Saatnya Liverpool Melirik Piala Domestik

Silverware adalah barometer kesuksesan dalam sepakbola. Dan Liverpool baru saja mendapatkan jackpot berupa titel Liga Champions”, begitulah komentar dari Darren Fletcher sesaat setelah peluit panjang Final Liga Champions 2018/2019 dibunyikan wasit.

Para pemain Liverpool berhamburan ke tengah lapangan dengan girang. Kontras dengan lawan mereka, Tottenham Hotspur, yang tertunduk muram diliputi kesedihan.

Partai final pada tahun musim itu adalah momen “buka puasa” atas dahaga prestasi yang dirasakan The Reds. Kemenangan itu sendiri bak mengembalikan trah mereka sebagai raksasa di Eropa dan Inggris.

Gelar Liga Champions ibarat pemantik gelar-gelar selanjutnya bagi klub arahan Jurgen Klopp. Setelahnya, secara berturut-turut, giliran trofi Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, dan Liga Primer Inggris mereka bawa pulang ke Stadion Anfield.

Rentetan prestasi tersebut membuat suporter fanatik The Reds senang bukan kepalang. Segala penantian yang mereka jalani selama belasan atau bahkan puluhan tahun terjawab dengan paripurna.

Nahasnya, keinginan buat menyaksikan Mo Salah dan kawan-kawan rutin menggamit trofi pupus pada musim 2020/2021 lalu. Mereka cuma finis di posisi tiga Liga Primer Inggris serta tersingkir lebih dini dari ajang Liga Champions maupun piala domestik, Piala FA dan Piala Liga.

Menyongsong musim 2021/2022, asa untuk melihat Liverpool mengangkat trofi tetap hidup di benak para fans. Tak peduli bahwa gerak-gerik The Reds sepanjang bursa transfer musim panas kemarin begitu minim.

Mereka cuma mendatangkan Ibrahima Konate dari RasenBallsport (RB) Leipzig. Padahal, dalam daftar jual klub, ada nama-nama semisal Xherdan Shaqiri dan Georginio Wijnaldum, dua pemain yang memiliki peran cukup penting di sektor tengah Liverpool.

Beberapa pemain yang baru sembuh dari cedera panjang disambut oleh fans laksana “pemain baru” sebagai penghibur hati. Namun mereka tidak pesimis walau persaingan di Liga Primer Inggris sudah pasti lebih sengit lagi karena para rival terus berbenah.

Tak cuma di Inggris, persaingan di kancah Eropa juga makin berat. Merebut gelar Liga Champions takkan pernah mudah.

Namun kembali lagi ke paragraf pertama tentang bagaimana trofi selalu dinilai sebagai bentuk kesuksesan sebuah tim sepakbola, maka Klopp dan tim asuhannya perlu lebih memperhatikan lagi peluang-peluang untuk meraih gelar tersebut.

Baca Juga:  Phil Jones dan Marcos Rojo: Tembok Ideal yang Sempat Terpinggirkan

The Reds sendiri punya empat kesempatan merengkuhnya sebab tampil di empat kompetisi berbeda yakni Liga Primer Inggris, Liga Champions, Piala FA, dan Piala Liga.

Pada dua kompetisi yang disebut pertama, sejauh ini Salah dan kawan-kawan memperlihatkan performa yang cukup meyakinkan sebagai kandidat juara.

Walau demikian, mereka juga sepatutnya melirik dua ajang terakhir sebagai arena yang wajib diseriusi bila ingin menambah pundi-pundi gelar di lemari trofi. Terlebih, Liverpool sudah lama sekali tak mengangkat gelar di ajang piala domestik.

Trofi Piala FA terakhir kali direngkuh klub yang berdiri tahun 1892 ini pada musim 2005/2006 silam. Sementara titel Piala Liga pamungkas didapat pada musim 2011/2012 lalu.

Menariknya, sepanjang era Klopp sebagai pelatih, Liverpool lebih sering ‘melepas’ dua ajang ini demi mematenkan posisi di Liga Primer Inggris atau partisipasi di Liga Champions. Jarang sekali Salah dan kawan-kawan melaju sampai babak akhir.

