelar informasi di Jakarta atau Semarang.

Upaya para “makelar informasi” nasional dan lokal ini untuk menyesuaikan diri dengan larut di dalam perubahan teknologi informasi juga mulai tampak sia-sia. Situs-situs berita sepak bola berskala nasional bermunculan. Namun, usaha mereka tampaknya akan tenggelam di dalam kesia-siaan. Transformasi yang mereka lakukan hanya di tataran medium: dari kertas ke layar. Dasar operasinya masih sama: mengonsumsi dari luar, mengemasnya ulang, dan menyajikannya lagi.

Umat para makelar ini pun tergerus secara tidak perlahan namun pasti. Mereka yang punya modal kuat untuk berhubungan langsung dengan “rasul-rasul informasi” yang bisa menyajikan hidangan lebih sahih dari perbincangan langsung dengan “dewa sepak bola” jadi mengangap “para nabi informasi” lokal bak angin lewat. Apalagi kadang para “dewa sepak bola” menyempatkan diri bersabda langsung kepada umat global. Modal untuk mendapatkan akses langsung tersebut adalah sambungan internet dan bahasa. Mereka yang punya uang cukup untuk menghubungkan gawainya dengan jaringan internasional serta punya kemampuan bahasa asing lumayan akan membaca langsung “kabar-kabar suci sepak bola” langsung dari para “rasul” dan “menyimak sabda dewa sepak bola”. Mereka tak lagi perlu “nabi” nasional untuk menjadi juru tafsir.

Tak hanya itu yang membuat peran “nabi informasi nasional” jadi majal. Idealitas yang telah telanjur terbentuk di benak “umat” sepak bola Indonesia membuat kesia-siaan menjadi keniscayaan. Upaya menghadirkan kisah-kisah dan narasi sepak bola nasional hanya menjadi paparan yang disimak sambil lalu hanya karena kisah itu memuat cerita tentang “milik kita”. “Umat” pun menyimaknya sambil tersenyum pahit, mendengus, menyeringai penuh ejek, jengkel, lalu kembali lagi menekuri idealitas yang jauh lebih memesona dan berkilau, walau bukan milik mereka. Apalagi, para “nabi nasional” ini juga kadang menjadi bagian dari “umat” sehingga idealitas mereka sama dengan idealitas umat. Mereka kadang menulis kisah sepak bola nasional seraya tersenyum pahit, mendengus, menyeringai penuh ejek, jengkel, lalu ikut menikmati idealitas yang jauh lebih memesona dan berkilau, walau bukan milik mereka.

BACA JUGA:  Menunggu Keberuntungan (Lagi) di Rajamangala

Di dalam situasi itu, asumsi bahwa keruntuhan media cetak sepak bola nasional merupakan sebuah markah yang meneriakkan petunjuk bahwa kita mesti bergeser ke media baru jelas sangat menyedihkan dan dangkal. Pergeseran ke media baru bukan satu inisiatif cerdas gemilang yang tumbuh dari kedalaman berpikir “nabi nasional”, melainkan hanya wujud ketidakberdayaan histori yang menerpa kita di Indonesia sebagai buah dikte kuat dari Eropa dan AS. Ini bukan hal baru: kaset, radio, televisi, bahkan mesin cetak adalah hasil dikte dari dominasi di sana yang didiktekan ke sini. Jadi, pergeseran media cetak ke media baru bukan satu kegemilangan yang mesti dirayakan, melainkan hanya sebuah keniscayaan yang pasti di dalam peradaban kita yang selalu kalah. Apalagi, keniscayaan itu hanya akan membuka keran dominasi idealitas–dan berikutnya logika secara keseluruhan–jadi lebih lebar terbuka.

Jika menyimak daftar situsweb terasa di Indonesia yang disusun berdasarkan jumlah pengunjung dan simak laman, kita akan lihat betapa informasi sepak bola yang “dibungkus” para “nabi nasional” tidak masuk agenda terpenting kehidupan “umat sepak bola” Indonesia. “Nabi informasi politik” nasional tidak berkompetisi dengan “rasul informasi politik” global. Kabar dan tafsir peristiwa politik nasional daerah masih menjadi “wilayah dakwah nabi lokal”. Pun begitu persoalan lokal seperti racun sianida, peristiwa Thamrin, ektremisme dan fanatisme, sampai ugal-ugalannya pengemudi Metro Mini. Tidak aneh bahwa Detik.com, Liputan6.com, dan Kompas.com masih ada di papan teratas situs tertinggi Indonesia, mengiringi raksasa global bak Google, Facebook, Youtube, dan Yahoo serta situsweb lain yang memengaruhi kehidupan khalayak Indonesia secara nyata, seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Lazada.

