Sesal yang Menjadi Berkah bagi Dele Alli

Lihainya rencana Tuhan menipu benak, dan tak jarang pula manusia dibuat terpukau akan tipuan itu. Dan bagi Dele Alli, jelas mungkin adalah sebuah keberkahan tersendiri baginya bahwa Tuhan membelokkan jalannya, dari transfer ke Liverpool dari MK Dons, menjadi ke Tottenham Hotspurs pada transfer musim dingin musim 2014/2015.

Jelas rasa sesal itu muncul. Pasalnya, ia, sebagaimana yang disebutkan oleh SkySports, adalah seorang penggemar Steven Gerrard. Gol Gerrard di Istanbul, nyatanya tak hanya menyihir saya untuk menjadi seorang kopites, namun juga seorang Dele Alli.

Dele Alli, yang merupakan produk akademi MK Dons itu jelas memikat siapa pun. Debut pada usia 16 tahun, dan menjadi andalan sejak musim 2012/2013, adalah hal yang cukup memikat. Suatu hal yang cukup, untuk membuat Karl Robinson, manajer MK Dons, menawarkan Dele Alli ke Liverpool.

Dan Brendan Rodgers kemudian menerima tawaran ini, sebagaimana yang ia ceritakan sendiri dalam satu sesi di Sunday Night Football-nya SkySports. Ia kemudian meluangkan waktunya, untuk menonton langsung, berbicara dengan Robinson, dan sampai pada akhirnya berbicara panjang lebar dalam sebuah kamar hotel yang mungkin membuat dirinya menggebu-gebu.

Entah apa yang mereka ceritakan, namun Rodgers berujar, bahwa ia telah tersihir dan terpesona. Bulat pula hasratnya dan sudah sangat dekat pula impiannya, kata Rodgers, untuk bermain bagi Liverpool.

Dan andai kepindahan itu terjadi, mungkin adalah hal yang menyenangkan bagi dirinya, untuk bermain dengan Steven Gerrard. Ya, meski hanya enam bulan kurang, tentu bermain dengan sang idola adalah surga lain di muka bumi yang tak mampu ditolak oleh manusia.

Namun sayang, hal tersebut tak pernah terpenuhi. Adalah kisah acuh tak acuh transfer committee yang ia jadikan lacur dalam kisah ini. Dan sebagai penguat argumennya, ia menceritakan bagaimana tulinya transfer committee: dimintai Alexis Sanchez, malah diberikan Rickie Lambert, beserta penjelasan panjang lebar soal sistem transfer committee yang katanya berbeda dari sistem di klub lainnya itu.

BACA JUGA:  Melepas Kepergian Adam Lallana

Transfer committee telah mutlak menetapkan saat itu bahwa Dele Alli tak sesuai dengan visi klub. Aneh memang, padahal filosofi transfer committee itu meroketkan pemain tak terpandang menjadi bintang.

Akan tetapi, pada hari itu, tampak bahwa Alli tak meyakinkan. Saya berspekuliasi, mungkin Raheem Sterling, Jordan Ibe, atau bahkan Jerome Sinclair, yang menjadi penyebab ia gagal. Namun entahlah, singkat kata, transfer committee enggan membayar lima juta poundsterling kepada MK Dons untuk menebus Dele Alli.

Dan ya, ia jelas frustasi. Namun, ada pepatah mengatakan, apa yang tak membunuhmu akan membuatmu kuat. Mungkin ada sesal sedikit muncul di benaknya kenapa ia gagal bermain dengan Steven Gerrard pada akhir masanya di Liverpool.

Namun, apa guna hidup dalam sesal? Seringkali Tuhan mampu menipu kita dengan rasa sesal, duka, karena semua tak terjadi sesuai rencana. Sementara, di akhir jalur, Tuhan telah mempersiapkan pesta meriah untuk kita, jikalau kita berhasil melewati jalan yang sudah Tuhan tawarkan.

Dan Spurs yang kemudian menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menawarkan rencana yang tak kalah menariknya daripada bermain dengan Steven Gerrard itu. Alli, pada menit akhir jendela transfer musim dingin, menerima tawaran itu. Ia resmi menjadi pemain Tottenham Hotspurs.

Dan selanjutnya, Anda tahu sendirilah alurnya. Butuh hingga awal musim 2015/2016 untuk Pochettino, sang manajer yang memiliki pesona dan wibawa itu, untuk memainkannya. Akan tetapi, kesabaran remaja yang kini dikenal agak nakal itu, jelas membayar segala kepercayaan Pochettino dengan luar biasa.

Dipanggil timnas Inggris dan menjadi idola adalah bonus dari ketekunan dan kerja kerasnya. Dan disanjung oleh Steven Gerrard, meski sembari mengutuk kegagalan transfer Alli, adalah bonus lainnya.

BACA JUGA:  Josip Skoblar: Monsieur Goal bagi Olympique de Marseille

Ya, ia kemudian menunjukkan bahwa tak semua hal harus berjalan sesuai rencana, namun semua hal bisa berakhir sesuai yang diharapkan. Ya, sesal itu menjadi berkah kan, Alli?

 

Komentar