AC Milan Youth Project Akhirnya Terwujud

“We have to create a great squad thanks to the youngsters and vice versa. That’s what Barça did. I remember the stellar Milan team started like that with Paolo Maldini, Franco Baresi, and Billy Costacurta.”

Kalimat di atas adalah ucapan Silvio Berlusconi pada Milan Channel pada 2012. Krisis finansial yang melanda AC Milan kala itu membuat mereka harus menjual pemain bintangnya.

Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva dilego ke Paris Saint-Germain, lalu para veteran meninggalkan mereka seperti Filippo Inzaghi, Clarence Seedorf, Andrea Pirlo, Gianluca Zambrotta, Gennaro Gattuso, dan Alessandro Nesta.

Hal ini membuat Berlusconi mencanangkan “Milan Youth Project”, di mana ia ingin mengarungi kompetisi dengan pemain-pemain muda.

Pada musim 2012/2013, Massimiliano Allegri berhasil menjadikan Stephan El Shaarawy sebagai protagonis. Lesatan 18 golnya menjadikan ia sebagai pencetak gol terbanyak Milan musim itu.

Ada pula Mattia De Sciglio, yang mendapat kepercayaan sebagai pemain utama. Ditambah pula ketika Milan memboyong Mario Balotelli yang saat itu berusia 22 tahun dan membantu Setan Merah bersusah payah meraih tiket Liga Champions.

Namun, musim-musim selanjutnya, “Milan Youth Project” seperti terlupakan. Gonta-ganti pelatih juga tak kunjung membuat pemain muda mendapat kepercayaan.

Milanisti mulai jengah dengan kebijakan menejemen. Protes mereka bukan tanpa dasar. AC Milan berjalan seperti tanpa proyek yang jelas. Memboyong pemain yang berstatus bebas transfer, overpriced, dan yang berstatus pinjaman dipertanyakan. Pasalnya, kualitas dan performa pemain-pemain tersebut tidak memuaskan.

Misalnya ketika Milan memboyong Alessandro Matri dengan mahar 12 juta euro. Berkaca dari kondisi finansial Milan kala itu, transfer ini tergolong mahal. Celakanya, Matri bermain jauh dari harapan, tidak mencerminkan besarnya banderol yang ia sandang.

BACA JUGA:  Terbanglah Garuda!

Pengangkatan Filippo Inzaghi dari pelatih primavera ke pelatih tim inti pun berbuah nihil. Selain performa yang tidak konsisten, mantan legenda Milan tersebut juga tidak banyak memberi porsi kepada pemain muda.

Bahkan dalam suatu wawancara, ia mengatakan bahwa bukan waktu yang tepat untuk memainkan para pemain muda saat itu. Sungguh keadaan yang semakin menegaskan kemandegan proyek pemain muda yang dicanangkan Berlusconi.

Musim 2015/2016, angin segar bertiup ketika manajemen menunjuk Sinisa Mihajlovic sebagai allenatore. Rekam jejak mantan pelatih Sampdoria tersebut bersama pemain muda cukup baik. Catatan itu terlihat ketika manajemen memberi lampu hijau bagi Mihajlovic untuk memboyong Alessio Romagnoli.

Bek muda asal Italia tersebut memang anak asuh Mihajlovic semasa menukangi il Samp. Berawal dari pembelian Romagnoli, pemain-pemain muda mulai mendapatkan tempat di dalam skuat inti AC Milan.

M’Baye Niang, striker muda dari Prancis yang waktu itu berusia 20 tahun mendapatkan satu tempat di lini depan. Kemampuannya bermain melebar terlihat cocok dengan Carlos Bacca, striker utama Milan. Romagnoli dan Niang bermain konsisten. Keduanya seperti tidak tergantikan di dalam skuat Milan.

Lalu, ada satu nama pemuda lagi yang mencuri perhatian. Dia adalah Gianluigi Donnarumma, kiper berdarah Italia, yang melakoni debut bersama skuat utama ketika berusia 16 tahun! Kiper belia tersebut bahkan sukses menyingkirkan Diego Lopez dan Cristian Abbiati, dua kiper senior.

Meski sudah mulai memberikan tempat kepada pemain muda, masa bakti Mihajlovic bersama Milan tidak panjang. Beberapa hasil yang kurang baik, ditambah gaya bermainnya yang tidak disukai manajemen membuat kursi panas pelatih Milan memakan korban.

Selepas memecat Mihajlovic, Milan mengangkat Cristian Brocchi sebagai caretaker. Sayang, mantan pemain yang konon begitu membenci Internazionale Milano tersebut tak mempunyai karier yang panjang bersama Milan. Dirinya dipecat setelah dianggap gagal mengangkat performa Milan.

BACA JUGA:  Ulang Tahun AC Milan dan Pertanyaan Sejuta Dollar yang Tak Kunjung Terjawab

Dan mulai musim 2016/2017 ini, Milan menunjuk Vincenzo Montella sebagai pelatih. Penampilan tim yang sudah memenangi 7 gelar Liga Champions tersebut cukup baik di awal musim ini. Selain itu, Montella juga meneruskan ambisi Berlusconi dengan memberi tempat kepada pemain muda.

Donnarumma masih dipercaya sebagai portiere. Romagnoli dan Niang, masih rutin bermain sebagai pilihan utama. Selain mereka bertiga, Montella memberi kesempatan kepada Davide Calabria yang masih berusia 19 tahun. Calabria ini bahkan mampu bermain lebih baik ketimbang Ignazio Abate, seniornya.

Selain Calabria, Montella juga dengan senang hati memberi kesempatan kepada Suso (22 tahun). Pemain kreatif kelahiran Cadiz, Spanyol, ini sudah beberapa musim berstatus pemain Milan. Namun, Suso lebih banyak dipinjamkan atau menjadi penghangat bangku cadangan.

Untuk lini tengah, Montella memperkenalkan Manuel Locatelli. Pemuda berusia 18 tahun kelahiran Lecco, Italia, ini disebut akan mendapatkan lebih banyak waktu bermain menyusul cederanya Ricardo Montolivo.

Jadi, bisa dikatakan, Milan Youth Project, sudah terwujud. Meski baru langkah awal, usaha ini perlu dipertahankan.

November nanti, proses akuisis Milan oleh Sino-Europe akan rampung. Dana untuk membeli pemain diperkirakan akan tersedia dalam jumlah yang cukup banyak. Melihat perkiraan tersebut, proyek pemain muda Milan bisa saja terancam.

Milanisti sendiri berharap para pemain muda masa depan ini tidak lantas dijual, apalagi lalu membeli striker berusia 29 tahun yang overhyped karena mencetak gol tanpa mengenakan sepatu.

 

Komentar
Mahasiswa HI Universitas Brawijaya. Bisa dihubungi lewat Twitter @lukmanf16