Praktis, cuma sekali mereka merasakan final piala domestik yakni pada musim 2015/2016 silam. Ketika itu Liverpool melenggang ke final Piala Liga dan berhadapan dengan Manchester City.

Pada kesempatan pertama Klopp meraih gelar bersama The Reds itu, hasilnya pahit karena mereka dirontokkan The Citizens via skor 3-1 pada babak adu penalti setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit.

Ada alasan mengapa Liverpool punya kecenderungan tidak serius kala beraksi di Piala FA dan Piala Liga. Padatnya jadwal pertandingan di empat kompetisi yang mereka ikuti acap berbuah petaka.

Para pemain mengalami kelelahan fisik dan rontok akibat cedera. Dengan skuad yang pas-pasan, Klopp pasti mempertimbangkan aspek tersebut supaya timnya tetap kompetitif. Maka melepas kejuaraan piala domestik dinilai bisa mengurangi beban para pemain.

Ambil contoh pada musim 2016/2017 silam. Setelah melalui enam laga Liga Primer Inggris di bulan Desember 2016 dengan hasil empat kemenangan dan masing-masing satu kali imbang dan kalah, performa Liverpool mendadak mampat pada Januari 2017,

Berturut-turut mereka cuma imbang melawan Sunderland di Liga Primer Inggris dan Plymouth Argyle pada baba ketiga Piala FA. Kemudian, mereka takluk dari Southampton di semifinal Piala Liga leg pertama.

Baca Juga:  Mengagungkan Sosok Jordan Henderson

Rentetan hasil buruk belum usai. Kembali imbang di liga melawan Manchester United, Liverpool sempat tersenyum kala menang dalam laga replay Piala FA melawan Plymouth. Apes, mereka lalu keok tiga kali beruntun dari Swansea City di Liga Primer Inggris, dari Southampton pada leg kedua semifinal Piala Liga, dan pada ronde keempat Piala FA melawan Wolverhampton Wanderers.

Terasa makin berat, laga-laga itu dilalui dengan absennya beberapa pemain kunci seperti Sadio Mane yang pulang ke Senegal guna membela negaranya pada ajang Piala Afrika serta cederanya Philippe Coutinho, Jordan Henderson, sampai Joel Matip.

Tak heran bila di ajang piala domestik, Klopp akhirnya sering menurunkan pemain-pemain muda. Hasil bukan lagi prioritas utama. Ia menginginkan para penggawa pelapis dan pemain mudanya merasakan atmosfer laga kompetitif sedari sepak mula.

Musim ini, Liverpool sudah beraksi di Piala Liga. Tepatnya pada ronde ketiga melawan Norwich City (22/9). Hasilnya apik karena The Reds sanggup menang dengan skor telak 3-0. Saat itu, Klopp memainkan banyak pemain pelapis seperti Takumi Minamino, Divock Origi dan Alex Oxlade-Chamberlain.

Rotasi pemain memang dibutuhkan Klopp. Ia ingin memberi kesempatan pemain yang baru sembuh agar mendapat match fitness guna kembali ke bentuk terbaik. Selain itu, para pemain pelapis yang selama ini banyak duduk di bangku cadangan juga merasakan atmosfer pertandingan kompetitif.

Klopp dalam sesi wawancara sehabis pertandingan mengatakan bahwa ia puas dengan keputusan rotasi pemain yang dilakukan. Selain memberi kesempatan kepada pemain cadangan dan skuad belia, keberhasilan melaju ke babak berikut juga ia syukuri.

Meski skuadnya tergolong pas-pasan, tetapi Klopp perlu mempertimbangkan lagi kans meraih trofi dari ajang piala domestik tanpa mengesampingkan ajang Liga Primer Inggris dan Liga Champions. Trofi tetaplah trofi. Entah itu Piala Liga yang sudah bergulir atau Piala FA yang baru mereka laksanakan per Januari 2022 mendatang.

Saatnya juara piala domestik, Liverpool?

Komentar
Indra Sinaga
Menggemari sepakbola dan basket. Menulis dan bermain gim di kala senggang. Bisa disapa di Twitter lewat akun @ihytkn16