Catatan Awal Musim Thomas Tuchel dan Kelahiran Kembali Matthias Ginter

Bundesliga edisi 2014/2015 mungkin menjadi salah satu musim yang cukup mendebarkan bagi para Die Borussen selama kesebelasan kesayangan mereka ini ditangani oleh Jurgen Klopp. Paruh pertama liga harus mereka diam di posisi dua terbawah, hanya unggul dalam jumlah gol dari peringkat terbawah pada saat itu, SC Freiburg. Meski pada akhirnya bisa menyelesaikan musim di posisi ke-7 Bundesliga dan menjadi runner-up DFB-Pokal, namun pencapaian di liga tersebut merupakan yang terburuk sejak era Borussia Dortmund bersama Klopp dimulai pada musim 2008/2009.

Debar pun kembali menyapa tatkala Klopp memutuskan untuk melepas jabatannya pada akhir musim 2014/2015 karena merasa sudah tidak pantas lagi memimpin pasukan Die Schwarzgelben melihat performa buruk yang dialaminya bersama Dortmund. Masa bakti Klopp bersama Dortmund selama tujuh tahun lamanya pun berakhir. Thomas Tuchel akhirnya didapuk sebagai suksesor Klopp.

Kedatangan Tuchel sejatinya bisa menerbitkan asa yang positif bagi publik Signal Iduna Park, dilihat atas pencapaian yang boleh dikatakan mengesankan bersama kesebelasan terdahulunya, FSV Mainz 05. Mainz sempat diantarkan ke peringkat lima pada klasemen akhir musim 2010/2011 dan pada musim terakhirnya bersama Mainz ia berhasil mengantarkan kesebelasannya tersebut bertengger di posisi ke-7 dan meraih tiket ke kompetisi Eropa. Apalagi terdapat kemiripannya dengan Klopp, yang sama-sama pernah melatih Mainz sebelum akhirnya diangkut ke Dortmund, sejenak mengizinkan timbulnya angan-angan kesuksesan yang akan diraihnya nanti berdasarkan kemiripan tersebut.

Namun jangan menutup pula kemungkinan yang meragu akan kapabilitas pelatih 42 tahun ini dalam meramu sebuah kesebelasan besar bila melihat rekam jejak kepelatihannya yang hanya berseliweran di kesebelasan seperti FC Augsburg II dan Mainz. Raihan impresif Dortmund pada awal musim 2015/2016 setidaknya bisa menjadi sebuah penegasan akan kapasitasnya sebagai calon pelatih hebat.

Dortmund telah melakoni 15 laga dalam berbagai ajang, dengan perincian satu kekalahan dan 11 kemenangan serta sisanya berakhir imbang. Kekalahan pertama yang dialami pada musim ini baru saja diperoleh ahad lalu di Bundesliga saat melawat ke Allianz Arena guna menjalani laga Der Klassiker melawan Bayern Munich. Tuchel dan armadanya harus menyerah pada laga prestius tersebut dengan skor yang amat telak, 5-1.

Kekalahan tersebut jelas menodai kesucian perjalanan Tuchel bersama Dortmund musim ini. Namun tidak serta-merta mampu menghapus hasil gemilang yang sudah ditorehkan Tuchel sejauh ini. Dortmund dibawanya kembali ke jajaran atas. Bahkan kesebelasan yang pernah diperkuat oleh Tomas Rosicky ini diantarkannya mencapai start terbaik dalam sejarah Bundesliga dengan mengemas lima kemenangan dalam lima laga awal Bundesliga dangan jumlah memasukkan dan kemasukkan 18-3. Dortmund pun sempat mencatatkan 11 kemenangan beruntun dari 11 laga awal di semua ajang kompetitif.

Tuchel bukan hanya telah melahirkan gairah kemenangan yang sebelumnya sempat hilang ditelan waktu, dari kesebelasan ini, namun ia juga mampu melahirkan kembali performa terbaik para pemainnya. Henrikh Mkhitaryan dan Pierre-Emerick Aubameyang menjadi dua sosok yang begitu menonjol pada awal musim ini.

