Hari Kartini dan Emansipasi dalam Sepak Bola

Kalau mengacu pada definisi resmi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), emansipasi diartikan secara jelas sebagai dua hal. Pertama, adalah pembebasan dari perbudakan. Kedua, sebagai gerakan untuk persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Menariknya, dua hal yang diartikan KBBI ini memberi nafas terhadap perjuangan emansipasi di dunia, tidak hanya Indonesia. Khususnya, tentu saja, bagi wanita.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa korelasi antara sifat misoginis dengan kultur patriarki menjadi masalah laten yang menjangkiti semua elemen kehidupan bagi hidup para perempuan.

Apa yang dimaksud di poin pertama dengan pembebasan dari perbudakan, bisa dijelaskan kalau merujuk pada apa yang diperjuangkan R. A. Kartini di masa perjuangan dulu.

Dalam sebuah tulisan di buku Hersri Setiawan berjudul Awan Theklek Mbengi Lemek, dijelaskan bahwa sudah menjadi stigma umum dalam hierarki patrialis bahwa wanita “hanya” menjadi pelengkap bagi pria. Tugas wanita, dikerucutkan ke dalam hal-hal domestik yaitu macak (dandan), masak (memasak), manak (hamil dan melahirkan).

Semangat emansipasi ada untuk memperjuangkan penghapusan akan stigma tersebut. Bahwa wanita, berhak lepas dari isu domestik dan merdeka sebagai individu yang bebas.

Sedangkan di poin kedua, gerakan untuk persamaan hak di aspek kehidupan adalah nafas utama emansipasi wanita. Memperjuangkan kesetaraan hak bagi wanita dan pria. Di semua aspek dan sendi-sendi kehidupan.

Bahwa wanita, berhak merdeka dan lepas dari dogma dan doktrin agama. Lepas dari keterikatan akan budaya patriarki. Lepas dari pandangan skeptis kaum maskulin yang percaya bahwa wanita tidak bisa hidup tanpa pria.

Perjuangan wanita tidak hanya tentang kesetaraan, tapi juga pengakuan akan kebebasan. Wanita berhak dan bisa sesuka hati menentukan sikap laiknya pria.

Wanita berhak bermain sepak bola, tinju, bahkan gulat sekalipun. Tidak ada satu pun cabang olahraga yang terlalu berat dan terlalu maskulin untuk dilakukan wanita. Dan yang paling utama, isu emansipasi wanita di olahraga adalah tentang kesetaraan.

Dan di dalam sepak bola, perjuangan wanita memperjuangkan kesetaraan juga masih sangat kompleks.

***

Shireen Ahmed, dalam sebuah esai apiknya di Huffington Post tahun 2014 menceritakan dengan sistematis apa yang ia alami dalam memperjuangkan idealismenya. Judulnya pun sangat bombastis, “I’m a footballer who happens to wear hijab,” judul yang provokatif, tapi sangat substansial dan memberi kesan yang menarik.

Shireen adalah satu dari sekian banyak wanita berhijab yang kesulitan untuk bermain sepak bola karena terhalang aturan resmi dari FIFA saat itu yang melarang semua pemain sepak bola memakai atribut pelindung kepala.

Hijab dianggap sebagai atribut terlarang yang tidak boleh digunakan untuk dipakai, mengingat itu melanggar aturan FIFA.

Cerita yang dikisahkan Shireen akan sangat menarik mengingat ia bermain sepak bola dan memakai hijab sejak 1997, dan perjuangannya untuk bermain sepak bola sangat sulit karena hijab membuatnya tidak leluasa di lapangan.

Dan 17 tahun kemudian, pada 2014, Jerome Valcke baru mengumumkan secara resmi aturan bahwa pesepak bola wanita boleh menggunakan penutup kepala sebagai atribut di lapangan. Aturan resmi yang mengakhiri perjuangan panjang wanita berhijab dalam cita-cita mereka untuk memainkan sepak bola dengan leluasa.

BACA JUGA:  Ox the Fox: Dilema Manis Monsieur Arsene Wenger

Ini yang kemudian dikutipkan dengan apik oleh Shireen di dalam esainya, “Saya adalah pesepak bola yang memakai hijab, bukan wanita berhijab yang bermain sepak bola.” Klaim yang tendensius, tapi juga sarat makna.

Bukti bahwa wanita-wanita berhijab juga hebat, bisa Anda nikmati dengan menonton cuplikan pertandingan futsal timnas wanita Iran selama pagelaran AFC Women’s Futsal Championship 2015 yang diselenggarakan di Malaysia. Mereka bermain luar biasa brilian, mencetak 21 gol dan hanya kebobolan 3 gol dalam 5 partai.

Poin penting dari hal ini adalah pengalaman Shireen merupakan contoh penting dari apa yang layak menjadi bahan refleksi bagi semua kalangan baik pria atau wanita.

Di berbagai sendi kehidupan, wanita sudah sepatutnya  berhak mengekspresikan diri mereka seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya tanpa pasungan. Tidak ada satu aturan pun di dunia yang layak menghalangi akses wanita dalam segala hal yang berhak dan layak mereka lakukan.

***

Wanita, dewasa ini, sulit lepas dari isu seksisme. Acapkali, wanita hanya dinilai dengan kecantikan parasnya dan kemolekan fisiknya. Tayangan televisi juga acapkali menyoroti bagaimana kecantikan seorang wanita dikedepankan dan abai terhadap sisi individu seorang wanita.

