Derbi Manchester: Sama Kuat dalam Bertahan

Derbi Manchester yang berlangsung Minggu (13/12) dini hari tadi berakhir dengan hasil imbang. Sedikitnya peluang yang tercipta dari kedua tim membuat pertandingan ini terlihat kurang menarik. Namun, hal ini menjadi hal wajar sebab pendekatan taktik keduanya.

Peluang terbaik Manchester City didapat oleh Riyad Mahrez yang tendangannya masih dapat diblok oleh David De Gea. Sedangkan Manchester United hampir mendapatkan tendangan penalti setelah Marcus Rashford dilanggar oleh Kyle Walker. Namun keputusan tersebut mendapatkan koreksi dari Video Assistance Referee (VAR).

Meskipun pertandingan berjalan membosankan bagi pihak netral, pelatih dari kedua tim bertetangga tersebut menyatakan puas atas penampilan anak asuhnya.

“Bagi saya, gelas selalu terisi setengah penuh. Kamu harus melihatnya seperti itu. Laga derbi ini adalah yang terbaik bagi kami. Bukan hasil terbaik tapi penampilan terbaik,” kata Ole Gunnar Solskjaer seperti dikutip dari Bola.

“Saya ingin menang tapi hasil ini baik. Kita tidak boleh lupa ini di Old Trafford dan mereka adalah United. Dalam banyak momen pertandingan kami bermain baik. Kami kurang peluang untuk mencetak gol tapi kami bermain baik,” terang Pep Guardiola seperti dilansir Kompas.

Sebelas pertama Manchester United dan Manchester City

Ole memilih untuk bermain dengan formasi 4-4-2 berlian dengan Rashford dan Mason Greenwood berduet di lini depan. Sedangkan tim tamu menggunakan formasi 4-2-3-1. Formasi kedua tim tersebut mengalami perubahan struktur bergantung pada momen pertandingan.

Saat membangun serangan, The Red Devils menggunakan struktur 4-2-2-2 dengan Fred dan Scott McTominay berperan sebagai poros ganda. Paul Pogba dan Bruno Fernandes mengambil posisi awal yang lebih tinggi dibanding kedua rekannya tersebut di area tengah. Di lini depan, Rashford dan Greenwood berusaha mengikat lini belakang lawan.

Untuk mengatasi hal ini, The Citizens mencoba melakukan pressing blok tinggi dengan struktur 4-4-2. Kevin De Bruyne dan Gabriel Jesus yang berada di lini pertama berusaha menutup jalur umpan lawan ke poros ganda United sebagai posisi awal. Setelahnya, kedua pemain tersebut perlahan bergerak naik untuk menekan stopper lawan yang membawa bola.

BACA JUGA:  Misi Mengembalikan Kejayaan Barcelona

Posisi awal Raheem Sterling dan Mahrez di ruang apit (halfspace) makin menyulitkan tim tuan rumah untuk membangun serangan melalui wilayah tengah. Bangun serangan lawan memanfaatkan ruang sayap melalui fullback juga mampu diantisipasi dengan cukup apik. Momen serta kecepatan Sterling dan Mahrez dalam melakukan pressing cukup menyulitkan fullback lawan dalam menguasai bola.

Skema pressing blok tinggi City

Harry Maguire dan kawan-kawan bukan tanpa solusi. Salah satu skema yang digunakan untuk memprogresi bola adalah dengan pergerakan melebar dari Bruno atau Pogba. Ketika bola dikuasai oleh fullback, Bruno atau Pogba akan bergerak melebar untuk menjadi opsi umpan. Dengan kemampuan teknik yang mumpuni, kedua gelandang tersebut diharapkan mampu menguasai bola dan lepas dari pressing lawan.

Akan tetapi, di pihak lawan, Rodrigo dan Fernandinho masih mampu melakukan pressing dengan cukup baik sehingga skema ini tidak terlalu efektif. Saat Rodri harus bergerak keluar untuk mengikuti Bruno, Fernandinho bergerak lebih ke tengah untuk melakukan cover dan menutup jalur umpan ke penyerang lawan. Untuk kontrol sisi jauh, Mahrez yang akan mengambil posisi lebih rendah di ruang apit.

