Beberapa Cerita di Balik Piala Polda Jateng 2015

Sebuah turnamen sepak bola saat ini sedang digelar di Jawa Tengah saat kompetisi sepak bola resmi dari PSSI sedang memasuki masa hiatus. Kompetisi yang sudah dihelat sejak 27 Mei 2015 lalu itu diberi tajuk Piala Polda Jateng – Intidana 2015. Turnamen ini sendiri diikuti oleh tujuh klub terbaik Jawa Tengah, yakni PSIS Semarang, PSCS Cilacap, Persip Pekalongan, Persijap Jepara, PSIR Rembang, Persibas Banyumas, dan Persis Solo.

Para klub peserta turnamen ini sebenarnya sudah membubarkan diri sejak kompetisi Divisi Utama 2015 yang sedianya akan mereka ikuti tak menuai kejelesan kapan akan dilangsungkan. Persibas Banyumas, misalnya, sudah memutus kontrak pemain dan perangkat timnya per tanggal 9 Mei, diikuti oleh Persis Solo tepat sehari setelahnya. Sementara itu, PSIS Semarang memang belum resmi merumahkan para pemain dan stafnya namun mereka sudah tak berlatih sejak PSSI, melalui rapat Komite Eksekutif-nya, memutuskan penghentian kompetisi pada 5 Mei 2015 lalu.

Nasib yang lebih buruk merundung Persip Pekalongan. Tim ini begitu siap menghadapi kompetisi Divisi Utama (DU) 2015, setelah semusim sebelumnya hampir terdegradasi ke Liga Nusantara. Laskar Kalong sudah melangsungkan proses seleksi pemain sejak bulan Desember 2014 demi DU 2015 dan telah melakoni latih tanding sebanyak 12 kali. Lawan-lawan latih tanding mereka pun tak sembarangan, sebut saja Persija Jakarta, Arema Cronus dan Persebaya 2010. Pemain yang dikontrak juga tak main-main, seperti Ellie Aiboy yang pernah jadi pemain terbaik liga Malaysia dan pemilik 48 caps tim nasional Indonesia. Persip juga menggembosi tim yang musim lalu melaju sampai pada 8 besar DU, PSCS Cilacap. Pelatih dan tiga pemain PSCS diboyong ke Pekalongan. Namun seperti klub lain, mereka pun akhirnya ikut bubar jalan.

Berangkat dari kekecewaan itu, boleh jadi Piala Polda Jateng jadi pelampiasan hasrat yang tak terluapkan oleh tim-tim besar Jawa Tengah. Tapi di sisi lain, kompetisi semacam ini bisa berbahaya bagi pemain khususnya dan untuk sepak bola Indonesia umumnya.

BACA JUGA:  Era Baru Rivalitas Italia dan Spanyol

Menurut salah seorang pemain di Piala Polda Jateng 2015–yang sebenarnya ingin disebutkan namanya tapi malu–mengaku bahwa ia dibayar untuk tiap pertandingan yang ia jalani saja, sama seperti sistem yang berlaku di turnamen sepak bola antarkampung atau tarkam. Lain halnya ketika mereka bermain di kompetisi resmi PSSI di mana setiap pemain memang harus terikat kontrak yang jelas. Peraturan PSSI nomor 01/PO-PSSI/I/2011 pasal 3 menyebutkan bahwa setiap pemain diharuskan memiliki kontrak atau perjanjian kerja tertulis dengan klub masing-masing dengan waktu kontrak/perjanjian kerja minimal 1 (satu) tahun. Tentu dalam kontrak itu bakal tercantum kesepakatan dari tim dan pemain termasuk gaji dan durasi kontrak itu sendiri untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

Saat kompetisi PSSI masih berjalan reguler, tarkam sangat dihindari karena tidak ada jaminan secara jelas. Bambang Pamungkas memang pernah merasakan kerasnya tarkam dalam sebuah turnamen legendaris di Sukoharjo, Makamhaji Cup belasan tahun silam. Beruntung, salah satu petinggi Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) ini tak mengalami kecelakaan apa pun dan kariernya terus berlanjut serta menjadi pemain seperti yang kita kenal sekarang.

Lain Bambang, lain pula nasib Saktiawan Sinaga, pencetak gol terbanyak timnas di piala AFF 2007. Masa depannya sebagai pemain sepak bola terancam lantaran mengalami cedera putus otot dalam sebuah pertandingan tarkam di Medan belum lama ini. Jauh sebelum itu, tepatnya tahun 2013, salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, Boaz Solossa harus naik meja perawatan lagi setelah cedera lamanya kambuh hasil dari ikut tarkam di Lapangan Hamadi, Jayapura.

Di tarkam, pemainnya cenderung bisa bebas berlaku kasar karena dalam tarkam juga tak ada aturan yang mengikat secara jelas, berbeda dengan kompetisi resmi di bawah PSSI–walaupun tak jelas-jelas amat. Meski begitu, setidaknya hal yang dikhawatirkan di atas sudah tertulis hukumnya.

Dalam empat pertandingan Piala Polda Jateng yang digelar di Solo saja, sebanyak tiga kartu merah sudah keluar dari kantong wasit. Kala Persis Solo melawan PSIR Rembang, terhitung ada dua kartu merah; gambaran betapa keras gim sore itu. Karakter wasit Indonesia yang cenderung lunak dan permisif menyebabkan perilaku kasar pemain sering luput dari hukuman. Jika di kompetisi resmi saja masih sering terjadi, apalagi di turnamen tak resmi macam tarkam?

BACA JUGA:  Lazio Harus Tetap Menegakkan Kepala

Di ajang tarkam, para pemain semakin tidak takut akan sanksi Komisi Disiplin (Komdis) PSSI–yang sebenarnya juga tidak terlalu jelas–dan bebas berlagak layaknya karateka atau taekwondoin di lapangan hijau. Contoh nyata bisa terlihat pada laga semifinal antara Persibas Banyumas dan PSIS di stadion Satria. Dalam sebuah kericuhan yang tak terhindarkan itu, wasit terpaksa menerima bogem mentah dari pemain tuan rumah tepat di kepala yang tidak terima dengan keputusannya. Akibatnya, sang pengadil harus diamankan dan digantikan oleh wasit cadangan.

Sebelumnya, Fauzan Fajri, kapten PSIS Semarang juga diganjar kartu merah saat melawan Persis Solo di Manahan karena memukul salah seorang pemain Solo. Kemudian, jangan heran pula jika dalam turnamen seperti ini, pemain yang terkena hukuman akibat “sepak bola gajah” musim lalu pun masih bisa bermain. Ini menunjukkan bahwa turnamen ini jauh sekali dari kata resmi.

Pelatih Persijap, Anjar J.W. juga beranggapan bahwa turnamen ini bukan termasuk agenda PSSI dan tak ubahnya sebuah hiburan kampung saja. Jadi sah pula jika ia menurunkan pemain yang telah dihukum lima tahun tidak boleh beraktivitas di sepakbola Indonesia.

Kompetisi PPJ 2015 akan berakhir pada 5 Juli 2015 nanti. Namun sepertinya turnamen-turnamen serupa akan menyusul digelar mengisi kekosongan ini. Lupakan dulu kompetisi usia dini demi sepak bola Indonesia yang lebih baik meski sanksi FIFA melanda. Turnamen seperti inilah yang sialnya akan menjadi pemuas dahaga selama kata sepakat belum bisa dicapai oleh pihak PSSI dan Menpora.

 

Komentar