Ajax Amsterdam vs Borussia Dortmund: Duel Feeder Club

Dua klub tradisional Eropa, Ajax Amsterdam dan Borussia Dortmund, bakal terlibat bentrok dalam lanjutan Liga Champions Eropa dini hari besok (20/10).

Ajax dan Dortmund tergabung di Grup C bersama dengan Besiktas dan Sporting CP.

Berada di grup yang sama bukan satu-satunya similaritas yang dipunyai keduanya. Sejatinya, mereka tengah mengalami problem serupa.

Kendati nama besar Ajax dan Dortmund diakui sebagai klub berpengaruh di Eropa, faktanya mereka kesulitan untuk mengimbangi prestasi klub-klub tradisional lain macam Real Madrid, Barcelona, maupun Bayern Munchen.

Link live streaming Ajax Amsterdam vs Borussia Dortmund

Ajax hanya pernah sekali lolos ke fase gugur dalam delapan penampilan terakhirnya di Liga Champions.

De Godenzonen berhasil mencapai fase gugur pada musim ajaib ketika mencapai babak semi final musim 2018-2019.

Nasib Dortmund masih lebih baik, dalam sepuluh tahun terakhir, mereka cuma dua kali gagal lolos dari fase grup dan bisa menembus partai puncak pada musim 2012-2013.

Namun tetap saja, Die Schwarzgelben belum bisa disejajarkan dengan klub-klub besar seperti Madrid, Barcelona, atau Bayern.

Skuad Ajax musim 2018/19 dipenuhi oleh pemain-pemain muda potensial berhasil membawa mereka hingga babak semifinal Liga Champions.

Ajax dan Dortmund lebih sering hanya jadi penggembira di kompetisi Eropa. Kedua klub tersebut bahkan terakhir kali menjuarai Liga Champions pada dekade 90-an!

Ajax, walaupun telah menjuarai Liga Champions sebanyak empat kali, terakhir memenangi kompetisi tersebut pada musim 1994-1995. Sedangkan Dortmund melakukannya pada musim 1996-1997.

Strategi pengelolaan sumber daya pemain Ajax dan Dortmund dinilai jadi biang keladi anjloknya prestasi kedua tim tersebut di Eropa.

Baik Ajax dan Dortmund, sama-sama melakukan pembibitan pemain muda untuk kemudian dijual dengan nominal fantastis.

Dana hasil penjualan tersebut dialokasikan untuk pengembangan akademi klub dan penguatan tim pemandu bakat sehingga mata rantai pengorbitan pemain tidak berhenti begitu saja.

Siklus tersebut terus menerus berlangsung tanpa henti. Ketidakmampuan De Godenzonen dan Die Schwarzgelben dalam menandingi kekuatan finansial klub-klub Premier League dan La Liga kerap kali bikin mereka tak punya nilai tawar lebih ketika berusaha mempertahankan pemain-pemain bintangnya.

Sehingga pada akhirnya, kedua klub terpaksa merelakan pemain idola publik mereka untuk hijrah ke kolam yang lebih besar.

Kemampuan Ajax dan Dortmund dalam memproduksi atau menemukan talenta brilian memang tak perlu diragukan lagi. Ajax menyumbang nama Zlatan Ibrahimovic, Wesley Sneijder, Luis Suarez, Rafael van der Vaart, serta masih banyak lagi.

BACA JUGA:  AC Milan Bukan Pemberi Harapan Palsu

Sedangkan Dortmund, sukses menggodok sosok-sosok seperti Marco Reus, Robert Lewandowski, Christian Pulisic, Jadon Sancho, dan beragam nama lainnya.

Walaupun nama-nama tersebut tidak atau belum seluruhnya memenuhi potensi sebagai pemain kelas dunia, uang hasil penjualan mereka tidaklah sedikit.

Ajax dan Dortmund dipaksa berkali-kali kembali membina bakat dari nol, tetapi jarang kesulitan atau butuh waktu lama untuk kembali ke level tertinggi.

Tak ayal, kita sering mendengarkan istilah “feeder club”, sebutan bagi klub yang hanya jadi tempat pembibitan pemain berbakat, atau menjadi tujuan peminjaman pemain untuk menambah jam terbang sebelum pemain tersebut dikembalikan pada klub yang lebih kuat saat mereka sudah siap bermain di level tertinggi.

