Donny van de Beek: Penyempurna Lini Tengah

Mengakhiri Liga Primer Inggris musim 2019/2020 dengan finis di tempat ketiga bikin Manchester United merasa lega. Setidaknya, pencapaian mereka lebih baik ketimbang sebelumnya. Berbekal realita itu pula, Ole Gunnar Solskjaer sebagai pelatih ingin mendapatkan hasil lebih baik di musim 2020/2021. Salah satu cara yang ia tempuh adalah memperkuat armada tempur dengan merekrut pemain muda asal Belanda, Donny van de Beek.

Usai proses negosiasi yang memakan waktu cukup lama, kedatangannya ke Stadion Old Trafford diumumkan secara resmi pada 2 September kemarin. Menurut kabar yang beredar, sosok berumur 23 tahun itu punya banderol senilai 40 juta Poundsterling (35 juta Poundsterling harga tebus dan 5 juta Poundsterling berupa bonus tambahan).

Di United, ia memilih nomor punggung 34 sebagai penghormatan kepada rekannya saat di akademi Ajax Amsterdam, Abdelhak Nouri, yang kini tergolek dalam kondisi koma akibat kolaps di sebuah pertandingan. Van de Beek sendiri jadi rekrutan perdana The Red Devils di musim ini.

Bila mengamati isu-isu transfer pemain selama dua bulan terakhir, van de Beek bukanlah nama yang sering dikaitkan media-media dengan United. Fans kubu Manchester Merah sendiri lebih tertarik dengan rumor terkait keinginan tim membawa pulang Jadon Sancho ke Inggris. Negosiasi dengan pihak Ajax guna memboyong sang gelandang baru terjadi belakangan ini meskipun United sudah lama memantau perkembangannya.

Kepergiannya membuat skuad Ajax yang sukses menembus semifinal Liga Champions 2018/2019 semakin tergerus kekuatannya. Bersama Frenkie de Jong, Matthijs de Ligt, dan Hakim Ziyech, ia dinilai sebagai poros utama tim. Uniknya, seluruh rekannya itu sudah lebih dahulu cabut dari Stadion Johan Cruyff Arena. Van de Beek pun jadi nama terakhir yang angkat kaki demi merasakan petualangan baru.

BACA JUGA:  Akuilah Jika Manchester United Adalah Klub Terbesar Di Dunia

Usai merintis karier sepakbola bersama tim junior De Godenzonen, van de Beek mencicipi debut profesionalnya pada musim 2015/2016. Pelatih Ajax ketika itu, Frank de Boer, menurunkannya dalam partai kontra Celtic di ajang Liga Europa. Selepas momen tersebut, pemuda kelahiran Nijkerkerveen tersebut semakin sering diberi kesempatan merumput.

Bukan tanpa alasan pelatih-pelatih dari kesebelasan yang berdiri tahun 1900 itu mempercayainya. Sejak tampil bersama tim junior, sosok berambut pirang tersebut sudah memperlihatkan bahwa ia merupakan penggawa yang serbabisa. Naluri ofensifnya sebagai gelandang juga diimbangi kemampuan defensif yang prima. Tak heran bila ia bisa memainkan sejumlah peran berbeda di sektor tengah.

Visi bermainnya prima dan memungkinkan van de Beek memindai area kosong di lini pertahanan lawan guna dieksploitasi. Hal itu dilengkapinya dengan kemampuan melepas umpan terukur dengan kedua kakinya dalam tempo cepat sehingga ritme permainan tidak terganggu.

Ditambah lagi, van de Beek memiliki inteligensia dan kesadaran ruang yang paripurna sehingga penempatan posisi serta pergerakannya di lapangan sangat terkontrol. Dua modal itu, plus kemampuan mengeksekusi peluang yang bagus, jadi penyebab kenapa pemilik 12 penampilan bareng tim nasional Belanda itu cukup produktif selama memperkuat Ajax.

Berdasarkan data Transfermarkt, van de Beek sukses mencetak 41 gol dan 34 asis kala memperkuat De Godenzonen di 175 pertandingan. Ia pun menyumbangkan masing-masing sebiji gelar Eredivisie, Piala KNVB, dan Johan Cruyff Shield.

Catatan apik tersebut dan kebutuhan taktis Ole sebagai pelatih membuat United serius dalam mendekati Ajax buat mendapatkan servis sang gelandang. Menengok kemampuan dan posisi naturalnya, ia diproyeksikan jadi motor di lini tengah bersama Bruno Fernandes, dan Paul Pogba.

BACA JUGA:  Lisandro Martinez, Jawaban Krisis Pertahanan Manchester United?

Satu-satunya hal yang mungkin jadi pengganjal buatnya tampil eksepsional adalah kemampuan adaptasi di United. Belum tentu kisah moncernya Fernandes yang sangat cepat beradaptasi bisa terulang pada van de Beek. Namun keberadaan rekan setimnya asal Belanda seperti Timothy Fosu-Mensah dan karakter ngemong Ole, dapat memudahkan proses tersebut.

Sekarang, tinggal bagaimana van de Beek menjawab kepercayaan yang diberikan banyak pihak kepadanya. Ia bisa menjadi pemain Negeri Kincir Angin yang melegenda di klub seperti Ruud van Nistelrooy atau malah jadi pesakitan layaknya Memphis Depay.

Satu yang pasti, sosok yang mempunyai adik seorang pesepakbola itu direkrut The Red Devils buat menyempurnakan sektor tengah yang dinilai kurang kreatif dan menggigit. Di bawah arahan Ole dan bermain bersama Fernandes serta Pogba sebagai gelandang, penyakit itu tampaknya dapat diobati oleh van de Beek.

Komentar
Penggemar sepakbola yang bisa disapa di akun Twitter @f14anshar