Sungguh Beruntung Memiliki Olivier Giroud

Olivier Giroud (cronachedi.it)
Olivier Giroud (cronachedi.it)

FC Istres, Grenoble, Tours, Montpellier, Arsenal, Chelsea, dan kini AC Milan adalah deretan klub yang amat sangat beruntung pernah memiliki Olivier Giroud. Striker yang yang tahu di mana ia harus memposisikan diri dan tahu betul kapan harus mencetak gol atau sekedar menjadi tembok pantul bagi rekan-rekannya. 

Di usianya yang sudah menginjak 36 tahun, Giroud masih menjadi tumpuan di lini depan AC Milan. Dari 18 laga yang sudah dilakoni Rossoneri di musim 2022/2023, Giroud menasbihkan dirinya sebagai pemain tersubur di tim dengan 8 golnya. 

Big game player sejati

Bakat Giroud sebagai pemain big game player di laga-laga krusial mulai terasa saat membela Arsenal, Chelsea, dan juga Timnas Prancis. Saat tim tengah buntu atau membutuhkan gol, Giroud selalu punya cara untuk menjadi game changer dalam laga itu entah sebagai pemain pengganti atau pemain inti.

Musim ini pun juga ia lakukan bersama AC Milan. 4 dari 8 golnya musim ini ia cetak di laga-laga besar atau krusial Il Diavolo Rosso. Seperti saat menjamu Inter Milan dan Napoli dimana ia mampu mencetak masing-masing 1 gol. Kemudian saat bertamu ke Juventus ia mampu menyumbang satu asis.

Dan terakhir perebutan peringkat kedua Grup E Liga Champions melawan RB Salzburg (2/10), ia menjadi aktor sentral melalui 2 gol dan 2 asisnya serta menyabet gelar Man of The Match. Torehan tersebut membuat Giroud mencetak rekor baru sebagai pemain tertua yang terlibat di lebih dari tiga gol dalam satu laga di Liga Champions.

Si Phoenix dari Grenoble

Giroud dijuluki oleh rekan-rekannya di Timnas Prancis si phoenix dari Grenoble. Phoenix sendiri adalah burung mitologi yang berarti keabadian dan Grenoble adalah tempat dimana Giroud tumbuh dan besar. Julukan itu datang bukan tanpa alasan, sebagai seorang striker Giroud memang mampu “mengabadikan” kemampuannya hingga saat ini.

BACA JUGA:  AC Milan 2002/2003: The Dream Team yang Terlupakan

Usianya Ollie,sapaanya, memang uzur atau istilah kerennya memasuki fase father time. Soal kecepatan, kelincahan dan kelenturan badannya pun jelas kalah telak dari Erling Haaland ataupun Kylian Mbappe. Tapi ada tiga hal yang terus melekat pada pemain bertinggi 2 meter kurang 8 centi ini yaitu positioning yang jempolan dan big game player sejati.

Di level Timnas, ia sudah mencetak 49 gol dan hanya terpaut 2 gol dari pencetak gol terbanyak, Thierry Henry. Apabila ia kembali di bawa Deschamp ke Piala Dunia 2022 bukan tidak mungkin ia bisa menyamai atau bahkan memecahkan rekor Henry.

Pun sama ketika membela Milan, Giroud seakan menolak tua dan menyerah begitu saja. Meskipun tidak bermain reguler di musim ini, pemilik nomor 9 ini berdasarkan data dari Fbref menjadi pemain yang paling banyak menyentuh bola di area penalti lawan sebanyak 75 kali. 

Banyaknya sentuhan yang ia lakukan menjadi bukti bahwa ia adalah sosok pemantul yang mumpuni. Berkat satu dua sentuhan dengan pemain lain, Giroud telah mengemas 4 asis di semua kompetisi musim ini.

Giroud juga menjadi pemain Milan yang paling sering melakukan tembakan sebanyak 4,05 per 90 menit. Ia juga pemilik xG (expected goals) tertinggi di tim dengan angka 6,9.

Berdasarkan heatmap dari sofascore, Ollie  juga masih membuktikan diri sebagai striker yang tidak malas untuk turun dan menjemput bola. Terlihat ia beberapa kali turun hingga tengah lapangan, bergerak ke samping kanan atau kiri untuk membuka ruang.

Penghapus mitos buruk nomor 9 di AC Milan

Milan cukup merogoh kocek sebesar 2 juta pound untuk mendatangkan Giroud ke San Siro. Investasi murah meriah itu ternyata memberikan keuntungan sangat besar bagi Rossoneri. Di musim perdananya Giroud mampu membawa Milan meraih scudetto dan hingga saat ini sudah menyumbang 21 gol dari 55 penampilannya.

BACA JUGA:  Sudah Waktunya Liverpool Melupakan Masa Lalu

Hasil ini tentu mematahkan mitos pengguna nomor 9 di AC Milan –setelah era Inzaghi– bermain buruk dan tumpul dalam mencetak gol. Ambil contoh Gonzalo Higuain, Lapadula, Krzysztof Piatek, dan Mario Mandzukic.

Terlalu awal memang menyimpulkan bahwa Giroud adalah sosok hero AC Milan. Perjalanan Serie A dan Liga Champions pun masih cukup panjang. Namun setidaknya, Giroud sudah berhasil menjadi pembeda dalam beberapa laga. 

Lantas apakah Giroud mampu membawa AC Milan mempertahankan scudetto dan melaju jauh di Liga Champions musim ini?

Komentar
Medioker yang bisa diandalkan. Kadang dukung Manchester United kadang dukung AC Milan. Bisa kalian sapa di twitter @CandraBantara