Antara PSG dan KTM

Saat diakuisisi oleh Qatar Sports Investment (QSI) medio 2011 silam, Paris Saint-Germain (PSG) diproyeksikan untuk jadi sebuah kesebelasan hebat. Tak sekadar menguasai Prancis, tapi juga menjadi raja di Eropa. Setara dengan nama-nama seperti Barcelona, Bayern Munchen, sampai Real Madrid.

Selama sewindu, Les Parisiens berhasil menahbiskan diri sebagai klub terkuat di Negeri Anggur. Berbagai titel domestik mampir ke lemari trofi mereka. Baik dari ajang Ligue 1, Piala Prancis, Piala Liga dan Trophee des Champions. Namun itu tak bikin mereka puas, trofi Liga Champions senantiasa masuk ke dalam incaran.

Sebagai klub kaya, pendekatan PSG mudah ditebak. Saban musim, mereka rela menggelontorkan uang dalam jumlah masif guna memperkuat armada tempurnya. Satu demi satu bintang lapangan hijau didatangkan ke Stadion Parc des Princes.

Berbekal kekuatan dahsyat itu, wajar bila suporter PSG berani bermimpi bahwa gelar Si Kuping Besar akan mendarat ke ibu kota Prancis. Terlebih di musim 2019/2020, untuk kali pertama Kylian Mbappe dan kawan-kawan sukses menembus partai final Liga Champions untuk berduel dengan Bayern.

Kudu diakui, performa yang diperlihatkan anak asuh Thomas Tuchel cukup prima di ajang antarklub Eropa nomor wahid itu. Pada fase grup, Les Parisiens mampu mengangkangi Madrid, Club Brugge, dan Galatasaray. Menjejak babak 16 besar, giliran Borussia Dortmund yang ditaklukkan.

Tim mengejutkan dari Italia, Atalanta, jadi pihak yang dihunus kala beraksi di perempatfinal. Sementara wakil Jerman yang disokong perusahaan minuman berenergi, RB Leipzig, ditundukkan Mbappe dan kolega secara meyakinkan pada babak semifinal.

Sial buat PSG, asa merengkuh titel Liga Champions perdana menguap begitu saja. Gol tunggal winger Bayern asal Prancis, Kingsley Coman, sudah cukup untuk menyudahi perlawanan klub yang berdiri tahun 1970 tersebut. Air mata para penggawa PSG pun jatuh. Hal serupa juga diperlihatkan oleh suporter mereka.

BACA JUGA:  Emosi dan Drama Sebuah Pertandingan dari Suara John Helm dan Fabio Caressa (Bagian 1)

Berkaca pada KTM

Kala membaca nama Kraftfahrzeuge Trunkenpolz Mattighofen, barangkali dahi kita akan berkernyit. Nama ini sendiri muncul pertama kali sekitar tahun 1934 dan merepresentasikan suatu organisasi bisnis sejenis bengkel logam yang dibuka oleh Hans Trunkenpolz di Austria.

Namun saat menyebut nama nan panjang di atas ke dalam singkatannya, KTM, mungkin kita akan mengangguk-angguk paham. Ya, mereka adalah pabrikan sepeda motor yang kini juga berkiprah di ajang balap motor paling prestisius di dunia, MotoGP.

Belakangan ini, KTM jadi buah bibir di kalangan penggila balap. Pasalnya, dua pembalap mereka yakni Brad Binder (dari tim Red Bull KTM Factory Racing) dan Miguel Oliveira (Red Bull KTM Tech 3) sukses menjadi pemenang dalam seri Grand Prix (GP) Ceko serta GP Styria.

Bertarung dengan nama-nama besar semisal Andrea Dovizioso (Ducati), Marc Marquez (Honda), Fabio Quartararo (Yamaha), dan Valentino Rossi (Yamaha), tak ada rasa jeri yang keduanya perlihatkan. Terlebih, KTM memperlihatkan peningkatan performa yang cukup signifikan.

Sebagai salah satu tim yang diberi hak konsesi (pengembangan lebih dan izin tes lebih banyak dibanding tim lain karena prestasinya belum terlalu banyak), KTM betul-betul memanfaatkannya secara maksimal. Salah satu faktor kunci yang membuat motor KTM kini kompetitif adalah keberanian pihak manajemen merekrut Dani Pedrosa sebagai pembalap penguji dan Mike Leitner sebagai Team Principal.

Para penggemar MotoGP pasti takkan menduga bahwa KTM akan tampil sangat kompetitif di musim balap 2020. Menang di GP Ceko lewat Binder yang aksinya mengagumkan sepanjang balapan dan jadi kampiun secara dramatis bersama Oliveira di GP Styria pasti meroketkan kepercayaan diri KTM.

Wajar kalau euforia terus menggeliat di tubuh mereka dan hasrat untuk memenangkan seri-seri balap selanjutnya menggelegak di dalam dada. Terlebih, mereka juga punya Pol Espargaro (Red Bull KTM Factory Racing) dan Iker Lecuona (Red Bull KTM Tech 3) sebagai pembalap. Keduanya, layaknya Binder dan Oliveira adalah sosok yang kompetitif.

BACA JUGA:  Siapa yang Bisa Membendung PSG?

Khusus bagi Binder, capaiannya di GP Ceko lalu benar-benar eksepsional. Itu adalah kemenangan pertamanya di kancah MotoGP karena musim 2020 adalah momen perdananya membalap di kelas tertinggi. Tak berbeda jauh dengan PSG di kancah Liga Champions bukan? Bedanya, nasib kedua belah pihak saling memunggungi.

Entah berapa banyak uang yang sudah diinvestasikan KTM agar dapat membangun motor yang kompetitif. Selama ini, mereka memang kesulitan bersaing dengan pabrikan top lain seperti Ducati, Honda, dan Yamaha. Bahkan untuk mendekati level Suzuki saja, KTM acap terengah-engah. Tetapi kini, mereka pantas untuk berbahagia karena segala pengembangan dan pengorbanan memperlihatkan hasil yang memuaskan.

Apa yang dilakukan KTM tak berbeda jauh dengan PSG yang terus mengeluarkan banyak uang demi mewujudkan mimpi besarnya di Liga Champions. Tak terhitung berapa banyak pemain berkualitas wahid yang mereka rekrut dengan biaya mahal.

Les Parisiens sepatutnya berkaca dari KTM yang begitu sabar dengan semua proses yang mereka lakoni beberapa tahun terakhir. Kegagalan di final Liga Champions kemarin bukanlah akhir segalanya. Sebaliknya, hal itu bisa menjadi awal dari capaian yang lebih pada musim-musim selanjutnya. Tetap semangat, ya, PSG. Sedih boleh, terpuruk jangan.

Komentar
Juventini sejati yang tinggal di kota gudeg berhati nyaman. Senang diajak ngobrol tentang sepakbola, otomotif, dan ilmu pengetahuan. Dapat disapa di akun Twitter @IgnatiusAryono