Hans Christian Andersen di Old Trafford

Hanya dalam beberapa saat, klub yang berkandang di Old Trafford, Manchester United, yang sebelumnya berstatus pesaing gelar liga akhirnya “turun level” menjadi pesaing klub-klub papan tengah.

Cukup lega, United tak perlu terjun ke jurang degradasi seperti pada 1922 silam, tak lama setelah Perang Dunia I berakhir.

Apabila rasa kesal datang, hemat saya, itu suatu hal yang wajar. Setelah mendengar kekalahan yang itu-itu lagi, terkadang, kita harus menerima the ugly truth: United sudah tak seperti yang dulu.

Dari sisi jersey, United tetap baik-baik saja. Penjualannya tetap stabil di pasar. Dari segi manajer dan jajaran staf-pelatih pun masih terbilang memadai. Ole Gunnar Solskjaer, yang disematkan sebagai legenda klub sudah lebih dari cukup untuk mengenal klub ini.

Bahkan, selama 11 tahun membela The Red Devils, ia diyakini telah hafal berapa helai rumput yang ada di lapangan Old Trafford.

Popularitas klub yang menjulang sampai ke langit tanpa kemahiran manajemen adalah barang percuma, begitu kira-kira kata para pengamat.

Pancaran sinar United kini mendadak redup dalam panggung Eropa. Meninggalkan kawan-kawan bintangnya di galaksi yang sama seperti Barcelona, Bayern Munchen, Liverpool dan Real Madrid.

Jika menonton The Red Devils beberapa tahun belakangan, tiada lagi gairah memperjuangkan gol di menit-menit akhir.

Padahal, puluhan tahun lamanya, para penggemar tak sudi meninggalkan tempat duduk stadion atau sofa empuk di rumahnya sampai sang pengadil lapangan meniup peluit panjang. Masih ada kepercayaan kuat, niscaya gol-gol di menit akhir itu akan tiba juga.

Permainan sayap yang tadinya mengasyikkan seakan lenyap ditelan estetika permainan sang Noisy Neighbours, Manchester City.

Ahli sepakbola pun kebingungan menyaksikan kualitas pertahanan milik tim selevel United yang kerap dibombardir lawan.

***

Antara abad ke-14 hingga ke-15 awal, Norwegia dan Denmark pernah bersatu. Pada 1380, Olaf II dari Denmark mewarisi Kerajaan Norwegia.

BACA JUGA:  Buah Transisi Mulus Real Madrid

Takhta tersebut ia raih setelah kematian sang ayah, Haakon VI dari Norwegia. Kala itu, negeri Eropa bagian utara dihidupi dengan dongeng-dongeng.

Darah dan bakat mendongeng terpatri dalam diri anak-anak Norwegia dan Denmark yang diselimuti udara dingin. Salah satu bocah itu bernama Hans Christian Andersen.

Kini, kisah The Emperor’s New Clothes karya Andersen sedikit banyak melantun di dinding Old Trafford.

Diceritakan suatu hari ada seorang Kaisar yang mencintai pakaian serba indah. Sampai suatu ketika, dirinya mendapat pakaian baru yang diklaim paling mahal dan mempesona.

Konon, pakaian itu tak dapat dilihat oleh orang yang tidak jujur. Ia pun terkejut lantaran pakaian itu tak kasat mata.

Tingginya gengsi mengharuskannya untuk berbohong. Bukan pada seluruh pengawal, penghuni istana, dan masyarakat yang menonton prosesi, melainkan pada dirinya sendiri.

Hingga ada seorang anak kecil berteriak, “Wah, Kaisar telanjang, tidak memakai baju!”

Lalu, apa bedanya United dengan sang Kaisar? Selama sekitar seperempat abad, United memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada seluruh penduduk Liga Primer Inggrism

The Theatre of Dreams mempunyai segala-galanya. Mulai dari Sir Alex Ferguson, wajah rupawan David Beckham, hingga uang berlimpah.

Apabila ditanya, siapa pemegang gelar liga terbanyak, jawabannya sudah pasti kita tahu, bukan?

United yang berlagak seperti sang Kaisar, sadar bahwa dirinya sudah tak lagi mengenakan “pakaian” tersebut. Namun ironisnya, ia masih saja bersikukuh.

United ogah untuk jujur dan mengakui bahwa hari ini, ia cuma seorang Kaisar yang telanjang: dari semua gelar dan prestasi gemilang.

The Red Devils tak boleh terus mengglorifikasi masa lalu yang dipimpin para prajurit macam Roy Keane atau penasihat sekaliber Eric Cantona.

Old Trafford membutuhkan sang juru selamat, sang Messiah, yang mana adalah mereka sendiri.

BACA JUGA:  Seandainya Ferguson Pensiun Pasca-Treble

Bukan mustahil pepatah Prancis akan kian menggema: L’Histoire se Répète, sejarah mengulang dirinya sendiri.

Dengan rampungnya berbagai transfer yang mendobrak, eskalasi permainan yang meningkat pada musim lalu, hingga gol-gol di menit akhir, bukan tak mungkin masa pancaroba dan nirgelar selama hampir empat musim berturut-turut dapat segera usai.

Sebagai pemain, Solskjaer bukanlah puisi yang indah seperti Franz Beckenbauer. Ia juga bukan potongan lirik yang merdu laiknya Johan Cruyff.

Kalau di dataran Eropa ada Rolls-Royce yang digunakan bangsawan Inggris, Solskjaer lebih kurang hanya sebuah Volkswagen yang merakyat.

Solskjaer memang bukan brandy yang digilai warga Prancis, ia hanya Oslofrokosten yang sederhana bagi bagi anak-anak Norwegia.

Barangkali, itulah keistimewaan The Baby-faced Assassin. Sebagai pelatih, ia berada di dimensi yang berbeda dengan Ferguson, meski datang dari latar sosial yang nyaris sama.

Kerasnya kehidupan pelabuhan di pinggir Govan menciptakan watak Fergie sedangkan tangguhnya aktivitas di sepanjang pantai Kristiansund membentuk Solskjaer.

Sang Kaisar yang tak memakai pakaian beserta mahkota harus jujur pada dirinya sendiri. United yang kehilangan Sang Permaisuri bernama Liga Primer Inggris, pada akhirnya membutuhkannya kembali.

Sebab tanpa itu semua, bukankah seorang penguasa hanya seperti rakyat biasa?

Teriakan anak kecil yang memergoki sang Kaisar itu mungkin adalah olok-olok seluruh penikmat sepak bola dewasa ini.

Paling tidak, itu sebelum Solskjaer mengetuk pintu Carrington pada akhir 2018 silam. Layaknya Andersen, Solskjaer pun patut menghidupi dongeng ala bangsa Nordik, dan itu dimulai ketika serdadunya menaklukkan Roses Derby kontra Leeds United.

Identitas penulis:

Muhammad Faisal Akbar, penggemar kritis Timnas Indonesia dan Manchester United selain buku, film, dan musik. Aktif menulis di blog pribadi, pojokbebal.wordpress.com. Bisa disapa lewat akun Twitter @icaleida.

Komentar
M. Faisal Akbar
Penggemar kritis Timnas Indonesia dan Manchester United selain buku, film, dan musik. Aktif menulis di blog pribadi, pojokbebal.wordpress.com. Bisa disapa lewat akun Twitter @icaleida.