Cha Bum Kun: Dicintai Korea, Disegani Eropa, dan Diakui Dunia

I’mma be the hottest in this spot
There ain’t no stopping me

I know life is a mystery,
I’m gonna make history
I’m taking it from the start

Total emergency,
I’m watching the phone ring
I’m feeling this in my heart
B-Bring the boys out!

Kumpulan kata di atas adalah penggalan lirik dari lagu Girlband International asal Korea Selatan, yaitu Girl’s Generation (SNSD). Penggalan lirik tersebut berasal dari lagu mereka yang berjudul “The Boys”, salah satu hits andalan mereka, satu-satunya lagu mereka yang dibuat dalam 3 versi bahasa (Korea, Jepang, dan Inggris). Loh-loh… kok jadi bahas Girlband Korea sih? Tenang, ini hanya sebagai pembukaan saja karena dalam kesempatan kali ini kita akan membahas salah satu legenda sepak bola Korea Selatan. Siapa? Beliau adalah Cha Bum Kun!

Cha Bum Kun pertama kali memulai karir sepak bolanya tahun 1971 bersama klub semi-professional yang bernama South Korean Air Force Club dan pada tahun yang sama ia juga bermain untuk timnas U-19 Korea Selatan. Setelah menyelesaikan wajib militer, ia memulai karirnya di Bundesliga pada usia 25 tahun. Klub Jerman yang pertama ia bela adalah SV Darmstadt. Namun, pada musim pertamanya (1978/1979), ia hanya bermain dalam satu pertandingan. Pada musim selanjutnya, ia pindah ke Eintracht Frankfurt dan sejarahnya di Eropa dimulai.

Cha Bum Kun saat membela Eintracht Frankfurt. (Sumber gambar: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/a7/0f/c3/a70fc30ebee13eb9a01cacc9913c5388.jpg)
Cha Bum Kun saat membela Eintracht Frankfurt. (Sumber gambar: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/a7/0f/c3/a70fc30ebee13eb9a01cacc9913c5388.jpg)

Pemain yang mendapat julukan Tscha Bum oleh German Kicker Magazine karena kemampuan tendangannya yang luar biasa itu membuktikan dirinya sebagai pembelian yang tepat untuk Eintracht Frankfurt. Ia berhasil membawa Frankfurt memenangkan Piala UEFA 1979-1980 setelah mengalahkan sesama klub Jerman, Borussia Monchengladbach dengan agregat 3-3 (Frankfurt unggul jumlah gol tandang). Walaupun tidak mencetak gol, tetapi ia dianugerahi gelar Man of The Match pada laga final tersebut. Prestasi gemilangnya itu sempat membuat dirinya menjadi pemain sepak bola ketiga dengan bayaran tertinggi di Jerman.

Pada musim keduanya bersama Die Adler (The Eagles), ia sempat menderita cedera lutut yang hampir mengakhiri karirnya dalam sebuah pertandingan melawan Bayer Leverkusen, tetapi kegemilangan pria yang sempat dilabeli Asia’s Player of the Century itu nyatanya tetap berlanjut dengan memenangkan DFB Pokal 1980-1981 setelah mengalahkan FC Kaiserslautern dengan skor 3-1. Cha Bum Kun mencetak gol ketiga Frankfurt pada pertandingan final itu.

Jasa terbesar Cha Bum Kun untuk timnas Korea Selatan adalah medali emas Asian Games 1978.

Pada musim 1983-1984, pemain yang dijuluki “Unstoppable” oleh mantan manajer Aberdeen, Alex Ferguson itu justru malah memilih pindah ke Bayer Leverkusen. Namun, ternyata kegemilangan pemain yang juga dijuluki “The Best Attacker in The World” oleh legenda Jerman, Lothar Mathaus tersebut tidaklah sirna. Terbukti ia menjadi pahlawan Bayer Leverkusen ketika mereka memenangkan Piala UEFA 1987-1988. Pertandingan final tersebut dapat dibilang lebih dramatis dibandingkan dengan final yang ia menangkan bersama Frankfurt. Aturannya saat itu masih sama, yaitu final diselenggarakan sebanyak dua leg. Pada leg pertama, tim yang dikapteni Wolfgang Rolff itu dipecundangi tuan rumah RCD Espanyol dengan skor telak 3-0.

BACA JUGA:  Gelap dan Terang Nasib Alvaro Odriozola

Saat pertandingan leg kedua Cha Bum Kun menjadi pahlawan. Ketika Leverkusen balik menjamu Espanyol di markas mereka yang saat itu bernama Ulrich-Haberland-Stadion, Cha Bum Kun menjadi penyelamat dan juga pahlawan dengan menjadi pencetak gol ketiga Leverkusen pada menit 81, sehingga skor agregat menjadi sama kuat 3-3. Cha Boom really inspired Leverkusen to bring the (Espanyol) boys out! Leverkusen berhasil menjadi juara dengan menang adu penalti 3-2. Gelar tersebut terasa spesial bagi Cha Bum Kun dan rekan-rekannya karena itu adalah gelar bergengsi pertama yang berhasil diraih oleh Leverkusen sejak pertama kali berdiri tahun 1904. Gelar ini juga menjadikannya sebagai pemain kesembilan dalam sejarah yang memenangi Piala UEFA dua kali dengan tim yang berbeda.

