Bangkitnya Ketajaman Marcos Alonso

Didatangkan Chelsea dari klub Serie A, Fiorentina, dengan banderol sekitar 25 juta paun pada musim 2016/2017 silam, karier Marcos Alonso di Stamford Bridge terbilang sangat cerah pada musim debutnya.

Ia langsung dipercaya oleh pelatih Chelsea kala itu Antonio Conte sebagai pilar utama untuk menjalankan tugas sebagai wingback. Dalam sekema tiga bek racikan Conte, baik formasi 3-5-2 maupun 3-4-3, ia mendapatkan satu tempat di sisi kiri. Hasilnya? Fantastis.

Pria bernama lengkap Marcos Alonso Mendoza itu berhasil mencuri hati para penggemar Chelsea, karena kemampuannya memainkan perannya dengan sangat baik. Alonso tidak hanya mahir dalam menggalang pertahanan. Dalam sisi penyerangan pun, ia berbahaya bagi pertahanan lawan.

Buktinya, di musim perdananya berseragam The Blues, Alonso sukses mencetak 6 gol dan 3 asis dalam 37 pertandingan di berbagai ajang. Ia juga sukses menutup musim perdananya bersama Chelsea dengan indah setelah meraih trofi Liga Inggris di akhir musim 2016/2017.

Nama Marcos Alonso pun semakin rajin di elu-elukan penggemar pada musim berikutnya. Secara individu permainan lelaki berusia 29 tahun tersebut semakin meningkat. Pada musim 2017/2018 Alonso mengoleksi 8 gol dan 4 asis di seluruh kompetisi. Performa ciamiknya juga ditutup dengan sebuah Piala FA.

Lalu, saat Maurizio Sarri datang di musim 2018/2019 pun, pemain yang memiliki kai kiri dominan itu tetap mampu menjaga tempatnya di sebelas pertama Chelsea. Meskipun memang kontribusinya dalam hal gol sedikit menurun. Ia hanya sanggup membuat 4 gol, tetapi asisnya lebih baik dengan torehan 7 buah.

Pada musim itu, lagi-lagi penampilannya diakhiri dengan mengangkat trofi. Piala Europa League berhasil direngkuh usai menghajar Arsenal 4-1 di partai final. Gelar tersebut koleksi ketiganya bersama Chelsea.

BACA JUGA:  Kami Bakal Merindukanmu, Gelaran Piala AFF 2016

Uniknya, berkat performa yang impresif dalam beberapa musim terakhir, Alonso tidak hanya dicintai penggemar Chelsea. Namun, pemain asal Spanyol itu juga menjadi andalan para pemain gim Fantasy Premier League (FPL) sebagai lumbung poin.

Sayangnya, hidup berjalan ibarat roda yang berputar. Karir Alonso bersama tim yang berdiri tahun 1905 itu juga tidak selalu di atas. Pada musim 2019/2020 ini, ia berada di titik terburuknya.

Semua bermula saat Frank Lampard dikontrak manajemen untuk mengganti Sarri yang hijrah ke Turin untuk menangani Juventus. Di bawah legenda public Stamford Bridge itu, mantan pemain Fiorentina itu tidak lagi menjadi pilihan utama di awal musim.

Kepercayaan Lampard kepada Emerson untuk mengisi posisi bek kiri Chelsea membuat waktu bermain Alonso menurun drastis. Sampai sejauh ini, ia baru bermain pada 18 laga di seluruh ajang, walau masih sempat mencetak 4 gol serta 3 asis.

Bahkan, di kompetisi Liga Inggris, Alonso jarang terlihat di lapangan maupun bangku cadangan. Mantan pemain Bolton Wanderers itu baru dipercaya tampil sebanyak 10 kali, padahal liga sudah berjalan 28 pekan.

Lagi-lagi, dampak performa Alonso juga berpengaruh pada gim FPL. Jika musim-musim sebelumnya ia menjadi idola, pada gelaran FPL musim ini, nama Alonso mulai jarang terlihat di setiap tim FPL. Persentase kepemilikannya pun anjlok menjadi hanya 2,5%.

Akan tetapi, saat para manajer FPL perlahan mengurangi minat memasukkannya dalam tim, Alonso justru sedang meniti jalan kebangkitannya. Ketika ingatan penggemar The Blues akan ketajamannya mulai terkikis, Alonso kembali menunjukkan tajinya.

Ia kembali dipercaya sebagai pemain inti, sekaligus memperlihatkan kemampuan sepesialnya sebagai wingback dengan insting gol tajam. Tiga gol dicatatankan Alonso dalam dua laga terakhir.

BACA JUGA:  Kalahkan UEA, Timnas Indonesia Puncaki Grup B Kualifikasi Piala Asia U-17

Usai mengemas sebiji gol kala Chelsea menekuk Tottenham Hotspur 2-1 pada pekan ke-27, Alonso langsung membuat brace seminggu berselang. Dua golnya berhasil menghindarkan Chelsea dari kekalahan di Vitality Stadium, kandang Bournemouth.

Tiga gol tersebut menjadi pembuktian dari pemain jebolan akademi Real Madrid, bahwa Lampard telah salah sempat memarkirnya. Semua itu juga pertanda bahwa ia masih ada untuk meneror pertahanan tim lawan sekaligus membantu The Blues kembali konsisten di jalur kemenangan.

Kini, para penggemar Chelsea bisa sedikit bernafas lega. Karena walau performa tim kesayangannya sedang inkonsisten, setidaknya ketajaman Alonso yang pernah mereka lihat selama tiga musim ke belakang kembali memberikan asa.

Namun, pertanyaannya, sampai kapan Alonso terus mampu menjadi juru selamat Frank Lampard di tengah situasi lini gedor yang seret gol seperti ini?

Komentar
Seorang mahasiswa yang gemar menulis. Bisa disapa di akun twitter @RivaldiFF99