Biasanya, sebuah klub memang secara formal dan legal menjalani peran sebagai feeder club untuk klub yang lebih kuat.

Seperti halnya yang dilakukan Vitesse Arnhem terhadap Chelsea, Royal Antwerp untuk Manchester United, atau KRC Genk bagi Liverpool.

Namun, sejumlah klub di Eropa menjalankan praktik sebagai feeder club secara “tak resmi” seperti yang dilakukan FC Porto, Benfica, Shakhtar Donetsk, Ajax, dan Dortmund.

Klub-klub tersebut terkenal dengan reputasi mengorbitkan pemain muda dengan kualitas jempolan untuk selanjutnya dilego ke klub yang lebih kaya di kemudian hari.

Kita tentu masih ingat akan eksodus pemain kunci Ajax tatkala menembus babak semi final Liga Champions 2018-2019.

Satu per satu, sosok yang berperan sebagai pemain kunci di musim spektakuler tersebut hijrah ke klub top, dimulai dari Matthijs de Ligt, Frenkie De Jong, Donny van de Beek, hingga Hakim Ziyech.

Yang terjadi di Signal Iduna Park juga tidak jauh berbeda. Sejak 2012, menurut data dari laman Guardian, Dortmund telah menghasilkan uang lebih dari 400 juta Poundsterling dari hasil penjualan pemain.

Sancho yang dijual ke Manchester United pada Juli lalu dengan mahar 73 juta Poundsterling merupakan penjualan besar Dortmund di musim panas ini.

Baik Ajax dan Dortmund seperti sama-sama betah mengadopsi sistem tersebut selama bertahun-tahun.

BACA JUGA:  Sampai Di Sini Saja, Manchester United?

Wajar jika timbul kecurigaan bahwa mereka memang tidak punya visi untuk membangun skuat dengan mental pemenang yang stabil dan kompeten untuk meraih gelar secara reguler di tiap musimnya, dan sengaja membangun model bisnis lewat pembinaan bakat muda.

Ajax dan Dortmund memang sangat percaya diri akan spesialisasi mereka dalam pembibitan bakat muda, akan tetapi, mereka harus mengubah strategi apabila berkeinginan untuk kembali berjaya di Eropa.

Pasalnya, model bisnis macam itu tidak akan pernah membawa kestabilan dan konsistensi performa tim. Malahan, para pemain juga tidak akan pernah bermain dengan sepenuh hati ketika membela tim yang sekadar mereka anggap sebagai batu loncatan semata untuk bergabung di klub yang lebih besar di kemudian hari.

Nama-nama seperti Sancho, Pulisic, dan Erling Braut Haaland jelas hanya memanfaatkan masa baktinya di Signal Iduna Park untuk “menjual diri” pada klub-klub top nan ambisius di Eropa, dan kemudian berpengaruh pada dedikasi mereka di lapangan.

Para pemain tersebut akan sangat sulit mengeluarkan kemampuan terbaiknya di lapangan oleh karena kurangnya rasa keterikatan dengan klub yang dibela.

Aspek tersebut pernah dikritik oleh Uli Hoeness, eks Presiden Bayern. “Bagaimana pemain bisa menginternalisasi DNA dan budaya klub apabila mereka tahu jika status mereka hanya sebagai objek penjualan?”

“Selama Dortmund tidak mengubah strateginya, saya tidak berpikir jika mereka akan punya daya juang lebih dalam pertandingan-pertandingan penting”, ujar Hoeness.

Jika Ajax dan Dortmund terus menerus mengompensasi ambisi mereka untuk jadi tim yang seutuhnya ambisius untuk merengkuh prestasi demi alasan komersial, masuknya investor kaya raya hanyalah satu-satunya opsi untuk mengubah jalan cerita. Namun fantasi tersebut agaknya tak akan terjadi dalam waktu dekat.

Mungkin saja, Ajax dan Dortmund masih senang jadi klub jagoan Mas-Mas sok keren di rental PS yang dengan lantang menggaungkan tagar #AgainstModernFootball di akun media sosialnya tanpa mau memakai tim macam Paris Saint Germain atau Manchester City, tanpa menyadari jika sistem yang diadopsi oleh Ajax dan Dortmund justru semakin menunjukkan wajah sepakbola modern yang sebenarnya.

Komentar
Sesekali mendua pada MotoGP dan Formula 1. Bisa diajak ngobrol di akun twitter @DamarEvans_06