Fenomena Klub Milik Aparat dalam Sepakbola

Pesepak bola Bhayangkara FC Indra Kahfi (keempat kiri) dan Wahyu Tri Nughroho (keempat kanan) menunjukkan kostum baru saat "Soft Launching" di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (8/9). Bhayangkara Surabaya United resmi berganti nama menjadi Bhayangkara FC, karena berlandaskan mayoritas saham Surabaya United dimiliki oleh Mabes Polri melalui Primer Koperasi Polri (Primkoppol). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww/16.

Meraih 15 kemenangan, 1 seri, dan 7 kekalahan, dengan total 46 poin sampai dengan matchday 23, menempatkan mereka di peringkat ke-1 klasemen sementara Go-Jek Traveloka Liga 1. Berada di puncak klasemen dan berpeluang besar masuk ke kompetisi AFC Cup musim depan.

Ya, merekalah Bhayangkara FC, klub sepakbola milik Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang sudah 2 musim kebelakang meramaikan peta persaingan juara kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia.

Klub berjuluk The Guardian ini menjadi fenomena tersendiri bagi sepakbola Indonesia. Seperti yang kita ketahui, bersama dengan PS TNI, Bhayangkara FC memulai tren kepemilikan klub oleh aparat negara. Bahkan, kedua klub ini sama-sama lahir dalam sebuah kompetisi (tepatnya turnamen) dalam rangka mengisi kekosongan kompetisi pasca-PSSI terkena banned oleh FIFA.

Jika PS TNI lahir saat kompetisi Piala Jenderal Sudirman, maka Bhayangkara FC lahir saat Piala Bhayangkara bergulir.

Perbedaanya, kemunculan PS TNI relatif lebih mulus dibandingkan dengan Bhayangkara FC. Jika PS TNI cukup dengan membeli klub Persiram Raja Ampat dan menggunakan sebagian besar mantan pemain PSMS Medan, maka klub yang bermarkas di Stadion Patriot tersebut harus melalui serangkaian proses panjang dan berbagai perubahan nama sebelum akhirnya menjadi seperti sekarang.

Dimulai dari inisiatif Polri untuk menyalurkan bakat anggotanya, maka lahirlah PS Polri yang dipersiapkan untuk menghadapi turnamen Piala Bhayangkara. Setelah itu, PS Polri melakukan merger dengan Surabaya United.

Kemudian, dari hasil merger ini PS Polri menggunakan nama baru, yaitu Bhayangkara Surabaya United. Pada akhirnya, Polri membeli keseluruhan saham dari pemilik sebelumnya, Gede Widiade, sehingga nama klub berganti lagi menjadi Bhayangkara FC.

Anyway, walaupun tergolong fenomena baru di Indonesia, sebenarnya kehadiran klub sepakbola milik aparat ini bukanlah hal yang baru, terlebih untuk beberapa negara Asia Tenggara lainnya, seperti Thailand, Malaysia, dan bahkan Singapura.

BACA JUGA:  Siapa yang Bisa Membendung PSG?

Kehadiran mereka pun bukan hanya sebagai pelengkap dan penggembira. Di Singapura, klub milik aparat justru pernah mendominasi kompetisi dan menjadi klub tersukses di liga domestik.

Klub tersebut adalah Warriors FC, klub sepakbola yang dimiliki oleh Singapore Armed Forces (SAF), angkatan bersenjatanya Singapura. Sebelum mengganti nama menjadi Warriors FC, mereka menggunakan nama SAF Football Club.

Sampai saat ini, mereka tercatat sebagai klub sepakbola tersukses di kompetisi S.League (liga kasta tertinggi Singapura). Dari 20 musim S. League yang sudah berjalan, mereka sukses menjadi juara sebanyak 9 kali, yaitu musim 1997, 1998, 2000, 2002, 2006, 2007, 2008, 2009, dan 2014. Sementara 4 musim lainnya mereka raih dengan menjadi runner-up (1996, 1999, 2001, dan 2005).

Warriors FC, klub tersukses di Liga Singapura
Sumber: FourFourTwo
https://www.fourfourtwo.com/sg/features/ffts-2017-sleague-preview-warriors-fc

 

Selanjutnya, di negeri jiran Malaysia, mereka mempunyai 2 klub sepakbola yang dimiliki oleh aparat, yaitu Polis Di-Raja Malaysia Football Association (PDRM FA) dan Angkatan Tentera Malaysia Football Association (ATM FA).

Kedua klub ini pernah mewarnai kompetisi kasta tertinggi Malaysia Super League. Sekarang mereka tercatat bermain di kompetisi kasta kedua Malaysia Premier League.

Victor Igbonefo saat berkarir di Navy FC (2016) Sumber: Ongisnade /http://ongisnade.co.id/2016/01/30/direstui-arema- cronus-victor- igbonefo-mantap- perkuat-navy- fc

 

Terakhir, kompetisi sepakbola Thailand pun juga mempunyai klub-klub yang dimiliki oleh aparat, bahkan lebih banyak dan spesifik dibanding negara-negara lain. Sebut saja Police BEC-Tero Sasana yang dimiliki oleh Kepolisian Kerajaan Thailand, Army United oleh Angkatan Darat Kerajaan Thailand, Navy FC (Angkatan Laut), dan Air Force Central FC (Angkatan Udara).

Namun, hadirnya klub milik aparat tersebut bukanlah tanpa masalah. Umumnya, problematika yang sering dihadapi oleh klub-klub milik aparat adalah minimnya jumlah suporter yang hadir untuk mendukung klub saat berlaga.

Hal ini karena selain tidak adanya homebase tetap, klub milik aparat tersebut terkesan eksklusif. Eksklusifitas ini muncul karena klub aparat dianggap hanya mewakili satu instansi tertentu saja, bukan suatu daerah atau kota, sehingga tidak memunculkan suatu kondisi kefanatikan yang masif dan meluas.

BACA JUGA:  Supremasi Bola Atas Militer, Mengapa Tidak?

Dapat dibayangkan, jika suporter saja sedikit jumlahnya, maka darimana sumber pendanaan klub akan didapat?

Karena jika tidak mempunyai suporter, maka klub tidak memiliki nilai jual, imbasnya sudah pasti sponsor akan berpikir ulang untuk mendanai klub tersebut.

Kalau pun ada sponsor, nilainya tidak akan sebesar klub-klub yang mempunyai basis suporter yang banyak. Karena sponsor pasti membutuhkan media yang mempunyai nilai jual tinggi untuk mempromosikan perusahaannya.

Maka dari itu, harapan ke depan untuk manajemen klub milik aparat tersebut, khususnya Bhayangkara FC dan PS TNI, adalah bisa membenahi dan menggali lagi lebih dalam potensi bisnis dan branding klub agar bisa lebih menarik dan menjual di mata umum.

Tugas utama sekaligus yang terberatnya adalah bagaimana menghapus citra eksklusif yang sudah terlanjur melekat pada klub sehingga nantinya bisa merangkul masyarakat luas untuk mau hadir dan mendukung klub tersebut.

 

Komentar
Seorang asisten dosen Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) & pengamat sepakbola Asia Tenggara yang mendukung Persija, Selangor FA, dan Warriors FC.