Skema pressing City menghadapi gelandang United yang bergerak melebar

Setelah berhasil menguasai bola dalam waktu yang cukup lama dan memaksa City menurunkan blok bertahannya, anak asuh Ole mengubah struktur menyerangnya untuk memaksimalkan kombinasi dan wide rotation di ruang sayap.

Fred atau McTominay akan turun di antara atau di samping kedua stopper, Maguire dan Victor Lindelof. Hal ini membuat Aaron Wan-Bissaka dan Luke Shaw bisa bergerak untuk mengambil posisi yang lebih tinggi. Sebagai konsekuensinya, Pogba, Greenwood, dan Bruno bisa bergerak lebih ke dalam, di ruang apit dan ruang antar lini lawan.

Skema pressing blok rendah City

Kendati begitu, hal ini ternyata juga belum cukup untuk mencetak gol. City yang tetap dengan struktur 4-4-2 saat bertahan dalam blok yang lebih rendah masih mampu mengontrol serangan lawan dari sisi lapangan. Backward pressing dari Mahrez atau Sterling dan Fernandinho atau Rodri cukup untuk membantu Walker atau Joao Cancelo mengatasi serangan United.

BACA JUGA:  Menunggu Langkah Konkret Chelsea

Di sisi lain, hal serupa juga terjadi. Skema bertahan The Red Devils mampu membatasi dan mengontrol serangan dari anak asuh Guardiola. Dalam pressing blok tinggi, mereka menggunakan struktur 4-4-2 berlian untuk mengatasi bangun serangan The Citizens yang menggunakan struktur 4-2-3-1.

Secara umum, pressing blok tinggi dari Pogba dan kawan-kawan dilakukan untuk mencegah lawan memprogresi bola melalui ruang tengah. Rashford dan Greenwood mengambil posisi awal di ruang apit saat situasi tendangan kiper. Bruno, sebagai ujung berlian atas, menjaga akses pressing ke poros ganda The Citizens.

Saat bola oleh Ederson diumpan ke salah satu stopper, Rashford atau Greenwood melakukan pressing dengan mengarahkan lawan untuk mengalirkan bola ke ruang sayap. Di sisi kanan, umumnya Wan-Bissaka yang kemudian memberikan tekanan pada Cancelo, dengan McTominay melakukan cover dan menutup jalur umpan ke Sterling.

Dalam beberapa momen, bahkan Lindelof melakukan man-marking yang cukup ketat pada Sterling. McTominay kemudian akan mengisi area yang ditinggalkan oleh bek asal Swedia tersebut sambil berusaha menutup jalur umpan kepada De Bruyne di ruang antar lini.

Skema pressing blok tinggi United

Menghadapi situasi tersebut, City sedikit mengubah strukturnya saat membangun serangan. Fernandinho turun sejajar di samping Ruben Dias dan John Stones untuk memudahkan melakukan sirkulasi dan mencari celah guna melakukan progresi. Hal ini direspons oleh The Red Devils dengan menurunkan blok bertahannya dan mengubah strukturnya menjadi 4-4-2 sejajar.

Skema pressing blok rendah United

Saat United menurunkan bloknya bertahannya, City berusaha memanfaatkan terlalu rapatnya blok bertahan De Gea dan kawan-kawan dengan melakukan swtich play. Namun, penampilan ciamik dari Maguire masih cukup untuk menggagalkan beberapa serangan lawan.

Pendekatan taktik dari kedua tim yang lebih berhati-hati dan sama-sama berusaha mengontrol serangan lawan membuat skema bertahan menjadi hal yang mencolok. Derbi Manchester ke-183 pun harus berakhir imbang setelah kedua tim sama-sama gagal mencari celah pertahanan lawan. Dengan hasil ini, baik United maupun City sama-sama gagal memperbaiki posisinya di klasemen sementara Liga Primer Inggris.

Komentar
Mendampingi Coach Seto Nurdiyantoro juara Liga 2 musim 2018 dan promosi ke Liga 1. Terbang ke Barito Putera hingga akhir musim 2020. Kini menemani Elite Pro Academy PSS musim 2020. Bisa dihubungi melalui akun @DaniBRayoga.