Bojan Krkic yang Terbenam Ekspektasi

Menjadi bocah ajaib yang punya kemampuan olah bola eksepsional serta dilabeli status wonderkid bak sebuah kehidupan penuh mimpi bagi Bojan Krkic.

“Kau anak ajaib, selalu jadi idola. Kau anak ajaib, memang sungguh jenius”.

Mungkin sebagian besar dari kita masih ingat penggalan lirik lagu berjudul Anak Ajaib yang menjadi original soundtrack sinetron dengan judul serupa dan dilantunkan oleh Joshua Suherman tersebut.

Sinetron yang bisa membuat kita tergelak itu seperti ajang di mana Joshua mematenkan statusnya sebagai anak ajaib karena sudah beken sedari kecil. Selain suaranya yang merdu, kemampuan aktingnya pun jempolan.

Apa yang dialami Joshua sebetulnya mirip dengan Bojan walau berbeda bidang. Lahir di Linyola pada 28 Agustus 1990, ia masuk ke salah satu akademi sepakbola top, La Masia, sejak usia 9 tahun.

Ia dikenal sebagai bocah yang mahir mengolah bola, punya kecepatan lari mumpuni, teknik menendang yang akurat serta pergerakan mematikan. Bakat besarnya ia dapatkan dari sang ayah, Bojan Krkic Sr., yang mantan pesepakbola era 1980-an.

Kehebatan Bojan bersama tim junior Barcelona tercermin dengan 900 gol yang ia ukir. Performa itu pula yang bikin dirinya masuk ke dalam Tim Nasional Spanyol kelompok umur.

Ia menjadi pencetak gol terbanyak Piala Eropa U-17 2006 di Luksemburg. Spanyol sendiri saat itu mengakhiri kompetisi dengan finis sebagai tim peringkat tiga.

Setahun berselang, masih dalam ajang serupa yang kali ini diselenggarakan di Belgia, Bojan sukses membawa Spanyol menjadi kampiun. Kian manis, ia juga keluar sebagai Pemain Terbaik.

Pencapaian itu dilengkapinya dengan gelar Sepatu Perunggu di Piala Dunia U-17 2007 di Korea Selatan. Bojan melesat sebagai pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang turnamen.

Selepas ajang tersebut penampilannya makin melejit dan Minggu, 16 September 2007, menjadi hari yang teramat spesial untuk Bojan. Hari itu akan terus ia ingat sepanjang hidup.

Pasalnya, pada hari itulah dirinya merasakan debut profesional bersama Barcelona saat bertandang ke Osasuna. Bojan masuk pada menit ke-78 guna menggantikan Giovani dos Santos.

Debut itu juga menandai patahnya rekor Lionel Messi sebagai debutan termuda Blaugrana. Tatkala turun di kancah profesional untuk kali pertama, Messi berusia 17 tahun 3 bulan 22 hari pada 2004 silam sedangkan Bojan menginjak rumput Stadion El Sadar di usia 17 tahun 19 hari.

“Pada usia 17 tahun, hidup saya berubah total. Saya berangkat ke Piala Dunia U-17 pada bulan Juli dan tidak seorang pun yang mengenal saya. Namun ketika saya kembali dari sana, saya bahkan tidak bisa berjalan di jalanan. Beberapa hari kemudian saya melakukan debut melawan Osasuna di La Liga. Lalu tiga atau empat hari kemudian saya bermain di Liga Champions. Kemudian saya mencetak gol profesional pertama saat bertanding melawan Villarreal. Setelahnya Timnas senior Spanyol memanggil”, terang Bojan seperti dilansir dari The Guardian.

Penampilan apiknya bersama tim utama Barcelona ketika itu membuat sosok setinggi 170 sentimeter ini bermandikan pujian serta decak kagum.

“Bojan adalah harta karun”, begitu sanjungan pelatih Barcelona saat itu, Frank Rijkaard.

Sedangkan di mata banyak pendukung Barcelona, Bojan tak ubahnya “The Next Lionel Messi”. Sama-sama memegang rekor pemain termuda Blaugrana, mempunyai gaya main dan posisi yang serupa serta atribut fisik yang bagai pinang dibelah dua.

Akan tetapi, banjirnya pujian yang diterima Bojan membuat ekspektasi yang muncul untuknya kian meninggi. Pada akhirnya, hal ini membuat Bojan seperti pohon yang tumbang dihantam badai.

Ia tak mampu mengatasi hal tersebut dan melahirkan tingkat kecemasan tinggi pada dirinya.

