Buah Kesabaran yang Dipetik Davide Calabria

AC Milan sepertinya tidak pernah merasa kekurangan pemain berbakat, terutama yang lahir dari rahim akademi mereka. Banyak lulusan dari akademi yang kemudian menjadi pemain besar saat membela I Rossoneri maupun kesebelasan lainnya. Franco Baresi, Paolo Maldini, dan Gianluigi Donnarumma adalah beberapa contohnya.

Dua sosok pertama bahkan tercatat sebagai one club men. Pasalnya, baik Baresi maupun Maldini hanya membela panji Milan sepanjang karier hebat mereka di lapangan hijau. Keduanya kini ada dalam struktur kepengurusan klub, Baresi dengan jabatan Wakil Presiden Kehormatan, dan Maldini dengan status Direktur Teknik.

Sementara figur Donnarumma yang melejit sebagai kiper nomor satu tim sejak beberapa musim silam, tampaknya ingin mengikuti jejak dua nama legendaris tersebut. Walau perpanjangan kontraknya selalu menimbulkan riak-riak kecil karena negosiasi dengan sang agen yang kerap alot, Donnarumma beragenkan Mino Raiola, tetapi Donnarumma selalu menunjukkan kemauannya untuk senantiasa memakai kostum I Rossoneri.

Produk AC Milan Primavera

Seiring dengan melesatnya Donnarumma, beberapa jebolan akademi yang lain turut mengikuti jejaknya. Misalnya saja Davide Calabria, Matteo Gabbia, dan putra sang legenda, Daniel Maldini. Saat ini, ketiganya tercatat ada di dalam skuad tim utama Milan.

Khusus Calabria, ada perjalanan menarik yang wajib kita simak darinya. Melakoni debut pada usia 18 tahun dalam laga kontra Atalanta pada 30 Mei 2015 silam, butuh perjuangan ekstra keras dan cerdas darinya agar dapat tampil secara reguler.

Berposisi sebagai bek kanan, Calabria awalnya jadi pilihan kesekian di tim setelah Ignazio Abate, Andrea Conti dan Mattia De Sciglio. Tak heran bila di momen awal memperkuat tim utama Milan, jumlah penampilan Calabria begitu minim.

Menjadi pemain pelapis memang menjemukan. Namun sebagai sosok yang masih belia, Calabria sadar jika langsung menembus starting eleven bukan pekerjaan ringan. Maka dirinya pun berikrar untuk selalu sabar dan tekun berlatih guna meningkatkan kemampuan. Pada saat diturunkan, pemain setinggi 177 sentimeter ini berusaha mati-matian agar penampilannya tak mengecewakan sehingga peluangnya merumput tetap ada.

BACA JUGA:  Jerome Boateng dan Touchdown ala American Football

Seiring dengan penurunan performa Abate, seringnya Conti cedera dan hengkangnya De Sciglio, Calabria menemukan jalan yang tepat untuk melesat sebagai andalan baru di tubuh skuad. Per musim 2017/2018, jumlah penampilannya kian meningkat.

Walau demikian, presensi Calabria di skuad Milan juga tak melulu nyaman. Berulangkali ia disebut sebagai pemain dengan kemampuan biasa-biasa saja sehingga rumor kepergiannya dari Stadion San Siro juga terus menyeruak. Bahkan konon ada kesebelasan asal Spanyol yang siap menampungnya andai dilego I Rossoneri. Selain itu, media juga kerap mengabarkan kalau manajemen Milan ingin mencari bek kanan dengan kemampuan eksepsional yang dapat diandalkan dalam jangka waktu lama.

Namun Calabria tetap tenang. Alih-alih gusar dengan semua isu yang muncul, ia fokus menempa dirinya agar sesuai dengan standar kebutuhan Milan akan bek kanan berkualitas. Sebuah hal yang kemudian terwujud di era kepelatihan Stefano Pioli.

Kebangkitan Pasca-Lockdown

Salah satu momen yang jadi titik balik kiprah Calabria terjadi pada 15 Juli 2020. Saat itu, ia diturunkan sebagai pengganti Conti dalam partai melawan Parma. Bermain 45 menit, Calabria tampil ciamik dengan membawa I Rossoneri menang 3-1.

Pekan berikutnya menghadapi Bologna, ia dipercaya menjadi starter oleh sang pelatih. Hal itu dijawab Calabria secara brilian. Tak sekadar membawa Milan menang 5-1, Calabria juga sukses mencetak sebiji gol seraya tetap membentengi gawang Donnarumma. Sejak saat itu, posisi bek kanan nomor satu jatuh ke genggamannya.

Pada musim 2020/2021 yang sudah berlangsung 19 giornata, Calabria tak pernah sekalipun absen. Ini menjadi bukti jika Pioli meyakini pemuda kelahiran Brescia ini. Laman WhoScored mencatat Calabria sudah menghabiskan waktu 1673 menit di lapangan. Ia juga mengukir 3,6 tekel per laga, 1,3 intersep per laga, dan 2,1 sapuan per laga. Atribut-atribut defensif ini menunjukkan betapa sentralnya keberadaan Calabria di lini belakang Milan.

BACA JUGA:  Vitalnya Peran Marcelo Brozovic di Inter

Sementara dalam fase ofensif, Calabria punya catatan dua gol dan sebiji asis serta 0,6 giringan per laga plus 0,8 umpan kunci per laga. Artinya, saat membantu serangan Calabria juga krusial kendati ia tak sering mengelabui lawan dengan gocekannya.

Performa meningkat yang ditunjukkan Calabria belakangan ini bahkan diapresiasi pelatih tim nasional Italia, Roberto Mancini. Sang pemain diberikannya kesempatan melakoni debut dengan seragam Gli Azzurri pada 11 November 2020 kemarin saat bersua Estonia. Andai terus konsisten, kesempatannya untuk masuk ke dalam skuad Italia yang berlaga di Piala Eropa 2020 mendatang juga terbuka lebar.

Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai di kemudian hari. Adagium ini pas sekali dengan perjalanan karier Calabria sejauh ini. Ketimbang mengikuti hawa napsu untuk bermain reguler secepat mungkin tanpa menempa kemampuan terlebih dahulu (sehingga menerima tawaran klub lain), ia memilih sabar (dan terus berlatih untuk mendapat tempat di skuad Milan). Baginya, kunci untuk tampil prima dan bisa mendapat kepercayaan pelatih adalah kualitas diri yang elok.

Bersama Donnarumma, Calabria menjadi representasi akademi I Rossoneri yang produktif menelurkan pemain berbakat. Dan seiring berjalannya waktu, dirinya terus beroleh kepercayaan untuk bermain secara reguler dan jadi pilihan nomor satu di posisinya. Maka jangan kaget andai pemain bernomor punggung 2 ini kelak meniru langkah Baresi dan Maldini dengan menghabiskan seluruh kariernya bersama klub yang berdiri tahun 1899 tersebut.

Komentar
Fisioterapis yang biasa saja, pegiat Football Manager dan penggila AC Milan yang biasa saja juga, sih. Bisa disapa di akun Twitter @rifqiannafi.