Atletico Madrid 1-0 Bayern Munchen: Los Colchoneros Lebih Konsisten di Kedua Fase Besar

Atletico Madrid menang karena mereka bermain lebih konsisten, baik dalam fase tanpa maupun dengan bola.

Atletico kembali menjamu raksasa Jerman, FC Bayern Munchen di Match Day 2 Liga Champions 2016/2017. Masih segar dalam ingatan, Atletico, yang diasuh Diego Simeone, sukses menyingkirkan Bayern di semifinal Liga Champions 2015/2016.

Ketika itu, Die Roten sedang dalam motivasi besar untuk merebut gelar Liga Champions di musim terakhir Pep Guardiola. Tetapi sayangnya, ambisi tersebut gagal. Permainan Los Colchoneros, menghentikan langkah pasukan manajer plontos asal Spanyol tersebut.

Di sisi lain, kemenangan Atletico bukan hanya membuat pendukungnya penuh suka-cita, tetapi, sekaligus, memantik banyak debat kusir mengenai sepak bola indah dan sepak bola sampah.

Pemain-pemain Bayern tentu masih ingat bagaimana sulitnya menghadapi pressing tim dari Madrid tersebut. Kerapatan blok Atletico menyulitkan Bayern. Menjelang laga kali ini, Thomas Muller, menyatakan keinginannya membalas kekalahan dan tampil lebih baik, ketimbang yang mereka tunjukan ketika terakhir bertandang ke Vicente Calderon.

Namun, sayangnya, sekali lagi, Muller dan kawan-kawan harus memendam keinginan merebut 3 poin di rumah Atletico. Karena, lagi-lagi, Simeone dan anak-anak asuhnya berhasil memeragakan sebuah permainan yang bukan hanya membuat Bayern gagal memaksimalkan semua potensi mereka, tetapi juga sukses merengkuh kemenangan.

Susunan pemain, strategi, dan taktik

Simeone memainkan bentuk dasar 4-4-1-1/4-4-2 yang bertransformasi menjadi 4-5-1-0/4-4-2-0 ketika berada dalam blok rendah. Carlo Ancelotti, pelatih kepala Bayern, memainkan pola dasar 4-3-3.

Di garis belakang, Jan Oblak, dibentengi oleh 4 bek sejajar, yaitu Juanfran, Diego Godin, Stefan Savic, dan Felipe Luiz. Di lini kedua, Saul Niguez dimainkan sebagai gelandang kanan dan Koke bermain sebagai sepasang #6 bersama Gabi Fernandez.

Sementara Yannick Ferreira Carrasco dipasang sebagai sayap kiri oleh Simeone. Di depan, Fernando Torres diduetkan dengan Antoine Griezmann.

Dari Bayern, Philip Lahm dan David Alaba berada di kedua sayap lini belakang, mengapit duo Jerome Boateng dan Javi Martinez yang menjadi tameng bagi Manuel Neuer. Xabi Alonso dimainkan sebagai #6 didukung oleh dua #8 di masing-masing sisi, yaitu Arturo Vidal di kiri dan Thiago Alcantara di kanan.

Di lini serang, Ancelotti memilih Franck Ribery di kiri dan Thomas Muller di kanan menemani Robert Lewandowski.

Formasi awal Atletico dan Bayern
Formasi awal Atletico dan Bayern

Pendekatan pressing yang diambil oleh Diego Simeone merupakan campuran antara man-oriented (orientasi kepada pergerakan pemain lawan), positioned-oriented (orientasi pada posisi rekan setim dalam struktural blok), dan option-oriented (orientasi pada opsi umpan/akses yang mungkin diambil lawan).

Di depan, Torres memosisikan dirinya untuk berfokus kepada Xabi Alonso (man-oriented). Sementara Griezmann lebih berfokus pada aksi yang akan diambil oleh bek Bayern yang memegang bola dan opsi yang mungkin diambilnya (option-oriented).

Dengan berfokus kepada Xabi, secara otomatis, posisi Torres sering berada dalam ruang yang lebih dalam ketimbang Griezmann. Di lini kedua, 4 gelandang Atletico merapat menjaga half-space dan area tengah.

Kedua gelandang sayap berorientasi kepada kedua bek sayap Bayern, sementara 2 gelandang tengah berorientasi kepada posisi satu sama lain (positioned-oriented) dengan man-oriented terhadap duo #8 Bayern bila memungkinkan. Lebih lanjut soal half-space bisa Anda baca di sini.

Dari orientasi 6 pemain terdepannya, Atletico terlihat berfokus ke blok menengah. Dengan berfokus ke blok menengah dan rendah, tidak terlihat banyak gegenpressing di sekitar sepertiga awal Bayern.

Pressing Atletico, seperti yang sudah menjadi metode umum, berusaha mengarahkan Bayern ke sisi sayap, yang mana pada saat hal itu terjadi, intensitas pressing akan meningkat dengan segera.