Perubahan arus informasi yang lebih sentralistik pun menghadirkan “kerakusan” di dalam diri kita. Jika biasanya tetesan informasi jadi terasa cukup, kini tidak lagi: kita menginginkan kucuran, bahkan guyuran informasi. Informasi skor jadi terlalu dangkal. Kita butuh informasi dalam porsi yang lebih besar. Kita kini ingin tahu makan siang Lionel Messi menjelang pertandingan atau asal-usul rumput yang dipakai di lapangan yang dijadikan venue final Liga Champion. Kita lalu menjadi manusia-manusia yang “tamak” informasi dan secara membabi buta menenggelamkan diri di dalam lautan informasi sepak bola yang seakan tak pernah kering serta melahap dan menenggak semua informasi yang kita temui.

Kita juga selalu lapar, sehingga selalu menyantap secara tergesa-gesa. Menunda semalam untuk mengonsumsi informasi pertandingan jadi tidak masuk akal—bahkan menunda sejam pun terlalu lama. Kita jadi fan yang menyerap informasi sepak bola seperti busa menyerap air, dan melakukannya dengan tergesa-gesa. Kita melahap informasi seperti orang yang selalu lapar. Kita selalu menyantap, lalu kehilangan daya lagi untuk mencerna dan memaknai, sehingga selalu tertidur dalam keadaan kekenyangan informasi. Selalu ada hal baru yang kita rasa perlu ketahui.

===

Perkembangan situasi di lanskap industri informasi ini bisa jadi kabar sangat buruk buat sepak bola secara keseluruhan jika kita tidak bisa menyiasatinya dengan tepat—dan militan. Kian hari kian buruk dataran sepak bola kita. Kita masih tidak sadar bahwa tidak akan ada cukup sumber daya di dunia yang tersisa agar kita bisa menggapai format Premier League di Indonesia. Sumber daya dunia hanya cukup untuk membentu satu “liga kelas kahyangan” di jagat ini: tidak akan ada lagi. Jika Liga Italia dan Jerman terpaksa memilih “jalan memutar” serta memilih definisi kemajuan alternatif yang sesuai dengan sumber daya mereka, seharusnya kita juga melakukan itu.

Impian kosong membentuk industri sepak bola di Indonesia sebaiknya dikubur dalam-dalam. Impian memiliki tontonan sekelas Premier League di Nusantara bukanlah opsi buat kita. Idealitas kita mesti berbeda dari idealitas di Inggris. Jikapun bisa menyamai infrastruktur serta kualitas teknis, sumber daya audiens dan kondisi geografis negara ini tidak pas dengan format idealitas Premier League. Negara seperti Brasil, yang punya kualitas “tingkat dewa” di sepak bola pun hanya bisa berkuasa di Piala Dunia, tapi akan selalu gagal di kontes adu keren kompetisi lokal dengan negara-negara Eropa.

Ini bukan pesimisme, melainkan sebuah upaya menghadirkan “amoniak” di tengah-tengah mabuk “imaji idealitas” yang menerpa “umat” sepak bola kita. Ini diniatkan sebagai sebuah markah kesadaran untuk mengenali diri sendiri secara lebih sahih agar kita mampu membangun dan membentuk idealitas sendiri, yang benar-benar pas dan kontekstual dengan situasi, kondisi, dan jati diri kita. Ini diinginkan menjadi sebuah tonggak yang bisa dijadikan pegangan sementara agar kita tidak hanyut di dalam arus deras dominasi idealitas global yang sebenarnya akan menyeret kita ke dalam keadaan mabuk yang lebih dalam dan menjadi konsumen selama-lamanya.

NB: Naskah ini menjadi artikel pembuka untuk buku Sepak Bola 2.0 yang ditulis oleh 20 penulis dan dirilis pada 19 Februari 2016 lalu. Dimuat di fandom.id untuk menjangkau pembaca yang lebih luas demi menjelaskan fenomena sepak bola terkini yang pas dengan Pekan Liga Eropa Fandom yang dihelat usai liga top Eropa berakhir dan jelang Euro 2016. Untuk pembelian buku bisa melalui surel fandom.indonesia@gmail.com atau LINE Official @fandomid.

 

Komentar