Celta Vigo (4-1) Barcelona : Permasalahan Staggering dalam Sistem Luis Enrique

VIGO, SPAIN - SEPTEMBER 23: Javier Mascherano (R) of FC Barcelona conducts the ball next to Pablo Hernandez of Celta Vigo during the La Liga match between Celta Vigo and FC Barcelona at Estadio Balaidos on September 23, 2015 in Vigo, Spain. (Photo by Alex Caparros/Getty Images)

Celta Vigo memberikan kejutan hebat kepada Barcelona — dan dunia sepak bola. Mencetak empat gol dan hanya kebobolan satu melawan tim yang diperkuat oleh alien bukanlah hal mudah.

Susunan pemain dan gambaran umum

1-celta

Kedua tim menurunkan skuat sesuasi ekspektasi kecuali Barcelona yang melakukan pergantian minor di mana Ivan Rakitic digantikan oleh Sergi Roberto. Sementara itu Jeremy Mathieu bermain di posisi fullback kiri dengan Adriano Correira hanya duduk di bangku cadangan. Tidak ada strategi khusus dari Barcelona untuk menghadapi Celta Vigo. Hanya saja terdapat sejumlah permasalahan struktural pada sistem permainan Luis Enrique.

Sementara itu Celta Vigo melakukan pendekatan energetik pada mekanisme pressing mereka. Celta Vigo bermain dalam skema 4-2-3-1/4-4-2 dengan orientasi berupa penjagaan terhadap pemain lawan ketika tidak menguasai bola. Namun penjagaan ini tidak dilakukan ala tim-tim Premier League, di mana struktur di dalam blok akan diabaikan yang berakibat pada buruknya kompaksi (ditambah dengan buruknya akses terhadap bola). Celta Vigo menerapkannya dengan pergeseran blok yang terpadu terhadap pergerakan bola. Orientasi ini akan memungkinkan mereka untuk menjaga akses terhadap bola secara konstan dan memberikan limitasi opsi umpan kepada pemain yang memegang bola sambil menjaga kompaksi horizontal yang cukup baik.

Permasalahan staggering dengan bola

Skema 4-3-3/4-1-4-1 yang diterapkan Barcelona menggunakan tiga pemain tengah yang agak pasif dalam menerapkan staggering ketika menguasai bola. Tidak ada staggering 1-2 atau 2-1 antara no.6 dengan kedua no.8 yang umum dijumpai dalam skema 4-3-3. Trio pemain di tengah ini umumnya berada dalam situasi hampir sejajar. Kedua pemain no.8 mereka akan beraksi di masing-masing halfspace yang telah ditentukan dengan pemain no.6 akan berada di antara mereka.

Pemosisian ini sebenarnya dilakukan untuk mengakomodasi dan menyeimbangkan okupansi ruang ketika Messi bergerak menuju area sentral, di mana no.8 yang berada di halfspace kanan akan lebih mudah mengakses ruang yang ditinggalkan Messi. Pergerakan Messi ke area sentral inilah yang kemudian akan menciptakan staggering yang lebih baik, di mana struktur yang tercipta akan meningkatkan koneksi antar lini. Struktur ini juga memungkinkan untuk melakukan penetrasi langsung. Yaitu dengan memanfaatkan Messi yang pressing resistance-nya sangat tinggi, untuk melewati sejumlah pemain yang memberikan pressure kepadanya sebelum membagi bola kepada rekannya yang lebih bebas.

2-celta

Minimnya staggering ini menyebabkan tidak adanya koneksi natural yang baik antara struktur yang lebih rendah dengan lini tengah, di mana muncul kesulitan untuk menstabilkan sirkulasi bola. Hal ini dikarenakan sejumlah pemain akan berada di zona lemah yang kapasitas strategisnya — terhadap posisi bola — sangat rendah, di mana mereka tidak dapat terlibat dalam sirkulasi bola. Selain itu Celta Vigo dapat dengan mudah mengorientasikan blok struktural mereka ketika melakukan pressing. Sehingga membuat mereka dapat mengarahkan Barcelona untuk tidak dapat mengakses sisi lemah ini agar lebih terlibat.

BACA JUGA:  Harapan Kebangkitan Feyenoord Rotterdam

Namun orientasi penjagaan pemain yang dilakukan oleh Celta Vigo pada titik tertentu terkesan terlalu agresif dengan Augusto dan Radoja — yang sama-sama mengisi pos no.6 — turut menerapkan man marking. Orientasi ini pada tataran praktis akan membuka celah di ruang antar lini, sehingga memunculkan isu terhadap stabilitas blok struktural Celta Vigo. Meskipun Celta mampu menjaga akses terhadap bola secara konstan, Barcelona masih memiliki opsi untuk keluar dari pressing yang diterapkan oleh Celta Vigo. Yaitu melalui pemain yang bergerak ke ruang antarlini. Celta mengantisipasi hal ini dengan menerapkan man marking terhadap pemain yang masuk ke ruang antar lini. Namun karena pemain yang melakukan man marking lebih mudah dikelabuhi, maka pada beberapa momen Barcelona berhasil keluar dengan mudah dari pressing yang diterapkan Celta Vigo. Begitu Barcelona dapat keluar dari pressing, maka mereka dapat menghubungkan kembali sirkulasi bola terhadap pemain-pemain yang awalnya “terjebak” di zona lemah.

Pemain-pemain yang mencoba untuk melakukan link-up ini berasal dari pemain-pemain yang mengisi struktur yang lebih tinggi, yaitu Messi, Suarez dan Neymar. Hanya saja link-up yang dilakukan oleh Suarez tidak seefektif Messi atau Neymar, karena untuk mengakses Suarez jalur umpan yang digunakan berada pada koridor vertikal. Sementara untuk mengakses Messi atau Neymar dapat menggunakan jalur umpan diagonal. Perbedaan jalur umpan ini sangat signifikan karena mempengaruhi posisi badan penerima bola di mana pada jalur vertikal akan lebih sulit untuk memutar badan dibandingkan dengan jalur diagonal.