Bayern sendiri meresponsnya menggunakan sisi sayap sebagai akses vertikal dibantu oeh pergeseran horizontal kedua #8 serta pergerakan penyerang sayap yang akan mengokupansi half-space terdekat, di celah antarlini lawan untuk memberikan akses berprogres.

BACA JUGA:  Bursa Transfer Sepak Bola: Antara Harapan dan Realita

Namun, Atletico sendiri tidak selalu berkonsentrasi ke blok menengah. Ada saatnya, bila memungkinkan, mereka akan melakukan press blok tinggi. Kesempatan seperti ini bisa muncul karena beberapa alasan.

Pertama, bola bergulir ke bek sayap Bayern, di sepertiga awal. Kedua, dua penyerang Atletico menutup akses kepada dua bek tengah maupun Xabi Alonso dalam koridor vertikal yang berdekatan. Ketiga, lini gelandang Atletico bergeser secara horizontal dengan intensitas yang tepat ke posisi bola berada. Keempat, jarak antara lini belakang dan tengah Atletico cukup ideal untuk saling mendukung.

Situasi ini memungkinkan #6 terdekat Atletico untuk melakukan pressing kepada #8 terdekat Bayern yang ikut bergerak turun demi menciptakan jalur umpan. Konfigurasi ini memberikan Bayern 2 pilihan, umpan jauh melambung langsung ke depan atau back-pass kepada Neuer.

Selain pressing Atletico, yang menjadi masalah lain bagi Bayern adalah spacing (pengisian space/ruang strategis demi sirkulasi bola yang nyaman) mereka sendiri terhadap rapatnya struktural blok Atletico.

Spacing sangat diperlukan. Selain mampu memberikan alternatif umpan dan akses, spacing mampu memecah fokus penjagaan lawan yang juga berpotensi menggoyahkan kerapatan blok pertahanan.

Spacing Bayern terhadap blok pertahanan Atletico
Spacing Bayern terhadap blok pertahanan Atletico

 

Spacing Bayern dalam pertandingan ini terhitung lemah terhadap blok struktur Los Colchoneros. Hasilnya, permainan pasif Atletico sangat terbantu dalam mengisolasi pemain-pemain yang berada dalam lingkup struktur blok mereka. Seperti yang ditunjukan oleh infografik di atas.

Tiga pemain Atletico mencipatakan superioritas jumlah 3v1 di lini tengah dan half-space. Di lini belakang, 2 bek tengah mereka mengisolasi Lewandowski.

Hal yang sama terjadi di kedua sisi terluar blok, di mana 2 pemain Bayern terjaga tanpa mendapatkan akses langsung. Sistem bertahan yang ditunjukan Atletico membuat serangan berlanjut dengan back-pass atau umpan horizontal.

Kalau banyak yang berpendapat Bayern terlalu banyak melakukan umpan pendek, berputar-putar tanpa kejelasan, sebenarnya hal tersebut disebabkan oleh sulitnya mereka menemukan ruang berprogres yang nyaman.

Dan, ketika pemain-pemain Bayern berusaha bermain direct ke depan, lini belakang Atletico sudah mengantisipasinya, karena memang itu yang mereka inginkan.

Struktur serangan dalam build-up Bayern di sekitar area Atletico baru mulai terlihat membaik selepas 5-10 menit dari keunggulan lawan. Ada perbaikan struktur posisional dikarenakan ritme pergerakan pemain dan sirkulasi bola terlihat lebih pas.

Pada gilirannya, formasi mini segitiga dan berlian mulai konsisten terlihat. Bahkan, dalam sebuah momen, Bayern berhasil menciptakan situasi menang jumlah di sepertiga akhir, 3v2.

Bayern bukan tanpa usaha dalam merespons cara bertahan lawan. Mereka telah berusaha menciptakan struktur ideal dalam usaha penetrasi dari sayap. Caranya, adalah menggunakan Franck Ribery untuk bergerak dari sayap ke sayap untuk menciptakan overload .

Namun dalam praktiknya, pengambilan posisi Ribery sering menyisakan jarak terhadap akses ideal Bayern di sekitar half-space dan tengah yang menyebabkan pemain-pemain Atletico mampu mengisolasi sirkulasi bola Bayern.

Selain positioning Ribery, penempatan posisi pemain-pemain lain tidak menawarkan akses penetrasi yang cukup bagi Thiago yang sedang menguasai bola
Selain positioning Ribery, penempatan posisi pemain-pemain lain tidak menawarkan akses penetrasi yang cukup bagi Thiago yang sedang menguasai bola

 

Usaha lain Bayern adalah menciptakan overload di satu sisi untuk membuka ruang di sisi lain. Dalam ranah teoritis dan praktis, strategi ini memang ideal untuk digunakan menghadapi tim dengan orientasi blok yang sangat rapat, yang sering kali fokus awalnya mengamankan 3 koridor terdekat (sayap terdekat, half-space terdekat, dan tengah).

Tetapi, strategi Bayern tidak menemukan hasil maksimal karena yang memainkan peran pemain bebas atau free player adalah Alaba atau Ribery, yang tidak memiliki kualitas 1v1 dan kecepatan seperti Douglas Costa.