Dari 15 pertandingan yang telah dijalani Dortmund, Mkhitaryan selalu bermain dengan sumbangsih sembilan gol dan delapan assist. Sedangkan Aubameyang sendiri hanya absen sekali dalam laga yang telah dijalani kesebelasannya itu dengan kontribusi 14 gol dan tiga assist. Auba juga selalu mencetak gol pada setiap pertandingan Bundesliga yang telah bergulir sejauh ini yakni sebanyak delapan spieltag.

Selain kedua pemain tadi, ada beberapa pemain lain seperti Marco Reus, Shinji Kagawa atau kapten kesebelasan Mats Hummels yang juga ikut memberikan kontribusi positif. Pemain-pemain baru seperti Julian Weigl dan Roman Burki pun tak kalah memikatnya dengan berhasil meraih tempat di tim utama menggeser pemain senior semodel Roman Weidenfeller dan Sven Bender.

BACA JUGA:  Geliat Red Bull di Dunia Olahraga

Dari beberapa nama pemain yang telah disebutkan di atas, ada satu nama lagi yang boleh dibilang cukup menonjol performa dan kontribusinya. Pemain yang penulis maksud adalah Matthias Ginter.

Saat era kejayaan Dortmund bersama Klopp dulu, mereka memiliki kuartet lini belakang yang tangguh dalam diri Lukasz Piszczek, Hummels, Neven Subotic dan Marcel Schmelzer beserta kiper Weidenfeller. Jika sedang berada dalam performa terbaiknya, sulit rasanya menggeser pemain-pemain ini dari posisi pemain utama.

Kelahiran kembali Matthias Ginter

Maka ketika manajemen tim mendatangkan Ginter dari Freiburg pada musim 2014/2015, mungkin timbul pertanyaan di benak banyak orang apakah pemain kelahiran 1994 ini mampu mendapat tempat di starting line-up. Berbekal catatan apiknya selama membela Freiburg, pesepak bola yang mengenakan nomor 28 di Dortmund ini memang memiliki potensi yang cukup besar.

Melakoni debut profesionalnya bersama Freiburg di paruh kedua liga musim 2011/2012 melawan FC Augsburg, pesepak bola yang pada saat itu baru saja menginjak usia ke-18 nya turun di 20 menit terakhir untuk kemudian menjadi pahlawan kemenangan bagi kesebelasannya lewat gol semata wayang yang dibikinnya pada pertandingan bersejarahnya tersebut. Alhasil, semenjak laga debut yang bak dongeng itu, Ginter kemudian menjelma menjadi pilar penting bagi Freiburg dalam dua setengah musim lamanya.

Ia pun dimasukkan Joachim Low ke dalam skuat Jerman di Piala Dunia 2014. Meski tidak sekalipun ikut bermain pada turnamen akbar tersebut, namun ia tetap menjadi bagian dari skuat yang pada saat itu berhasil menjuarai Piala Dunia untuk keempat kalinya.

Toh dengan pencapaian-pencapaian yang sudah diperolehnya dalam usia yang terbilang masih belia tersebut tidak lantas memuluskan perjalanan awalnya bersama Dortmund. Pada musim perdananya saja ia hanya mendapat jatah bermain sebanyak 14 pertandingan di liga. Itu pun tidak semuanya turun dari menit pertama. Ia pun lebih sering ditempatkan di posisi gelandang tengah, bukan bek tengah yang merupakan posisi yang sering ia perankan selama ini.

Penampilan tim yang tidak stabil turut menentukan performa para pemain Dortmund sendiri, tidak terkecuali bagi Ginter pribadi. Maka jangan bingung bila sinar terang yang diperlihatkan Ginter semasa masih berbaju Freiburg tak mampu dipindahkannya bersama kesebelasan barunya itu mengingat kondisi tim saat itu dan juga minimnya kesempatan yang ia dapat.

Memasuki musim 2015/2016, perhatian banyak terfokuskan kepada sang pelatih anyar, Tuchel, ketimbang pemain-pemain Dortmund itu sendiri. Wajar memang karena yang digantikan oleh Tuchel adalah seorang sosok yang begitu melekat bagi kesebelasan yang biasa juga disebut dengan BVB ini.

