Flick, Klopp, dan Problematika Penghargaan Terbaik

Beberapa waktu lalu, induk organisasi sepakbola dunia (FIFA) menyelenggarakan ajang penghargaan bagi insan sepakbola dunia bertajuk FIFA Football Awards 2020. Ada sejumlah gelar individu yang dianugerahkan, mulai dari pemain terbaik, pelatih terbaik, sampai gol terbaik di tahun 2020.

Dari sektor pelatih, ada sejumlah nama yang dinominasikan sebagai pelatih terbaik. Mereka adalah Marcelo Bielsa (Leeds United), Hans-Dieter Flick (Bayern Munchen), Jurgen Klopp (Liverpool), Julen Lopetegui (Sevilla), dan Zinedine Zidane (Real Madrid). Pemenang dari penganugerahan ini sendiri didapat via pemungutan suara yang dilakukan oleh seluruh pelatih dan kapten tim nasional serta perwakilan jurnalis yang ditunjuk.

Hasilnya, Klopp didapuk sebagai pemenang meski jumlah voting yang diterima sama banyak dengan Flick yakni 24 suara. Keputusan FIFA memenangkan Klopp sebab dari keseluruhan suara yang ia peroleh, ada lebih banyak pelatih yang memberikan suaranya kepada eks pelatih Borussia Dortmund itu.

Tak ayal, ada segudang kontroversi yang mencuat tentang penghargaan pelatih terbaik FIFA 2020 yang diterima Klopp. Banyak pihak menilai jika sosok Flick jauh lebih pantas menerimanya. Apa yang dipamerkan lelaki 55 tahun tersebut bareng Die Bayern memang spektakuler.

Selain fans Bayern atau penggemar Bundesliga, mungkin tak banyak orang yang tahu kiprah kepelatihan Flick selama ini. Hal ini terbilang wajar karena ia cuma menangani tim-tim sekelas Victoria Bammental dan Hoffenheim hingga kemudian nyaman menjadi asisten di Red Bull Salzburg, tim nasional Jerman, dan Bayern.

Barulah di tahun 2019 kemarin, Flick resmi menjabat sebagai kepala pelatih Bayern menggantikan Niko Kovac yang angkat kaki dari Stadion Allianz Arena. Itu pun dengan status pelatih interim pada awalnya. Tugas yang diembang Flick tidak mudah karena performa Bayern saat itu tidak memuaskan. Banyak sekali pekerjaan rumah yang kudu dibereskan Flick satu demi satu demi mengembalikan nama baik Robert Lewandowski dan kawan-kawan.

BACA JUGA:  Paradoks Pesepak Bola dalam Diri Daniel Agger

Perlahan-lahan, Flick menunjukkan sentuhan magisnya sehingga Die Bayern bangkit dan sanggup menegaskan dominasinya. Tak hanya di Jerman, tetapi juga di Eropa. Usai keok dari Borussia Moncengladbach pada 7 Desember 2019, sang pelatih mengantar tim asuhannya mencatat rekor tak terkalahkan di seluruh pertandingan yang dijalani. Baik di kompetisi lokal maupun regional.

Secara keseluruhan, tak ada yang mampu menaklukkan Bayern asuhan Flick dalam 32 laga berturut-turut. Alhasil, seluruh trofi yang tersedia dan bisa direbut Bayern pada musim 2019/2020 yaitu Bundesliga, Piala Jerman, dan Liga Champions, sukses diamankan.

Capaian fenomenal itu bikin nama Flick sejajar dengan pelatih legendaris, Jupp Heynckes, yang membawa Die Bayern merengkuh treble winners pada musim 2012/2013 silam. Dari sosok yang tak diperhitungkan, Flick lantas naik daun sebagai juru strategi berotak jenius.

Apa yang ditorehkan Flick jelas lebih mentereng daripada Klopp yang cuma mengantar Liverpool jadi kampiun Liga Primer Inggris untuk pertama kalinya dalam kurun tiga dekade. Menilik statistik, Flick menemani Bayern di 48 pertandingan dengan hasil 41 kali menang, 5 kali imbang, dan hanya 2 kali kalah. Total, ia memiliki rasio kemenangan yang menembus 85,4 persen.

Sedangkan Klopp menemani Liverpool dalam 46 pertandingan dengan hasil 28 kali menang, 8 kali imbang, dan 10 kali kalah. Persentase kemenangan yang diraih Klopp bersama Liverpool hanya mencapai 60,9 persen. Dari sini saja, kita bisa melihat ketimpangan yang ada.

Rengkuhan treble winners itu sendiri dilengkapi Flick dengan menggondol titel Piala Super Jerman dan Piala Super Eropa kala menjalani musim 2020/2021. Bisa dikatakan, torehan dari sosok kelahiran Heidelberg tersebut benar-benar sempurna. Maka sudah tiba waktunya untuk kita mengakui bahwa Flick merupakan pelatih bertangan dingin dan sensasional.

BACA JUGA:  Nostalgia Euro 1996 Sebagai Tantangan Bagi Inggris

Ironisnya, ada saja cibiran yang menyebut bahwa menjadi juara bersama Bayern tidak sesulit meraih gelar bareng Liverpool. Jika demikian, mengapa Kovac gagal? Lagi pula, titel yang digamit Flick bukan hanya di kancah domestik, tetapi juga regional yang sangat kompetitif itu. Terlebih, gelar treble itu didapat ketika dunia digoncang pandemi Covid-19.

Penghargaan Pelatih Terbaik FIFA 2020 sudah jatuh ke tangan Klopp dan ia memang berhak atas prestasi tersebut. Namun hal ini membuktikan bahwa apapun jenis penghargaan, bila ditentukan lewat voting, kerap memunculkan problematika tersendiri karena umumnya tidak mencerminkan apa yang terjadi secara riil di lapangan. Bisa saja, penghargaan itu dianugerahkan kepada seseorang lantaran popularitasnya belaka.

Komentar
Penggemar Manchester United dan Bayern Munchen yang hobinya menulis dan membaca ini bisa ditemui di akun Twitter @mtorieqa.