Bersama Alisson, All Is Well

Seperti inilah bunyi kicauan akun Twitter resmi Liverpool saat memastikan kiper andalan mereka yang berpaspor Brasil, Alisson Becker, resmi menandatangani perpanjangan kontrak untuk mengabdi di Stadion Anfield sampai musim panas 2027.

Presensi Alisson di bawah mistar The Reds untuk jangka waktu yang lebih lama bukan hanya menenangkan hati para suporternya, melainkan juga sang pelatih, Jurgen Klopp.

Semenjak didatangkan dari AS Roma medio 2018 silam, kiper berumur 28 tahun ini menjelma jadi sosok tak tergantikan.

Jujur saja, ketiadaan Alisson acap bikin Klopp dan suporter Liverpool pusing tujuh keliling sebab performa The Reds sering anjlok kala bermain tanpanya.

Bicara tentang Alisson, tentu kita tidak bisa melupakan satu momen ikonik di Premier League musim 2020/2021 kemarin.

Seperti lazimnya tugas seorang kiper, kemampuan mereka di atas lapangan lebih banyak diukur dari seberapa sering ia menahan tembakan lawan sehingga gawangnya tak kebobolan serta seberapa banyak ia membuat antisipasi guna meredam lawan mengekspos areanya.

Walau begitu, sepakbola modern juga menuntut para kiper masa kini untuk piawai juga dalam hal mendistribusikan bola buat menginisiasi serangan.

Dahulu pekerjaan ini senantiasa menjadi tugas para bek. Namun di masa sekarang, para penjaga gawang juga diharuskan memiliki atribut serupa.

Alisson sendiri melejit berkat kepiawaiannya memainkan bola di kaki serta punya kualitas umpan yang mumpuni.

Hal itu membuatnya bisa aktif terlibat dalam permainan. Atribut sweeper-goalkeeper tersebut menjadi nilai lebih dari pria kelahiran Novo Hamburgo ini.

Di bawah rezim kepelatihan Klopp, Alisson menjadi sosok penting yang sulit digantikan. Taktik gegenpressing yang diandalkan sang pelatih semakin lengkap dengan kehadiran mantan penggawa Internacional dan Roma serta pemilik 47 penampilan bersama tim nasional Brasil tersebut.

Setidaknya jika penampilan bek-bek Liverpool sedang melempem, Alisson menjadi garda terakhir yang bisa melakukan sesuatu untuk mengontrol bola.

Kedatangan Alisson ke kota pelabuhan bermula saat The Reds diterpa mimpi buruk berupa penjaga gawang yang tak bermain apik sepanjang musim 2017/2018.

Waktu itu, gawang Liverpool masih diperkuat oleh Simon Mignolet dan Loris Karius.

Rotasi penjaga gawang yang dilakukan oleh Klopp dari kedua penjaga gawang itu ternyata masih jauh dari harapan.

Inkonsistensi performa, pun blunder demi blunder yang dilakukan oleh kedua kiper tersebut menjadi salah satu penyebab Liverpool tidak bisa menjuarai Premier League dan Liga Champions pada musim 2017/2018.

Sampai pada akhirnya Alisson diboyong dari Roma dengan banderol sebesar 75 juta Euro. Tak main-main, Klopp bahkan langsung mendapuknya sebagai kiper utama Liverpool.

Tak butuh waktu lama bagi sosok kiper yang mengidolakan Manuel Neuer itu buat membuktikan dirinya sebagai penjaga gawang kelas atas.

Sementara pada musim 2018/2019, Alisson selalu bermain sebagai starter dalam setiap laga Premier League yang dilakoni The Reds.

Keberadaannya sangat penting untuk kampanye Liverpool yang akhirnya finis di posisi dua klasemen akhir dan cuma berselisih sebiji angka dari sang jawara, Manchester City.

Meski gagal di kancah domestik, Liverpool secara meyakinkan berhasil membawa pulang gelar Liga Champions keenamnya sepanjang sejarah.

