Tentang Xavi Simons

Xavi Simons
EINDHOVEN - Xavi Simons of PSV Eindhoven during the Dutch Eredivisie match between PSV Eindhoven and FC Emmen at Phillips Stadium on August 6, 2022 in Eindhoven, Netherlands. ANP OLAF KRAAK - Photo by Icon sport

Mari kita berbicara tentang, Xavi Simons. Semenjak meninggalkan Barcelona ke PSG, karier sang wonderkid tidak banyak mendapatkan spotlight. Kaki Simons mungkin gatal melihat Musiala, Bellingham, dan Gavi yang seusianya menari-nari di lapangan. Keputusan tepat kemudian dibuat olehnya untuk mencari lebih banyak jam terbang, ia pulang ke Belanda.

Bergabung dengan PSV Eindhoven, tak butuh waktu lama bagi Simons menemukan sentuhan terbaiknya. Ia menjadi pilar penting PSV yang dilatih, Ruud van Nistelrooy. Pemain yang berposisi asli sebagai gelandang tersebut telah mengoleksi 10 gol dan 4 asis di seluruh kompetisi.

Meski baru berusia 19 tahun, Simons berani unjuk gigi. Di PSV, ia tampil lebih ofensif. Simons banyak beroperasi di area pertahanan lawan sebagai gelandang serang atau sesekali dipasang sebagai penyerang sayap bahkan nomor 9. Ia berkembang menjadi pemain yang lebih versatile.

Selain itu, Simons memberikan impak yang positif dalam permainan PSV yang kian agresif. Ia menjadi top skor kedua di Eredivisie 2022/23 dengan 8 golnya bersama Brian Brobbey yang berposisi sebagai penyerang tengah di Ajax dan di bawah kompatriotnya di PSV yang berposisi sebagai penyerang sayap, Cody Gakpo, dengan 9 gol.

Dikutip dari fbref.com, statistik xG nya di Eredivisie menempati ranking keempat mencapai angka 5,3. Per 90 menit, Simons mencatatkan xG 0,54. Insting gol yang tajam juga ditunjukkan Simons melalui 15 shots on target di seluruh pertandingan Eredivisie yang telah dimainkannya, menempati rangking nomor 2 di liga.

Diberkati dengan postur tubuh mungil setinggi 168 cm, Simons menyelinap di antara para pemain bertahan yang menjaganya. Salah satu aksi yang ditunjukkannya kala PSV mengalahkan Arsenal 2-0 di Europa League (28/10/22). Simons meliuk-liuk melewati bek-bek The Gunners dan mencetak gol, meski akhirnya dianulir offside terlebih dahulu.

BACA JUGA:  Jelang Final Leg II Piala AFF 2016: Tempo dan Angan Juara

Status selebriti wonderkid mungkin membebani Simons. Namun hasrat bermainnya lebih menggelora. “Saya lebih suka membantu daripada mencetak gol. Bagi saya, asis adalah yang paling penting,” ujar Xavi Simons dalam wawancara pada tahun 2017.

Namun manusia selalu berkembang, begitu pula Xavier Quentin Shay Simons yang masih berusia sangat belia. Ia memiliki potensi yang lebih daripada sekadar memberikan asis. Jalan Simons menuju panggung terbesarnya masih sangat terbuka lebar.

Komentar
Menjadi fans Chelsea karena pengaruh bapak. Dapat disapa via akun Twitter @iiklil.