Beban Berat Menyandang Predikat ‘The Next’

Anak adalah kehidupan
Mereka sekadar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu
Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
Karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri

Sepenggal puisi dari seorang penyair mahsyur, Kahlil Gibran, yang berjudul Anakmu Bukan Milikmu. Puisi itu bercerita tentang kritik atas orang tua entah karena tradisi atau lain sebagainya, mengarahkan kehidupan sang anak.

Puisi tersebut jelas terinspirasi dari dunia nyata. Kita lihat saja di sekitar kita banyak anak yang hidup hanya menuruti kemauan orang tuanya. Entah itu dalam ranah pendidikan, pekerjaan, bahkan tentang pernikahan.

Memang, tak sedikit berkat arahan orang tua, sang anak berhasil dalam kehidupannya. Bergelimang harta, beristri ayu, hingga kariernya cemerlang. Seolah tak ada aral melintang dalam hidupnya.

Namun jauh di dalam hati sang anak, siapa tahu? Bisa jadi sebenarnya ia ingin menjadi pengembara atau bahkan pesepak bola. Selain itu, apakah ia benar mencintai sang istri, tentu kita tak pernah tahu. Karena bagaimanapun, seorang anak sangat mungkin memiliki keinginan dan impian sendiri.

Dalam sepak bola, kita tahu banyak bintang yang hadir di setiap masanya. Pele, George Best, Johan Cruyff, Diego Maradona, Zinedine Zidane, sampai kini Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Selain nama-nama tersebut, masih banyak nama lain yang jika disebutkan akan memakan waktu semalaman.

Semua bintang itu bermain pada era yang berbeda, kecuali dua nama terakhir. Mereka menggapai kebintangan dengan cara mereka sendiri. Dan tentu dengan gaya yang berbeda. Contohnya Pele dan Maradona, yang selalu bersaing untuk menjadi pesepak bola terbaik sepanjang masa dengan karakteristik yang berbeda. Pele dengan ketajamannya dalam membobol gawang lawan, sementara Maradona dengan gocekan mautnya. Mungkin ada sekitar satu sampai dua hal yang mirip di antara mereka. Namun, bukan berarti mereka sama. Dan karena perbedaan itu pula mereka sanggup mencapai gelar bintang di lapangan hijau.

BACA JUGA:  Apotheosis Johan Cruyff

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
Menuntut mereka jadi seperti sepertimu
Sebab kehidupan itu menuju ke depan
Dan tidak tenggelam di masa lampau

Semasa kecil, sedikit banyak dari kita tentu ingin menjadi seperti pemain besar, entah itu Zidane atau lainnya. Dan untuk itu kita bermain dengan meniru apa yang dilakukan idola kita. Lama-kelamaan kita akan mengerti apa yang benar-benar kita inginkan.

Hingga kemudian kita sadar karakteristik yang ada dalam diri kita, tak benar-benar mirip dengan sang idola. Lalu kita benar-benar bermain sesuai karakteristik kita sendiri. Akankah kita frustasi atau bahkan sedih? Tidak. Justru sebaliknya. Kita senang dan bangga karena bermain sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Sayangnya, masyarakat atau bahkan publik dunia sudah terlebih dahulu mengenal kita sebagai tiruan sang legenda. Dari cara bermain sampai potongan gaya rambut. Hingga menimbulkan gelar the next someone. Bagi kita sendiri, awalnya mungkin senang, karena diperbandingkan dengan nama tenar. Namun, seiring berjalannya waktu, menjadi beban karena ekspektasi berlebih di atas pundak kita.

Kita tentu mengenal pesepak bola kelas dunia yang mengawali karier dengan berbekal the next someone. Contohnya Messi. Kala muda, ia disebut-sebut sebagai the next Maradona. Bukannya terbebani, ia malah semakin menjulang. Berulang kali ia memecahkan rekor. Ia adalah contoh pesepak bola yang berhasil mengemban ekspektasi sedari muda.

Namun, tak semua seberuntung dan memiliki mental sekuat Messi. Freddy Adu adalah salah satu yang gagal. Sejak usia belasan, ia digelari The Next Pele. Publik berharap banyak kepadanya. Namun, hingga usia 26 tahun dia tak jua memenuhi ekspektasi publik. Kariernya justru semakin menurun.

BACA JUGA:  AC Milan: Setan Merah yang Bangkit dari Keterpurukannya

Messi mungkin beruntung. Karena ia memiliki mental yang kuat untuk membawa nama Maradona dalam kiprah awalnya sebagai pemain. Namun, Adu yang disebut-sebut sebagai the next Pele, justru tak baik-baik amat.

Kariernya tak benar-benar mencapai puncak meskipun pernah membela klub sebesar Benfica dan AS Monaco. Mungkin, Adu tak kuat menjunjung nama sang legenda kala muda. Karena gelar itu menjadikan Adu terbebani ekspektasi berlebih dari publik agar ia bisa menjadi “Pele” dikemudian hari. Sehingga ia tak bisa menjadi diri sendiri dan bakatnya tak pernah benar-benar merekah. Meskipun masih ada beberapa tahun lagi untuk menunjukan diri.

Perjalanan karier seperti Adu inilah yang menjadi sisi negatif dari penyebutan gelar the next someone. Dan kita berharap tak terjadi pada Paulo Dybala ataupun Adnan Januzaj, yang digadang-gadang sebagai the next Messi dan the next Giggs.

Penyebutan the next someone atau the new someone mungkin menarik, tapi jika itu berlebihan bisa berakibat buruk. Karena bagaimanapun, seseorang selalu ingin menjadi diri sendiri. Fase meniru tentu ada dalam diri manusia. Namun, bukan berarti hal itu kita paksakan dalam diri seseorang. Biarkan sang pemain meniru siapa yang ia inginkan. Dan setelah selesai masa tersebut, biarkan ia berimprovisasi sesuai dengan kemampuannya. Agar ia berhasil karena menjadi dirinya sendiri dan bukan reinkarnasi seorang legenda.

Lagipula, jika menurut Kahlil Gibran, orang tua yang melahirkan, menyayangi, dan mendidik kita sedari kecil saja, tak memiliki hak untuk mengarahkan hidup anaknya. Bagaimana mungkin kita bisa berpikir sebaliknya terhadap pemain sepak bola muda yang baru mentas?

 

Komentar
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS dan sempat magang di Harian Bola.