Ruang Publik dan Kopi di Warkop Pitulikur

Perlawanan terhadap ketidakadilan bisa muncul dari mana saja. Begitu pula perlawanan terhadap tirani yang coba mematikan Persebaya yang salah satunya bermula dari sebuah warung kopi.

Mereka adalah Para Pahlawan

Akibat kebusukan pengelolaan sepak bola Indonesia yang bersinggungan dengan kepentingan politik tertentu, Persebaya diatur sedemikian rupa agar degradasi hingga akhirnya coba dihilangkan. Tapi, sejarah tak akan pernah bisa dihapus. Dan Persebaya tidak mati. Klub itu masih ada dan hanya tinggal menunggu waktu untuk bangkit kembali.

Arsenal Berhati Nyaman: Sebuah Kritik Identitas

Keistimewaan Jogja dewasa ini sudah dikorup maknanya oleh para investor dan stakeholder rakus yang tak lagi mengindahkan adagium Hamemayu Hayuning Bawono. Agar tak kehilangan identitasnya, semua elemen Jogja bisa belajar dari Arsenal.

Klenik dalam Persepakbolaan Afrika

Di Afrika, praktik perdukunan nyaris tak bisa dipisahkan dari sepak bola. Sudah ada banyak kasus yang menunjukkan bahwa praktik klenik dan takhayul masih amat dipercayai di Benua Hitam. Namun, bagi Abedi Pele, praktik klenik ini tak lebih dari taktik psikologis semata.

Persebaya dalam Lembaran Buku

Persebaya adalah ikon kota Surabaya yang takkan pernah habis untuk diceriterakan seluk beluknya. Sejak tahun 2014, sudah ada tiga buku mengenai Persebaya yang ditulis dan beredar di masyarakat. Hal ini merupakan sebuah deja vu dari apa yang pernah terjadi pada dasawarsa 1980-an.

Tentang Nama

Menamai anak dengan nama berbau sepak bola memang sudah merupakan hal lazim. Biasanya, nama pemain lah yang diambil untuk menjadi nama si anak, akan tetapi, ada juga orang tua yang berani “berjudi” menamai anaknya dengan nama klub kesayangan.