Berapa kali media televisi dan cetak menurunkan tayangan atau berita yang memberi porsi utama tentang kemolekan dan paras rupawan seorang wanita? Bahkan, prestasi mereka hanya dianggap nilai tambah, sedangkan kecantikannya dikedepankan sebagai poin utama. Tenis dan sepak bola sangat sering mengalami kasus seperti ini.

Sepak bola utamanya, rentan dengan hal itu karena salah satu yang (masih) menjadi daya tarik dalam sepak bola wanita adalah paras rupawan dan fisik yang aduhai.

Alex Morgan dan Hope Solo, dua bintang utama timnas wanita Amerika Serikat adalah contoh terdepan. Acapkali, sorotan terhadap Morgan dan Solo adalah paras rupawan dan kesempurnaan fisik mereka.

Orang acapkali alpa bahwa kedua nama itu adalah dua sosok yang menjadi tulang punggung timnas wanita AS saat tahun lalu menggondol Piala Dunia Wanita di Kanada.

Sepp Blatter, mantan presiden FIFA, dalam sebuah wawancara di tahun 2004, berujar bahwa sudah selayaknya wanita bermain sepak bola dengan kostum yang jauh lebih feminim daripada para pesepak bola pria.

Blatter memang tidak terang-terangan menyebut wanita harus main dengan rok mini atau pakaian pendek yang ketat, tapi kata feminim yang dimaksud Blatter adalah upaya justifikasi bahwa agar lebih menarik, wanita sudah selayaknya untuk tampil feminim agar pertandingan sepak bola lebih segar ditonton.

Permasalahan yang diungkapkan Blatter saat itu adalah contoh bahwa pada masanya dulu, sepak bola bagi wanita hanya menarik ditonton dengan melihat dan memperhatikan seberapa ketat dan seksi jersey yang mereka pakai, dibandingkan seberapa hebat dan brilian kemampuan olah bola mereka di lapangan hijau.

Masalah ini masih ada dan terus ada hingga kini. Coba kita refleksi diri dan tanyakan ke dalam benak masing-masing, “Sudahkah kita mampu melihat Alex Morgan murni sebagai pesepak bola yang hebat dan bukan hanya karena terpikat paras rupawannya semata?”

Ini jelas tantangan bagi kita kaum pria.

BACA JUGA:  Bukayo Saka: Peluru yang Dibutuhkan Arsenal

***

Apa masalah laten yang sering menjadi isu penting tiap tahunnya yang dibahas dalam isu kesetaraan bagi pria dan wanita?

Jawabnya adalah kesetaraan di sektor ekonomi. Baik itu gaji, tunjangan pokok, hingga jumlah bayaran yang diterima seorang wanita atas pekerjaan mereka. Tentu saja di konteks ini, kontrak dan gaji mereka dalam bermain sepak bola sebagai pemain bola profesional.

Anda tahu bahwa beda gaji Leah Williamson, salah satu pemain bintang Arsenal Ladies dan salah satu anggota timnas wanita Inggris, dengan Theo Walcott mencapai dua hingga tiga kali lipat?

Itu sudah menjadi isu penting yang kerapkali muncul dan tenggelam tiap tahunnya, sayangnya, belum ada tindakan resmi atau tindakan hukum untuk memberi kesetaraan gaji bagi pemain sepak bola wanita dan pria. Dan satu lagi, belum ada media yang berani menyoroti isu tersebut dengan frontal dan terbuka

Kalau Wayne Rooney, yang tidak sekalipun menjuarai Piala Dunia sekalipun mampu mendapat gaji 300 ribu poundsterling sepekan, menurut Anda, berapa gaji yang layak untuk Carli Lloyd, Alex Morgan, dan Hope Solo?

Maret lalu, lima pemain timnas Amerika Serikat, terdiri dari Carli Lloyd, Alex Morgan, Hope Solo, Megan Rapinoe dan Becky Sauerbrunn, mewakili para rekannya di timnas menuntut federasi sepak bola Amerika Serikat atas ketimpangan gaji dan honor yang mereka terima dibandingkan dengan yang timnas pria terima.

Tuntutan mereka ajukan tahun ini mengingat momen yang tepat usai mereka menjuarai Piala Dunia Wanita tahun lalu dan federasi masih bersikeras tidak memberikan gaji dan bonus yang setara dengan upaya mereka dalam membawa pulang gelar juara dunia ke AS.

Jika dibandingkan dengan timnas pria AS yang belum mampu berbicara banyak di pentas dunia, kesuksesan dari timnas wanita AS dalam membentuk hegemoni di peta pesepakbolaan dunia patut mendapat ganjaran yang setimpal berupa honor dan bonus yang setara dengan apa yang diterima tim pria.

Masalah-masalah seperti ini masih menjadi isu pokok yang susah dijelaskan dan belum mampu ditemukan titik terangnya. Carli Lloyd dan Lionel Messi adalah pemain terbaik versi FIFA musim lalu, tapi mengingat jauhnya jurang perbedaan bayaran yang mereka terima di antara keduanya sudah memberi gambaran singkat untuk bahan refleksi.

Sudah sejauh mana kesetaraan bagi wanita dan pria diterapkan di semua elemen dalam sepak bola?

Apa pun itu, kita wajib mengucapkan Selamat Hari Kartini, bagi semua wanita yang bergelut di segala bidang olahraga, perjuangan masih dan akan terus berlanjut demi kesetaraan dan semangat emansipasi.

Dan pria, dengan segala potensi dan kesadaran mereka, terbuka untuk ikut serta dalam perjuangan ini.

For the better world, everyone (men and women) should equal in every aspect of their life.

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.