Surat untuk Bastian Schweinsteiger

Dear Bastian Schweinsteiger, saya sempatkan untuk menengok hasil pertandingan Liga Inggris terbaru dan menemukan bahwa Manchester United (MU) berhasil meraih kemenangan 2-1 atas Swansea City. Kalau tidak salah itu adalah kemenangan pertama setelah delapan pertandingan sebelumnya gagal menang ya? Pencapaian yang luar biasa.

Ingin rasanya menyapamu di Twitter untuk sekadar mengucapkan selamat, tapi sepertinya dirimu tak akan membaca apalagi membalasnya. Sama seperti rangkaian twitku selama ini yang sering menanyakan kabarmu setiap kali MU gagal menang. Tak berbalas.

Malah sebagian temanku yang terpancing untuk menanggapi dan menuduh saya sedang berlaku sarkastis terhadapmu. Ya, maafkan saya Basti, jujur saja, saya masih kesal kau pindah ke Manchester United.

Tidak soal kalau kau mau berkarier di luar Jerman, tapi kenapa harus MU? Kenapa tidak ke salah satu klub Major League Soccer atau main di Timur Tengah atau Tiongkok atau kalaupun harus di Liga Inggris, kenapa tidak pilih Leicester City yang ternyata posisinya sekarang lebih memungkinkan untuk jadi juara atau lolos ke Liga Champions musim depan.

Ah sudahlah, tak perlu panjang lebar membahas soal pilihan klubmu karena bukan untuk itu tulisan ini dibuat.

Tidak terasa sudah hampir enam bulan engkau meninggalkan Bayern München. Kulihat dirimu semakin giat bermain bola ya. Sementara teman-temanmu di Jerman sedang menikmati liburan akhir tahun, kau tetap bertanding.

Baguslah Basti, tetap semangat, tapi tolong jangan jadikan kurang liburan sebagai alasan kalau dirimu tidak fit ketika nanti membela tim nasional Jerman di Euro 2016. Itu ‘kan pilihanmu sendiri, kau harus siap dengan segala konsekuensinya.

Apalagi dirimu kapten Jerman sekarang. Harus tegar dan menjadi inspirasi buat pemain-pemain lain. Sebenarnya tentang hal ini saya sih tidak meragukanmu, Bas. Sudah banyak bukti di masa lampau tentang kegigihanmu.

BACA JUGA:  The Pogmentary: Kisah Si Seribu Gaya Rambut ala Paul Pogba

Yang paling berkesan buat saya adalah ketika dirimu tetap berjuang habis-habisan bagi FC Bayern untuk bisa menjadi juara liga Champions setelah gagal pada dua final, kalah dari FC Internazionale (musim 2009/2010) dan Chelsea (musim 2011/2012). Pada kesempatan ketiga, kau berhasil membawa Bayern München juara setalah menaklukkan Borussia Dortmund di Stadion Wembley. Statusmu pun berubah. Dari the nearly man menjadi the legend.

Iya Basti, kau adalah legenda. Orang bisa mendebat pernyataanku ini. Tapi menurutku, dirimu sudah termasuk sebagai salah satu legenda Bayern atas keberhasilanmu menjadi tulang punggung kala sukses meraih treble winners.

Pemain-pemain sekaliber Gerd Müller, Franz Beckenbauer, Oliver Kahn atau Mehmet Scholl pun tak sanggup meraih catatan serupa. Bukan cuma itu. Hingga saat ini, hanya dirimu, Oliver Kahn dan Mehmet Scholl yang pernah meraih delapan gelar juara Bundesliga. Kau juga adalah pemain dengan gelar DFB Pokal (Piala Jerman) terbanyak dengan tujuh titel juara. Dan last but not least, kau adalah seorang Bavarian yang berhasil menjadi juara dunia.

Benar-benar karier gemilang yang kau ukir selama tujuh belas tahun bersama FC Bayern. Dan bahkan, bukan tak mungkin kau bisa melampaui pencapaian eks rekanmu di Bayern, Philipp Lahm, dalam hal meraih gelar juara UEFA Europa League. Lahm tak pernah mengecap titel itu, Basti.

Oh, ngomong-ngomong kau sudah lihat ‘kan video ucapan selamat Natal dari Lahm? Tentu tidak perlu diambil hati soal pernyataannya: “We also eat turkey, like you will… after your training session on Christmas!!” Kau tahu ia hanya sedang bercanda.

Oh ya, satu hal lagi, Basti. Kudengar dirimu adalah pemain Jerman pertama yang membela tim utama Manchester United ya? Tunjukkan kalau pemain Jerman itu hebat ya, Basti.

BACA JUGA:  Seorang Ibu yang Mengidolakan Sepak Bola Jerman dan Bayern Munchen

Meskipun baru-baru ini, kulihat dari data statistik (sampai tanggal 30-12-2015), permainanmu sedang menurun ya. Kau sama sekali belum memberikan asis dan baru mampu mencetak satu gol.

Jumlah passing per game (termasuk key passes) juga sedang berada di titik terendah sejak musim 2009/2010. Alhasil, menurut WhoScored.com, ratingmu saat ini hanya 6.8. Mungkin ini hanya karena dirimu sedang beradaptasi dengan lingkungan yang baru saja ya, Basti. Bukan karena kondisimu yang secara umum sudah menurun.

Oke, begitu dulu, Basti. Salam dari penggemarmu yang masih fasih menuliskan Schweinsteiger tanpa harus copy-paste dari google atau mengetik huruf demi huruf pada namamu secara perlahan.

 

Komentar
Penggemar FC Bayern sejak mereka belum menjadi treble winners. Penulis buku Bayern, Kami Adalah Kami. Bram bisa disapa melalui akun twitter @brammykidz