BACA JUGA:  Kedekatan Liverpool dengan Dewi Fortuna

Grafik permainan Alisson yang meningkat juga terlihat dari sejumlah penghargaan individu yang didapatkannya.

Mulai dari Premier League Golden Glove 2018/2019, IFFHS World’s Goalkeeper 2019, The Best FIFA Goalkeeper 2019, dan juga UEFA Champions League Goalkeeper of The Season 2018/2019.

Manifestasi Neuer dalam Diri Alisson

Seperti sudah menjadi rahasia umum, sekali seorang kiper melakukan blunder, maka momen itulah yang akan diingat oleh para penonton.

Penonton takkan peduli tentang penyelamatan-penyelamatan yang pernah ia lakukan, apalagi blunder tersebut dilakukan pada momen-momen yang krusial.

Momen macam itulah yang selalu punya kesempatan untuk diadili di media sosial, bahkan dicatat dalam sejarah dunia sepakbola.

Begitu juga dengan Alisson. Ia bukanlah kiper yang sempurna dan sudah barang tentu pernah melakukan beberapa blunder.

Misalnya pada musim 2019/2020 lalu saat ia mendapatkan kartu merah karena menyapu bola dengan tangannya di luar kotak penalti.

Dalam beberapa laga, ia juga berusaha mengoper bola kepada rekan setim tetapi gagal dan berujung kebobolan atas kesalahannya sendiri.

Akan tetapi, inspirasi dari orang-orang yang ia idolakan dan hormati semakin menambah kepercayaan diri Alisson.

Meski catatan performanya bersama Liverpool pada musim 2020/2021 kemarin tak sebaik musim sebelumnya, masih ada hal positif yang dapat diingat dari Alisson.

Momen tersebut terjadi kala Liverpool bertandang ke markas West Bromwich Albion dalam laga lanjutan pekan ke-36 Premier League.

Laga itu begitu penting untuk The Reds demi finis di empat besar klasemen akhir dan meraih tiket lolos ke Liga Champions musim depan.

Skor pada menit ke-94 saat itu masih imbang 1-1. Alisson tahu jika peluit panjang akan segera dibunyikan oleh wasit pertandingan. Bola dalam situasi keluar lapangan dan Liverpool beruntung mendapatkan tendangan penjuru.

Alisson lantas merangsek ke area kotak penalti lawan guna membantu rekan-rekannya memanfaatkan peluang terakhir dalam laga tersebut.

“Aku mencoba untuk melihat ke arah bangku cadangan, tetapi tidak ada yang memanggilku, dan kemudian John Achterberg (pelatih kiper Liverpool) meneriakiku dengan penuh keyakinan,” ucap Alisson selepas pertandingan.

Seketika itu, Achterberg memberikan teriakan kepada Alisson untuk bangkit dan menyuruhnya masuk ke area kotak penalti lawan.

Alisson segera berlari meninggalkan zona nyaman dan mendekati mistar gawang lawan yang dijaga oleh Sam Johnstone.

Bola yang diempaskan melengkung dari tendangan sudut Trent-Alexander Arnold jatuh tepat di atas kepala Alisson. Sundulan kiper setinggi 191 sentimeter ini berhasil membuahkan gol yang indah.

Kebuntuan seakan pecah oleh gol ajaib tersebut. Malam itu, Liverpool tak jadi dirundung kesialan mengingat beberapa tembakan ke gawang West Bromwich Albion jelang menit-menit berakhir, gagal dieksekusi dengan baik.

Alisson merayakan gol itu bersama rekan setimnya sekaligus mempersembahkannya untuk mendiang sang ayah yang belum lama ini meninggal dunia. Bagi Alisson, ayahnya adalah seseorang yang paling berharga di hidupnya.

Dikutip dari halaman web Liverpool Echo, Alisson tampak begitu emosional setelah menceritakan perasaannya usai mencetak gol pertama bagi Liverpool.