Overload dan switch ke area underload
Overload dan switch ke area underload

 

Dalam fase serang, dibandingkan Bayern, Atletico lebih konsisten. Memang tidak jauh lebih baik, tetapi mereka lebih konsisten. Tuan rumah sendiri bermain dengan mengandalkan umpan yang langsung diarahkan ke depan.

BACA JUGA:  Masalah Laten di Balik Glamornya Premier League

Bisa dikatakan, mereka lebih memilih mengundang lawan untuk maju guna mendapatkan kesempatan menyerang balik sesegera mungkin dalam transisi ketika Bayern berada dalam mode blok tinggi. Bermain mengandalkan transisi cepat memang berpotensi terlihat lebih “chaos” ketimbang tim yang mengambil pendekatan penguasaan dan bermain menggunakan bola pendek.

Pada saatnya, ketika membangun serangan yang terencana, Atletico mampu melakukannya dengan baik. Ambil contoh peluang yang diperoleh Carrasco ketika tembakannya melebar ke kanan gawang Neuer.

Pengambilan posisi pemain-pemain Atletico di depan kotak penalti lawan, dari half-space kiri, serta di depan lini belakang mampu memecah fokus pemain Bayern terdekat. Hasilnya, sebuah umpan terobosan berhasil dilepaskan oleh lini tengah langsung kepada Carrasco yang tidak terkawal.

Jalannya babak kedua

Di menit-menit awal babak kedua, terlihat Bayern mainkan opsi lain dalam build-up. Pada fase pertama build-up, bola tetap digulirkan kepada bek tengah, dalam hal ini Boateng.

Penyesuaian dilakukan ketika Boateng melakukan progresi. Bola selalu tidak digulirkan kepada lini kedua, tetapi bek asal Jerman tersebut menggunakan umpan diagonal dari half-space terdekat menuju half-space jauh atau tengah ke ruang antarlini, yang mana Ribery menjadi target umpan.

Namun, cara ini pun kurang efisien karena pemain-pemain Atletico yang memang terlatih bergerak dalam pressing antarlini mampu mengantisipasinya dengan cepat dan menjepit Ribery dalam situasi 2v1 atau 3v1.

Secara umum, skema serang Bayern memperlihatkan perbaikan. Okupansi ruang mereka mampu mendukung penciptaan akses. Di sisi lain, blok rendah Atletico dalam pola 4-5-1-0/4-4-2-0 pun mampu bereaksi dengan pas.

Oleh sebab itu, walaupun bermain lebih baik di babak kedua, tetapi Bayern tetap sulit masuk ke area penalti melalui kombinasi umpan pendek di sekitar area tengah dan half-space.

Atletico sendiri tetap setia bermain rapat, baik dalam serangan maupun fase non-penguasaan bola. Dengan bermain rapat dan jarak yang terjaga, mereka mampu menampilkan gegenpressing yang stabil, bila diperlukan. Seperti yang terjadi di detik ke-25 babak kedua.

Ketika kehilangan bola di half-space kiri, Atletico segera mampu merebut bola (dalam waktu kurang dari 4 detik) melalui kaki Saul Niguez yang merupakan gelandang kanan. Hal ini dimungkinkan karena rapatnya formasi serang yang mana mengharuskan pemain-pemain sayap untuk bergeser horizontal jauh dari posisi awal mereka.

Ketika masuk ke area pertahanan Bayern, pemain-pemain tuan rumah memainkan sirkulasi bola horizontal yang bertujuan memancing pressing dari lini tengah Bayern agar celah vertikal antarlini belakang dan tengah terbuka.

Gabi dan Koke ditemani oleh pemain yang mengisi half-space terdekat untuk menciptakan koneksi yang kuat di lini kedua. Di lini depan, sedikit di depan garis bek Bayern, Griezmann ditemani oleh Torres serta 1 pemain yang mengokupansi half-space sisi bola.

Spacing di antara mereka menciptakan koneksi yang ideal demi memainkan umpan 1-2 yang cepat. Walaupun efisiensinya rendah, karena pemain-pemain Bayern mampu mengantisipasinya, tetapi struktur posisional yang ideal diperlihatkan oleh tuan rumah.

Ancelotti mencoba mencari solusi dengan memasukan pemain-pemain eksplosif di babak kedua. Usaha ini didasarkan agar Bayern tampil lebih vertikal dan intens. Simeone pun melakukan pergantian demi merespons aksi Bayern.

Selain juga memasukan pemain bertipe eksplosif, ia memainkan gelandang tengah untuk memperkuat pengamanan di zona 5.

Kesimpulan

Atletico Madrid lebih menguasai permainan. Blok pertahanan mereka membuat Bayern sulit masuk ke area strategis dan bermain seperti yang Atletico inginkan. Ini menjadi kekalahan pertama Bayern era Ancelotti dan menjadi salah satu penampilan terburuk sejauh ini dari sekian pertandingan yang telah mereka mainkan.

 

Komentar