“Kecemasan memengaruhi tiap orang secara berbeda. Saya pernah berbicara dengan seseorang yang merasa jantungnya berdetak 1.000 kali per menit. Sedangkan saya merasakan pusing, kesakitan yang konstan 24 jam sehari. Ada tekanan di kepala saya, terasa nyeri, dan tidak pernah hilang. Saya merasakan pusing yang hebat, kewalahan, dan panik”, ungkap pemilik 1 caps bersama Timnas Spanyol itu.

BACA JUGA:  Kesetiaan Willem Jan Pluim pada PSM Makassar

Di tengah kalut yang sedang ia alami, Luis Aragones menghubunginya dan mengatakan akan membawa Bojan berangkat ke Swiss untuk memperkuat La Furia Roja yang berlaga di Piala Eropa 2008.

Sebuah kesempatan yang seharusnya bikin ia riang gembira. Ironis, hal itu malah membuatnya tertekan sehingga dengan berat hati Bojan belum menyanggupi panggilan Aragones.

Carles Puyol sebagai kaptennya di Barcelona dan Timnas Spanyol sempat berusaha membujuknya untuk tetap terbang ke Swiss. Namun Bojan lebih memprioritaskan proses pengobatannya dibanding hal tersebut sehingga pendiriannya tidak berubah.

Dirinya ingin kesehatan mentalnya membaik dan kariernya di masa depan juga terjamin. Terkadang hal semacam inilah yang luput dari perhatian banyak orang. Entah itu rekan setim, pelatih, atau bahkan para suporter.

Tepat satu hari setelah telepon dari Aragonés serta bujuk rayu Puyol, pengumuman resmi anggota Timnas Spanyol di Piala Eropa 2008 diumumkan. Nama Bojan memang tak tercantum di sana.

Alih-alih menjadi lebih tenang, pesepakbola yang memiliki darah Serbia ini justru dihujat media-media Spanyol. Ia dianggap sengaja menolak panggilan Aragones dan tidak peduli dengan kiprah La Furia Roja.

Kabar yang sangat memojokkan itu membuat pikirannya semakin kacau dan diliputi perasaan cemas.

“Saya ingat ketika sedang berada di Murcia dan orang-orang menghina saya. Mereka tidak mengerti. Mereka hanya berpikir saya menolak untuk bermain. Itu hal sulit dan terasa lebih menyakitkan adalah berita itu mungkin berasal dari RFEF (federasi sepakbola Spanyol). Bagaimana Anda bisa memanggil saya ketika Anda berbicara dengan saya sehari sebelumnya? Apakah Anda tahu bagaimana kondisi saya (fisik dan mental) secara pasti? Lalu berita itu tiba-tiba muncul di televisi dan internet. Saya merasa sangat sendirian, saya ketakutan, saya sakit, saya kewalahan dan saya tidak tahu apa yang mesti saya lakukan”.

Dengan tujuan memperbaiki reputasinya di hadapan publik Spanyol, Bojan segera melakukan wawancara di kanal televisi milik klubnya, Barca TV.

Dalam wawancara itu sang pemain mengatakan bahwa dirinya begitu kelelahan dan membutuhkan masa rehat sehingga tidak bisa ikut membela negaranya di pagelaran akbar sepakbola Eropa tersebut.

Alasan yang diungkapkan Bojan nyatanya tidak banyak berpengaruh. Namun ia tak punya banyak pilihan selain melakukan wawancara tersebut.

Seperti yang kita tahu tanpa keikutsertaan Bojan dalam rombongan Timnas Spanyol, mereka sukses menjadi kampiun Piala Eropa 2008. Entah disesali atau tidak, Bojan sudah melewatkan satu momentum berharga dalam kehidupannya.

Baiat sebagai “The Next Lionel Messi” lalu insiden dengan RFEF, konflik dengan media-media Spanyol, ditambah lagi kepergian Rijkaard, pelatih yang begitu percaya pada kemampuannya di Barcelona, memengaruhi psikis dan permainannya di atas lapangan. Penampilan Bojan kemudian cenderung tidak stabil.

Walaupun di bawah Pep Guardiola yang menjabat sebagai pelatih baru dirinya merengkuh banyak gelar mulai dari La Liga Spanyol, Copa del Rey, Supercopa de España, Liga Champions, Piala Super Eropa hingga Piala Dunia Antarklub, kesempatannya bermain teramat minim.

Menurut data Transfermarkt, tiga musim bersama Pep, Bojan hanya mendapat 4.878 menit bermain. Perjalanannya di Stadion Camp Nou pun berakhir pada musim keempat. Ia memilih pergi demi mendapat kesempat bermain yang lebih banyak.

AS Roma yang ketika itu meyakini potensi yang belum padam dalam diri Bojan, mendaratkannya ke Stadion Olimpico dengan mahar 12 juta Euro dan harus menambah sekitar 28 juta Euro jika ingin membatalkan klausul buy back Barcelona pada tahun 2013.

