Ikatan Emosional Sebagai Bentuk Ketidaksederhanaan Sepak Bola

Pada dasarnya, sepak bola adalah permainan sebelas melawan sebelas. Tempatnya adalah sebuah lapangan dengan panjang 100-110 meter dan lebar 64-75 meter dengan dua buah gawang di kedua ujungnya.

Bola adalah objek yang dimainkan dengan tujuan dimasukkan ke dalam gawang lawan apa pun caranya, kecuali menggunakan tangan. Kesebelasan yang lebih banyak memasukkan bola ke gawang lawan akan ditahbiskan sebagai pemenang.

Sesederhana itulah permainan sepak bola, setidaknya bagi orang awam. Bagi insan yang berkecimpung dalam olahraga yang paling populer sejagat ini, kesederhanaan tak lagi dapat dirasakan. Tak hanya sebatas di dalam kesebelasan, ketidaksederhanaan sepak bola juga sudah merambah ke berbagai hal yang berhubungan dengan permainan ini.

Mulai dari Jose Mourinho yang menyiapkan beragam strategi bertahan dan menyerang agar timnya tidak terus dicerca, sebelas pemain AC Milan berjibaku mengimplementasikan instuksi Vincenzo Montella, hingga adu argumen Gary Neville dan Jamie Carragher tentang jalannya pertandingan.

Dari komentator di televisi Indonesia yang menemani penonton dengan komentar-komentar anehnya saat timnas berlaga, hingga penjual tahu dan arem-arem harus menawarkan dagangannya ke sudut-sudut Stadion Maguwoharjo saat PSS Sleman bermain adalah contoh-contoh ketidaksederhanaan sepak bola.

Sepak Bola sebagai identitas emosional

Satu lagi yang membuat sepak bola menjadi tidak sederhana yaitu ikatan emosional. Penikmat sepak bola pasti setuju jika permainan ini selalu melibatkan emosi. Pada dasarnya, semua orang menyukai sajian yang dapat menjungkirbalikkan emosi, menyajikan drama.

Drama yang ditawarkan sepak bola adalah drama yang murni, alias tanpa skenario. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di lapangan selama 2×45 menit dan terkadang ditambah 2×15.

Oleh sebab itu, banyak orang berbondong-bondong ke stadion maupun tempat nobar untuk mencari dan menikmati emosi dalam drama yang disajikan oleh sebuah permainan sepak bola, walaupun beberapa pertandingan juga berjalan membosankan.

BACA JUGA:  Tahun Menakjubkan bagi Jens Petter Hauge

Sebut saja Manchester United di era Louis van Gaal sebagai contoh drama yang gagal dan membosankan. Drama dengan pesan penulis skenario yang lebih susah untuk dipahami.

Maka tak heran apabila banyak fans yang memandang timnya sebagai identitas. Jika ada kolom “kesebelasan yang didukung” dalam KTP, saya yakin mayoritas penduduk dunia tidak ragu mengisinya.

Identitas ini juga yang membuat individu-individu yang awalnya tak saling mengenal, namun karena menjadi sesama pemuja sepak bola, membuat mereka serasa terikat satu sama lain.

Pada kondisi yang lebih lanjut, seorang suporter menempatkan kemenangan timnya sebagai sebuah harga diri. Di sinilah awal mula keterikatan sebuah tim dengan emosi seseorang.

Apa pun yang berkaitan dengan pertandingan, baik hasil maupun prosesnya akan menjadi sangat emosional. Emosi inilah yang akan mengantarkan para suporter-suporter itu melakukan tindakan yang terkadang tidak logis.

Tindakan-tindakan sebagai cara untuk mengekspresikan emosi banyak terlihat. Ekspresi emosional yang ditimbulkan tak melulu berupa tindakan yang menyebabkan perselisihan dan kerusuhan. Teriakan yel-yel, chant, sorakan kemenangan, maupun kesedihan, dan air mata juga merupakan luapan emosi.

Masih segar dalam ingatan saya tentang almarhum Clovis Acosta Fernandes yang menangis sembari memeluk replika trofi Piala Dunia ketika Brasil dicukur Jerman dengan skor 1-7.

Atau ketika Presiden Indonesia, Joko Widodo, yang berjingkrak-jingkrak saat Hansamu Yama berhasil membobol gawang Vietnam pada laga leg pertama semifinal AFF 2016.

Selain luapan kesenangan maupun tetesan air mata, bentuk ekspresi yang juga kerak dilakukan adalah mengumpat. Umpatan merupakan cara yang paling sederhana untuk menunjukkan kekesalan secara berjarak, baik kepada wasit maupun pemain lawan.

Saking sederhananya, mengumpat terhadap suatu kejadian yang menyebalkan sudah menjadi sebuah kelaziman.

BACA JUGA:  Louis Van Gaal dan Memori 2013

Di setiap tempat nobar laga leg kedua semifinal AFF 2016, saya yakin jumlah suporter Indonesia yang tidak mengumpat ketika wasit Fu Ming membatalkan keputusan penalti yang ia hadiahkan kepada Indonesia jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sepak bola semakin berkembang dan telah merambah berbagai bidang. Olahraga paling terkenal di kolong langit ini semakin banyak membuat ikatan emosional dengan banyak individu.

Semakin banyak pula ekspresi emosional yang menghiasi jagat sepak bola. Adalah sebuah kewajiban untuk menghormati ekspresi tersebut, apa pun bentuknya, asal tidak bersifat merusak dan merugikan orang lain.

 

Komentar
Pendukung Persiba Bantul dengan akun twitter @AndhikaGila_ng