Camp Nou dan Kekalahan Ras Arya

Masih ingatkah anda sekalian dengan momen iconic Messi ketika berhadapan dengan Jerome Boateng pada pertandingan semifinal leg pertama yang mempertemukan kesebelasan FC Barcelona melawan raksasa asal Bavaria berlabel FC Bayern Munich yang dihelat di Camp Nou? Namun bukan bagaimana Messi mengelabui Boateng hingga tersungkur atau bagaimana Neymar menendang bola melewati selangkangan Neuer, melainkan bagaimana Neuer dengan apik memainkan peran sweeper keeper namun antiklimaks dan terdapat sekelumit fakta menarik atas kekalahan Bayern yang mungkin banyak dilupakan kebanyakan orang akibat euforia yang tak terbendung.

Sweeper keeper? Apakah itu? Posisi ini belum lama jadi perbincangan yang menghiasi dunia persepakbolaan modern, maka tidak heran apabila posisi ini kurang familiar atau belum banyak yang paham apa yang diperankan oleh posisi ini dalam sebuah skema permainan. Sweeper keeper ini hanya bisa dimainkan atau diperankan oleh pemain yang berposisi sebagai penjaga gawang saja, pengertian dari sweeper keeper ini secara garis besar adalah meningkatkan peran dari penjaga gawang dalam penyerangan dengan mencoba sesering mungkin untuk berinteraksi dengan bola (umumnya dengan passing) yang bertujuan untuk memberikan tanggung jawab ekstra kepada penjaga gawang untuk membantu penyerangan dari hal sekecil mungkin.

Peran sweeper keeper itu tereduksi dengan baik oleh sosok Manuel Neuer¸ kiper asli didikan Schalke 04 ini berhasil memainkan peran ini dengan sangat baik. Tak heran dalam pertandingan melawan FC Barcelona pun Neuer lagi-lagi mempertontonkan kepada para penonton bahwa ia adalah sweeper keeper pertama di dunia sepakbola modern. Namun dewi fortuna tak selalu berpihak selamanya kepada Neuer, di pertandingan ini dia mengalami kesialan. Kesialan itu bernama Leo Messi yang berhasil mempecundangi Neuer sebanyak dua kali yang memberikan stigma negatif bahwa Neuer tidak “becus” memainkan peran ini di depan publik Camp Nou. Sudah jatuh terkena chip pula.

Pengertian dari sweeper keeper ini secara garis besar adalah meningkatkan peran dari penjaga gawang dalam penyerangan dengan mencoba sesering mungkin untuk berinteraksi dengan bola (umumnya dengan passing)

Fakta menarik selain gagalnya Neuer memerankan sweeper keeper di pertandingan kali ini adalah, kekalahan bangsa Jerman yang kali ini diwakilkan oleh Bayern Munchen dalam cabang sepak bola dalam beberapa tahun terakhir. Jerman yang memang sudah sejak lama selalu ditakdirkan untuk unggul dalam semua bidang termasuk sepak bola yang baru-baru ini terdapat contoh nyata di mana timnas Jerman berhasil menjadi juara di Piala Dunia Brazil 2014 yang lalu. Keunggulan Jerman juga sudah terlihat dengan menghasilkan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia dalam diri Karl Marx, Immanuel Kant, Freidrich Nietzshce, Wolfgang Amadeus Mozart, Ludwig van Beethoven hingga Angela Merkel.

BACA JUGA:  Nostalgia Liga Primer Inggris: Nyeri Leher dan Tantangan Malam Hujan Berangin di Kandang Stoke City

Jika menilik sejarah, keunggulan ini didapat berkat eugenetika yang dilakukan oleh Adolf Hitler yang mulai dilakukan setelah ia menjadi kanselir Jerman dengan membunuh ras Gypsy dan Yahudi yang dianggap lemah. Hitler juga memposisikan bahwa bangsa Jerman yang berasal dari ras Arya (master rase) yan ditakdirkan untuk selalu lebih baik dari bangsa atau ras yang lain. Untuk itulah mengapa rasialisme pada tubuh Nazi begitu kentara dan ini merupakan awal mula terjadinya tragedi Holocaust.

Ciri ras Arya yang unggul adalah berbadan tegap dan berambut pirang. Di Bayern sendiri bisa diwakilkan oleh sosok Manuel Neuer, Bastian Schweinsteiger, Thomas Muller dan Holger Badstuber. Namun kesombongan ras Arya kali ini tidak terlihat pada pertandingan melawan FC Barcelona, terlihat para pemain FC Bayern terlihat bermain sangat hati–hati dan lebih sering memainkan bola di area pertahanan sendiri. Sekalipun berhasil melakukan penyerangan, para pemain FC Bayern terlihat seperti mentok dan mengalami deadlock apabila memasuki area pertahanan Barca, hal ini wajar karena Bayern sedang dilanda badai cedera kala itu.

Semua kejadian yang tertutupi oleh kaki-kaki kecil Messi ini terjadi di sebuah stadion bernama Camp Nou. Stadion megah yang dibangun pada tahun 1954 sampai dengan 1957 dan resmi dibuka pada tanggal 24 September 1957 yang diarsiteki oleh J. Soteras Mauri dan F. Mitjans Miro ini seketika berubah menjadi kuburan massal bagi para ras Arya yang diperintah oleh pria maskulin asal Catalan. Riuh di Camp Nou seusai pertandingan seolah–olah menjadi obat pemanis untuk menenggelamkan semangat bertanding khas Bavaria di leg kedua semifinal UCL musim 2014.

Kisah bersejarah yang terjadi di stadion yang awalnya berkapasitas 93.000 orang ini berhasil membungkam sikap sombong ras Arya yang mengalami impotensi seketika selama 90 menit membuktikan bahwa ras Arya tak selalu unggul dalam segala bidang seperti yang dikatakan oleh Hitler. All Hail Barca!!!!

Komentar
Mahasiswa jurusan sejarah yang sedang berusaha menyelesaikan studinya di salah satu universitas di semarang, penikmat sepakbola dari layar kaca setiap minggunya dan mantan pemain futsal tingkat jurusan.