Perjalanan Ginter di bawah asuhan Tuchel awalnya tak terlalu menyenangkan. Pada empat laga awal kompetitif yang dijalani oleh Dortmund, Ginter hanya bermain sekali dan itu pun sebagai pemain pengganti di laga melawan Chemnitzer FC pada ajang DFB-Pokal. Masuk di menit ke-83 menggantikan Reus, ia diplot di posisi gelandang tengah, posisi yang kerap ia mainkan pada musim pertamanya bersama Dortmund.

BACA JUGA:  Mengikhlaskan Kepergian Achraf Hakimi

Pada laga kelima kompetitif Dortmund, tepatnya di babak kualifikasi Liga Europa melawan tuan rumah Odds BK, ia dipercaya turun sejak menit awal dan menempati posisi bek tengah. Ia tampil selama 90 menit penuh dan membawa kesebelasannya menang 4-3 setelah sebelumnya sempat tertinggal 0-3 terlebih dahulu.

Di pertandingan selanjutnya, kali ini di ajang Bundesliga menghadapi FC Ingolstadt 04 pada spieltag 2, ia kembali mendapat kepercayaan dari Tuchel untuk bermain dari menit pertama. Ia ditempatkan di posisi yang tak biasa, yakni di posisi bek kanan menggantikan Piszczek yang berhalangan tampil karena sedang mengalami cedera. Ginter pun membalas kepercayaan yang telah diberikan oleh Tuchel dengan mencetak gol pembuka dan memberi assist di gol terakhir yang dicetak oleh Aubameyang dalam kemenangan 4-0 yang diraih oleh kesebelasannya tersebut.

Dan sejak laga tersebut, posisi bek kanan dan starting line up berhasil digapai pesepak bola berpostur 189 cm ini. Hanya di dua pertandingan terakhir saja Ginter tak turun bermain, saat melawan PAOK di Liga Europa dan Bayern Munich di Bundesliga.

Dari 15 pertandingan yang telah dilalui Dortmund sejauh ini, Ginter telah bermain sebanyak 10 laga dengan sembilan di antaranya turun dari menit pertama. Yang menarik, dari 10 laga tersebut delapan di antaranya dilakoni di posisi bek kanan, di mana ia mampu mencetak dua gol dan delapan assist dari posisi barunya tersebut.

Torehan positif tersebut bisa dikatakan mengesankan. Mengesankan karena ia mampu menjalani peran barunya dengan begitu baik. Ginter pun sekarang menawarkan banyak pilihan kepada Tuchel. Ia bisa bermain di bek tengah, gelandang tengah atau pun di bek kanan. Kebetulan ketiga posisi tersebut telah dilakoninya di musim ini.

Namun melihat perkembangannya, posisi bek kanan bisa jadi merupakan posisi yang tepat baginya saat ini. Bukan hanya buat dirinya sendiri, tapi juga buat tim. Apa lagi mengingat performa Piszczek dan Erik Durm yang masih inkonsisten dan dililit cedera, penempatan Ginter di pos bek kanan bisa menjadi alternatif terbaik yang bisa diterapkan Tuchel.

Kepantasan Ginter bermain di posisi bek kanan memang masih harus terus diuji kelayakannya. Jika ia mampu menjaga konsistensi permainannya selama ini, setidaknya hingga akhir musim, maka Piszczek dan Durm sudah boleh mencemaskan kesempatan mereka bermain di tim utama Dortmund sejak jauh-jauh hari.

Peluang Ginter untuk menjadi langganan tetap di skuat utama tim nasional Jerman pun sangat besar bila ia mampu konsisten bermain baik di posisi barunya ini. Menilik posisi bek tengah yang akan jauh lebih sulit diraih karena telah bercokol nama Jerome Boateng dan Hummels di sana, maka posisi bek kanan akan lebih realistis untuk digapai. Terlebih sejak pensiunnya Philipp Lahm, pos bek kanan Der Panzer masih terbuka lebar bagi mereka yang ingin bertarung memperebutkan pos tersebut.

Terlepas dari itu semua, sudah sepatutnya Ginter berterima kasih kepada Tuchel. Karena lewat polesan dan kejelian pelatih inilah, performa maupun potensi yang sebelumnya tak terjamah dari dirinya bisa keluar dan dilahirkan kembali.

 

Komentar
Tidak percaya diri dengan tulisan sendiri, penganut aliran britpop yang (belum) taat, pemalas, bungkuk dan suka sekali makan pisang.