BACA JUGA:  Kesalahan Francesco Totti Adalah Bertahan di AS Roma

Nahas, apa yang diharapkan Roma dari penyerang yang satu ini bak impian semu. Bojan tampil inkonsisten dengan catatan 33 kali penampilan dengan 7 gol dan 2 asis bersama I Giallorossi pada musim 2011/2012.

Kontribusinya yang tidak signifikan itu membuat Roma meminjamkan Bojan ke klub Serie A lainnya yaitu AC Milan pada musim 2012/2013. Bak kesialan yang enggan menjauh, klub Kota Mode itu dirinya juga tak mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Total, Bojan hanya bermain 27 kali seraya mengepak 3 gol dan 3 asis di seluruh kompetisi. Alhasil, pihak I Rossoneri pun mengembalikannya ke Roma usai masa peminjaman berakhir.

Roma yang tak lagi membutuhkan kemampuan Bojan memilih memulangkannya ke Barcelona dibanding mengeluarkan 28 juta Euro untuk membatalkan klausul buy back untuknya yang dianggap jauh dari harapan.

Kepulangan Bojan ke tanah Catalan jelas tidak begitu dibutuhkan mengingat pada musim 2013/2014, lini depan mereka dihuni Alexis Sánchez, Lionel Messi, Neymar, dan Pedro Rodriguez.

Hasilnya, jalan tengah dipilih untuk kepentingan kedua belah pihak. Bojan pun sepakat. Ia lalu terbang ke Belanda untuk menjalani masa pinjaman di Ajax Amserdam supaya beroleh menit bermain yang cukup.

Kendati bermain di 32 laga dan mengukir 5 gol serta 5 asis dan sukses mengantar De Godenzonen menjadi kampiun Eredivisie 2013/2014, tim tersukses di Negeri Kincir Angin itu ogah mempermanenkannya. Bojan lantas pulang lagi ke Barcelona.

Mujur pada musim panas 2014, klub asal Inggris, Stoke City, berkenan untuk merekrutnya dengan mengeluarkan fulus senilai 1,8 juta Euro. Bojan menandatangani kontrak selama empat musim bersama The Potters.

Musim perdanannya di Negeri Ratu Elizabeth berjalan cukup mulus. Bojan turun di 18 pertandingan dengan gelontoran 5 gol yang membantu Stoke meraup poin penuh kala berjumpa Arsenal, Everton, Leicester City, dan Tottenham Hotspurs.

Ironis, satu setengah musim berikutnya, performa Bojan naik dan turun. Alhasil pihak klub memilih untuk meminjamkannya ke klub lain.

Kariernya lalu dilanjutkan bersama tim Jerman, FSV Mainz, selama setengah musim. Lalu kembali ke Spanyol buat membela Deportivo Alaves untuk semusim penuh.

Per musim panas 2019, masa kerja Bojan di Stoke pun selesai pasca-sepakat menyudahi kerja sama. Pria berzodiak Virgo ini lalu merantau ke Kanada untuk bergabung dengan salah satu kontestan Major League Soccer (MLS), Montreal Impact.

Bersama klub yang kini bernama CF Montreal itu performa yang Bojan tunjukkan tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Bermain 29 kali, ia hanya mengemas 7 gol.

Kepercayaan Montreal padanya pun luntur sehingga tak memperpanjang durasi kerjanya. Tanpa kejelasan nasib di Kanada, Bojan lalu mengiyakan tawaran klub asal Jepang, Vissel Kobe, per Agustus 2021 kemarin.

Hingga tulisan ini dibuat, ia baru merumput 6 kali di ajang J. League dan bikin 1 gol. Dirinya juga belum pernah tampil penuh bersama Vissel.

Mungkinkah nasib Bojan di Jepang akan sama seperti petualangannya selama ini atau ada yang berubah dari eks anak ajaib ini?

Harapan dan kenyataan sering berselisih jalan. Label “The Next Lionel Messi” yang bersandar di pundaknya pada usia 17 tahun ternyata terlalu berat untuk dipikul. Bukannya tampil hebat, penampilannya malah stagnan dan acap di bawah rata-rata.

Kiprahnya selama ini menjadi gambaran nyata bahwa ekspektasi terhadap Bojan justru membuat kariernya tak mulus. Namun di usianya yang sudah 31 tahun, masih tersimpan kesempatan baginya untuk sekadar membuktikan kemampuan.

Bukan sebagai “The Next Lionel Messi”, tetapi sebagai Bojan Krkic Perez.

Komentar
Penggemar sepakbola yang sedikit cemas, banyak senyumnya. Bisa disapa via akun Twitter @RezzaPrismadana