Buruknya staggering di antara gelandang-gelandang Barcelona ini juga menyebabkan sulitnya untuk melakukan counterpressing yang efektif ketika link-up yang dilakukan Messi, Neymar atau Suarez gagal. Terutama ketika bola hilang di area sentral, tidak ada cover yang memadai bagi Busquets.

Permasalahan staggering tanpa bola

Ketika tidak menguasai bola Barcelona melakukan transposisi dari 4-1-4-1 ke 4-4-2 dengan Messi memosisikan dirinya Sejajar terhadap Suarez di lini pertama terutama di area halfspace kanan. Sementara Neymar sejajar dengan tiga gelandang lainnya di lini kedua. Pada beberapa momen Messi terlalu pasif sehingga membuat lini pertama Barcelona sangat mudah untuk dilewati. Pasifnya Messi ini menghadirkan permasalahan staggering di mana Barcelona akan kesulitan untuk mendapatkan akses yang baik terhadap sirkulasi bola Celta Vigo.

Permasalahan staggering ini memunculkan ruang di zona lima bagi Celta, oleh karena itu Luis Enrique menggunakan transposisi ke 4-4-2 sejajar untuk memberikan akses kepada lini keduanya terhadap sirkulasi bola di zona lima ini. Sisi buruknya adalah tidak adanya pemain yang menjaga ruang antar lini. Ruang ini sangat krusial karena dapat digunakan sebagai paspor untuk melakukan link-up antara struktur yang lebih rendah dengan struktur yang lebih tinggi.

3-celta

Penggunaan ruang antar lini sebagai paspor progresi dan penetrasi ini, direpresentasikan dengan sangat baik melalui proses yang mengawali gol pertama Celta yang dicetak oleh Nolito. Pada momen tersebut, sangat sulit bagi Mathieu untuk terus mengikuti Fabian Orellana karena Hugo Mallo akan segera melakukan overlapping run. Sehingga dirinya harus mempersiapkan dirinya untuk mengantisipasi pergerakan Mallo, dengan demikian Orellana mendapatkan akses yang mudah di ruang antar lini.

BACA JUGA:  Perlukah Barcelona Membela Lionel Messi?

Lalu, mengapa bukan Neymar saja yang mengantisipasi pergerakan Mallo dengan melakukan man marking?

Jika Neymar harus melakukan man marking terhadap Mallo, maka akan mengurangi jumlah pemain di area sentral. Terlebih hal tersebut juga mengurangi akses terhadap bola yang dikuasai oleh Gustavo Cabral. Jika akses pressure berkurang, maka Cabral semestinya dapat lebih mudah untuk mengambil keputusan dan memindahkan sirkulasi bola ke area sentral di mana Celta Vigo memiliki situasi unggul jumlah pemain dan akses yang lebih baik ke ruang antar lini.

Apabila Neymar harus melakukan man marking, seandainya bola dipindahkan dan blok struktural Barcelona harus melakukan pergeseran maka akan sangat sulit untuk menjaga kompaksi horizontal. Dengan demikian akan sangat mudah bagi Celta untuk merusak stabilitas blok struktural Barcelona.

Dalam situasi di atas, pasifnya Messi menjadi sumber dari permasalahan Barcelona.

Babak kedua

Pada babak kedua Luis Enrique melakukan sejumlah perubahan pada sistem permainannya. Barcelona mencoba untuk mengeksploitasi sistem man oriented yang mereka terapkan via aksi-aksi individu di mana situasi 1vs1 lebih signifikan di dalam blok struktural. Dengan demikian ketika satu pemain berhasil dilewati akan ada isu stabilitas di dalam blok struktural Celta Vigo. Hal ini dilakukan bahkan mulai dari pemain-pemain yang berada di struktur yang lebih rendah, seperti Mascherano, Pique, dll.

Hanya saja perubahan ini masih tidak didukung dengan struktur yang memungkinkan mereka untuk melakukan counterpressing yang lebih efektif. Sehingga memudahkan Celta untuk melakukan sejumlah counterattack yang sangat membahayakan. Hal ini semakin signifikan ketika Enrique memutuskan untuk mengganti Sergi Roberto dengan Munir el-Haddadi — dan menggeser Messi ke tengah di pos no.10 — setelah tertinggal tiga gol. Kompensasinya adalah Barcelona memiliki koneksi yang lebih bagus untuk melakukan penetrasi, yang diterjemahkan pada banyaknya pula serangan-serangan Barcelona yang membahayakan gawang Celta Vigo.

Kesimpulan

(sumber : Michael Caley)
(sumber : Michael Caley)

Analisa statistik berdasarkan besarnya ekspektasi gol menunjukkan bahwa Barcelona sebenarnya tidak bermain begitu buruk, namun tidak pula cukup bagus. Hanya saja terdapat sejumlah permasalahan struktural dalam sistem permainan Luis Enrique. Terlebih, Barcelona juga sangat bergantung pada Messi untuk menciptakan koneksi, melakukan penetrasi dan mencetak gol. Hal tersebut terlalu banyak, bahkan untuk alien! Mungkin untuk itu dirinya diberikan sedikit kebebasan untuk bermain lebih pasif ketika Barcelona tidak menguasai bola. Namun kredit juga perlu diberikan kepada Celta Vigo yang mampu mengeksploitasi kelemahan struktural pada sistem permainan Barcelona dengan baik.

Komentar