Buah Pemikiran Ancelotti dalam Kebangkitan Everton

Sempat mengejutkan pada pekan-pekan awal Liga Primer Inggris musim 2020/2021, grafik Everton mengalami penurunan drastis per akhir Oktober hingga sepanjang November. Penyebabnya apalagi kalau bukan empat kekalahan dari lima pertandingan yang mereka lakoni.

Alhasil, The Toffees yang sempat menghuni puncak klasemen melorot perlahan-lahan sampai peringkat kesembilan. Pengamat pun menilai bahwa Everton kembali ke habitatnya sebagai tim papan tengah kendati materi pemainnya di musim ini jauh lebih mentereng. Sentuhan Carlo Ancelotti pun dinilai tak seajaib dahulu.

Keadaan tersebut bikin Evertonian meradang. Keinginan untuk melihat tim kesayangan mereka jadi lebih baik seakan masih jauh panggang dari api. Banyak dari mereka yang mulai realistis. Ya, Dominic Calvert-Lewin dan kolega memang bukan tim unggulan, maka kembali ke papan tengah adalah keniscayaan.

Namun bukan Ancelotti namanya kalau akhirnya pasrah saja dengan nasib tim yang ia asuh. Berbekal pengalaman segudang yang dimilikinya, plus kemauan keras skuadnya untuk berbenah, periode gelap yang menjamah Everton menemui ujungnya sejak pekan ke-12.

Secara berturut-turut, The Toffees mampu menjungkalkan lawan-lawannya (Chelsea, Leicester City, Arsenal, dan Sheffield United) dalam empat gameweek buat mengatrol lagi posisinya ke papan atas. Hebatnya, kemenangan itu diraih dalam partai kandang maupun tandang. Artinya, mentalitas anak asuh Ancelotti mulai membaik sehingga tampil elok saat bermain di mana saja.

Perbaikan di Lini Belakang

Salah satu yang paling mencolok dari peningkatan performa Calvert-Lewin dan kawan-kawan adalah semakin kokohnya lini belakang. Pada sebelas laga awalnya di Liga Primer Inggris, The Toffees cuma sekali tak kebobolan. Itu pun terjadi pada pekan perdana melawan Tottenham Hotspur.

Selebihnya, Jordan Pickford selalu dipaksa memungut bola dari dalam gawangnya. Bahkan, tim promosi sekelas Fulham dan West Brom, bisa mengoyak jala tim asuhan Ancelotti sebanyak dua kali saat bertemu.

BACA JUGA:  Phil Jones dan Marcos Rojo: Tembok Ideal yang Sempat Terpinggirkan

Sang gaffer tentu sadar jika sektor ini wajib dibenahi bila ingin memamerkan aksi yang lebih apik dan kembali ke persaingan di papan atas. Dalam sesi wawancara usai pertandingan kontra Manchester United, pria kelahiran Reggiolo itu berujar bahwa tim asuhannya bertahan dengan buruk dan membuat lawan dapat mencetak gol dengan mudah.

Ancelotti menilai pergerakan para pemain belakangnya sangat lambat dan mudah dieksploitasi lawan, terutama dalam laga kontra United saat itu. Dari komposisi yang ada, Seamus Coleman, Lucas Digne, Michael Keane, dan Yerry Mina adalah gacoan Ancelotti guna melindungi Pickford di bawah mistar.

Masing-masing nama jelas punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, tetapi Ancelotti menilai mereka adalah opsi terbaik untuk dimainkan. Sayangnya, Coleman dan Digne giliran menepi lantaran cedera. Situasi demikian disambut pria berambut putih itu dengan memainkan Mason Holgate dan Benjamin Godfrey meski keduanya bukan fullback. Walau lebih muda, dua nama tersebut mampu menjawab kepercayaan Don Carlo.

Keduanya tampil solid sehingga duet Keane-Mina tak keteteran saat diserang lawan. Ya, dibanding duo Coleman-Digne, Holgate dan Godfrey diinstruksikan untuk lebih statis dalam bermain alias tak banyak membantu serangan. Lini belakang yang semakin kompak dan Pickford yang mulai jarang bikin blunder membantu Everton memperbaiki performa.

Dalam empat pertandingan pamungkasnya yang selalu berujung dengan angka sempurna, The Toffees membukukan tiga cleansheet. Luar biasa, bukan? Tim selevel Chelsea dan Leicester yang lini depannya dihuni nama-nama beken layaknya Olivier Giroud, Timo Werner, dan Jamie Vardy, dibuat tak berkutik.

Mengurangi Ketergantungan pada Calvert-Lewin

Bukan hanya lini belakang yang diservis Ancelotti, lini serang tim asuhannya juga dibenahi secara intensif. Salah satu yang paling mencolok adalah ketergantungan kepada Calvert-Lewin yang coba dikurangi. Selama ini, striker jangkung tersebut jadi sumber gol utama Everton.

BACA JUGA:  Leicester City: Kurcaci yang Merasa Sebagai Raksasa

Supaya tak kecolongan, lawan pun menerapkan skema permainan yang membatasi ruang gerak Calvert-Lewin. Selain dengan pengawalan ketat, ia juga sering kedapatan ditempel lebih dari satu orang pemain belakang. Hal itu sendiri cukup berhasil sebab produktivitas Calvert-Lewin agak merosot belakangan ini.

Beruntung, Ancelotti sudah punya resep untuk keluar dari problem tersebut. Bermodal pemain-pemain ofensif berkualitas dari sektor tengah macam Alex Iwobi, Gylfi Sigurdsson, dan Richarlison, gebrakan dari lini kedua The Toffees benar-benar merepotkan lawan sekaligus memberi opsi tambahan dalam mengeksekusi peluang. Apalagi suplai dari fullback juga berkurang dengan gaya main Holgate dan Godfrey.

Dalam lima partai Liga Primer Inggris terakhir yang dijalani Everton, Iwobi menyumbang satu asis, Sigurdsson memborong dua gol serta mengepak satu asis, sementara Richarlison bikin satu gol dan satu asis. Kekuatan di lini tengah klub yang berkandang di Stadion Goodison Park ini diyakini makin menjadi-jadi ketika James Rodriguez sembuh dari cedera yang menimpanya.

Hasil-hasil positif yang terus dituai Everton membawa mereka kini duduk manis di peringkat dua klasemen sementara dan cuma berjarak sepelemparan batu (dua poin) dari sang rival sekota yang menempati puncak, Liverpool (dengan catatan The Reds belum memainkan pertandingannya di pekan ke-15).

Najwa Shihab pernah berujar bila kita cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Maka carilah buku itu dan rasakan nikmatnya jatuh cinta pada membaca. Everton pun begitu, mereka cuma butuh satu kemenangan untuk memulihkan kepercayaan dirinya, bangkit dan kembali ke jalan yang benar. Sebuah orkestra yang dikomandoi seorang maestro berjuluk Don Carlo.

Komentar
Penggemar Persija dan Juventus yang bisa disapa di akun Twitter @gerrymaulanaaa