Cha Bum Kun (kanan) saat membela Bayer Leverkusen. (Sumber gambar: http://s.weltsport.net/bilder/spieler/gross/1785.jpg)
Cha Bum Kun (kanan) saat membela Bayer Leverkusen. (Sumber gambar: http://s.weltsport.net/bilder/spieler/gross/1785.jpg)

Hal lain yang membuat Cha Bum Kun begitu dihormati adalah jasanya kepada negaranya. Ia sempat ditawarkan untuk dapat membela timnas Jerman, tetapi tawaran itu ditolaknya dengan alasan ingin meningkatkan level sepak bola Korea Selatan. Jasa terbesar Cha Bum Kun untuk timnas Korea Selatan adalah medali emas Asian Games 1978. Gelar lain yang ia menangkan bersama timnas Korea Selatan adalah beberapa piala minor, seperti Merdeka Cup dan Kings Cup (masing-masing 5 gelar).

Di level Piala Asia, Cha Bum Kun membantu Korea Selatan menjadi runner up tahun 1972. Cha Bum Kun yang sebenarnya sudah memutuskan pensiun dari timnas setelah tahun 1978, memutuskan untuk comeback demi membela timnas Korea Selatan pada Piala Dunia 1986 dan pensiun kembali setelahnya. Tim-tim lawan (Argentina, Italia, dan Bulgaria) “sangat sadar” terhadap skill sepak bola dan potensi mencetak golnya yang luar biasa, yang akhirnya membuat mereka kesulitan dalam menjaga pergerakannya di lapangan. Untuk timnas Korea Selatan, ia tercatat total bermain sebanyak 121 pertandingan dan mencetak 55 gol.

BACA JUGA:  Tangan Dingin Ralph Hasenhuttl
Cha Bum Kun (kanan) saat merepotkan pemain Argentina di piala Dunia 1986. (Sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com/-sofF6aV2KG4/U5BffyCNCeI/AAAAAAAADek/-ZzdEEiqI6o/s1600/25.jpg)
Cha Bum Kun (kanan) saat merepotkan pemain Argentina di piala Dunia 1986. (Sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com/-sofF6aV2KG4/U5BffyCNCeI/AAAAAAAADek/-ZzdEEiqI6o/s1600/25.jpg)

Pada tahun 1989, Cha Bum Kun mengakhiri karirnya yang panjang di Bundesliga, yang juga sekaligus menandakan bahwa ia juga pensiun menjadi pemain sepak bola, dengan total bermain sebanyak 308 pertandingan dan mencetak 98 gol tanpa satu pun yang dicetak dari titik putih, sebuah rekor gol tertinggi untuk pemain asing di Bundesliga (sebelum akhirnya dipecahkan oleh Stéphane Chapuisat). Namun, 17 gol liga yang ia cetak pada musim 1985-1986 tetap menjadi rekor tertinggi jumlah gol pemain Asia di Bundesliga dalam satu musim. Selama sepuluh tahun karirnya, ia pun hanya menerima satu kartu kuning. German Kicker Magazine juga memasukkan namanya dalam daftar one of the greatest footballers of the 1980s.

Setelah pensiun, Cha Bum Kun tetap menepati janjinya untuk meningkatkan level sepak bola Korea Selatan dengan mendirikan youth football clinics untuk mencetak pesepak bola hebat baru Korea Selatan. Ayah dari pesepak bola Cha Du Ri itu juga sempat memiliki karir kepelatihan, di antaranya bersama klub Korea Selatan, Ulsan Hyundai Horangi dan Suwon Samsung Bluewings, juga klub asal Republik Rakyat China, Shenzhen Ping’an. Ia juga sempat melatih timnas Korea Selatan untuk Piala Dunia 1998.

Jika merujuk pada lagu di atas, dikatakan bahwa hidup merupakan sebuah misteri, di mana terkadang kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Hidup dapat digambarkan dengan sepak bola, yang artinya sepak bola itu juga adalah misteri. Ketika pada masa itu dunia dan Eropa mungkin sedang sibuk dengan Diego Maradona, Michel Platini, hingga Karl-Heinz Rummenigge, tiba-tiba muncul sebuah “cahaya terang menyilaukan” yang dibawa pria Asia bernama, Cha Bum Kun ke tanah Jerman. Siapa yang sangka bahwa pria yang datang ke tanah Eropa dari negara Asia Timur yang jauh itu justru malah menghentak Eropa itu sendiri dan akhirnya menjadi fenomena! Ya, dalam hidup yang penuh misteri ini, tugas kita adalah mencetak sejarah dan Cha Bum Kun telah melakukannya. Kemudian, kapan giliran Indonesia? Berdoa (dan usaha) dimulai.

 

Komentar
Indonesian Moslem | Anti-Mainstream Nutritionist/Dietitian who love football | Twitter: @katondio | Hey, you can also read my article at giziberkarya.blogspot.com.