BACA JUGA:  Museum Kecil untuk Alisson

“Aku begitu emosional atas semua yang terjadi denganku dan keluargaku, tetapi sepakbola adalah hidupku. Aku ingat saat mulai bermain sepakbola bersama ayahku. Aku berharap dia ada di sini untuk melihatnya. Aku yakin dia juga sedang merayakannya.”

Tak hanya Alisson, semua pemain Liverpool dibuat bahagia oleh gol itu. Bukan karena gol itu sudah memberikan kemenangan bagi The Reds, melainkan terciptanya sejarah baru untuk Liverpool dan Premier League.

Alisson menjadi kiper pertama Liverpool yang bisa mencetak gol dalam pertandingan kompetitif. Alisson juga menjadi kiper pertama dalam sejarah Premier League yang mencetak gol dengan teknik sundulan.

Apa yang dilakukan oleh Alisson mengingatkan saya pada tulisan Adam Williams atas sosok penjaga gawang Manuel Neuer, yang kebetulan juga idola Alisson.

Dalam tulisan itu, Williams mendeskripsikan Neuer sebagai pesepakbola yang berhasil mengubah wajah generasi penjaga gawang modern.

Ia mencontohkan secara simbolis kepercayaan diri Neuer saat mengambil tendangan adu penalti pada final Liga Champions musim 2011/2012.

Saat itu Neuer, yang berseragam Bayern Munchen, menghadapi penjaga gawang Chelsea, Petr Cech.

Kendati tendangan penaltinya sukses, Neuer gagal membawa Bayern juara di kandangnya sendiri, Stadion Allianz Arena.

Baru pada musim selanjutnya, ia berhasil membawa klub terhebat di tanah Jerman itu sebagai kampiun Liga Champions di Stadion Wembley.

Kunci kesuksesan Neuer sebagai kiper adalah ia berusaha memikul tanggung jawab ganda sebagai seorang penjaga gawang modern yakni bertahan sekaligus menyerang.

Neuer menjadi contoh sweeper-goalkeeper yang lihai mendistribusikan bola, sekaligus pandai memancing pergerakan lawan.

Dalam momen-momen krusial, kepercayaan dirinya bisa diandalkan untuk membantu rekan-rekan setimnya.

Alisson mungkin sedang mencoba memanifestasikan apa yang sudah dilakukan oleh Neuer.

Melalui akun Instagramnya, kapten Bayern yang kini berusia 35 tahun itu juga sempat memberikan apresiasi atas gol indah Alisson dengan memberikan takarir, “What a goal my friend”.

Ini bukan tugas yang mudah dikerjakan sebagai penjaga gawang. Konsistensi dan kepercayaan diri perlu ditempa berkali-kali seperti kata pepatah Jepang ‘deru kui wa utareru‘ atau paku yang menonjol harus dipukul berkali-kali agar ia tidak membahayakan keharmonisan tim.

Alisson tak perlu merasa jemawa berlebihan atas apa yang sudah ia berikan buat Liverpool. Sepakbola lagi-lagi adalah sebentuk kerja tim di atas lapangan.

Selama Alisson masih bugar, pos penjaga gawang Liverpool untuk musim-musim selanjutnya akan tetap jadi miliknya.

Kian manis, hal itu semakin mengonfirmasi bahwa keberadaan Alisson bikin semuanya ‘all is well‘.

Musim lalu Alisson memang gagal memberi hadiah untuk The Reds. Namun hal itu bukanlah akhir dari segalanya.

Yakinlah pada musim baru yang akan segera bergulir, Alisson bakal tampil lebih baik demi menyumbangkan gelar-gelar lainnya untuk klub. Semoga saja cedera tak lagi mengganggunya.

Komentar
Aditya Rizki
Blogger, pengembang web, dan penjaga gawang di fandom.id. Fans Liverpool. #YNWA