Sepak bola adalah salah satu produk budaya populer. Kalimat tersebut sering kali kita dengar namun tak semua dari kita memahami betul maksud kalimat tersebut. Tulisan ini akan menguraikannya secara mendetail.

Sepak bola sejatinya tak hanya bisa dipahami sebagai sebuah olahraga 11 melawan 11. Lebih dari itu, sepak bola adalah sebuah teks yang maknanya sudah terlanjur univokal. Untuk melawan hegemoni atas pikiran tersebut, hadirlah 3sided Football.

Minuman keras (miras) sering disebut sebagai biang kerok berbagai kerusuhan dan tindak kriminalitas. Namun, siapa sangka, ciu--salah satu jenis miras yang identik dengan masyarakat kelas bawah dan kriminalitas--justru mampu menjadi pemersatu berbagai kelompok suporter sepak bola.

Perlawanan terhadap ketidakadilan bisa muncul dari mana saja. Begitu pula perlawanan terhadap tirani yang coba mematikan Persebaya yang salah satunya bermula dari sebuah warung kopi.

Akibat kebusukan pengelolaan sepak bola Indonesia yang bersinggungan dengan kepentingan politik tertentu, Persebaya diatur sedemikian rupa agar degradasi hingga akhirnya coba dihilangkan. Tapi, sejarah tak akan pernah bisa dihapus. Dan Persebaya tidak mati. Klub itu masih ada dan hanya tinggal menunggu waktu untuk bangkit kembali.

Keistimewaan Jogja dewasa ini sudah dikorup maknanya oleh para investor dan stakeholder rakus yang tak lagi mengindahkan adagium Hamemayu Hayuning Bawono. Agar tak kehilangan identitasnya, semua elemen Jogja bisa belajar dari Arsenal.