Inzaghi dan Memori Fantastis bagi Milanisti

Buat penggemar sepakbola Italia era 1990-an hingga 2010-an jelas kenal betul dengan sosok Filippo Inzaghi.

Ia merupakan striker dengan tubuh ceking, dianggap tak punya teknik mumpuni oleh mendiang Johan Cruyff, tetapi produktif dalam urusan mencetak gol.

Gara-gara kemampuan teknisnya yang biasa-biasa saja itu, banyak yang merasa bahwa Inzaghi adalah figur yang senantiasa dinaungi keberuntungan sehingga mampu melesakkan gol. Namun kenyataan tersebut, sejujurnya amat menyebalkan untuk banyak lawan.

Bagaimana tidak, dengan kemampuan yang ‘biasa-biasa saja’, kakak dari Simone Inzaghi tersebut selalu bisa mengelabui lawan.

Longgarnya penjagaan dan anggapan remeh jadi bahan bakar Inzaghi buat menghukum lawan-lawannya.

Bagi tim yang dibelanya, Inzaghi mungkin bisa dibilang sebagai satu meriam cadangan ketika tembakan meriam-meriam utama gagal menemui sasaran.

Kendati dirinya bukan sosok penyerang idaman, tetapi pria kelahiran Piacenza ini begitu piawai menghadirkan kejutan.

Maka dari itu, istilah cadangan sering berbuah pujian karena ia yang diremehkan justru kerap menjadi penentu kemenangan.

Oleh karenanya, kurang sopan rasanya bila menyebut Inzaghi sebagai pemain yang banyak mengandalkan keberuntungan.

Sejatinya, potensi sosok yang kini jadi pelatih Benevento tersebut malah muncul di saat-saat yang tidak terduga.

Sudah banyak sekali buktinya, di mana salah satunya adalah ketika ia menjadi pahlawan di laga penuh sejarah bagi AC Milan.

Semua pasti ingat ketika I Rossoneri datang ke Athena dengan perasaan penuh luka dalam menyongsong final Liga Champions 2006/2007 melawan Liverpool.

Memori pahit masih membekas di benak para penggawa Milan yang dua tahun sebelumnya takluk dari lawan yang sama di Istanbul.

Bagi pesepakbola manapun, keunggulan 3-0 yang kemudian disamakan menjadi 3-3 dan akhirnya kalah dalam adu penalti merupakan peristiwa yang amat kelam tetapi sulit dilupakan.

BACA JUGA:  Menjadi Milanisti dengan Jersey Biru-Hitam

Berbekal momen lara itu, Milan ingin membalasnya dengan cara yang brilian. Ya, membawa pulang trofi Si Kuping Besar ke Milanello, markas latihan I Rossoneri, untuk ketujuh kalinya.

Masih diperkuat oleh sebagian besar pemain andalan, Inzaghi dan kawan-kawan menantang Steven Gerrard dan kolega sekali lagi di atas lapangan hijau.

Akan tetapi, cerita di Athena berbeda dengan di Istanbul. Kali ini, Milan tak jadi pesakitan. Bintangnya? Tentu saja Super Pippo, julukan Inzaghi.

Pada momen menegangkan itu, ketika Ricardo Kaka yang sudah tampak lelah menjadi perbincangan dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya, menjadi salah satu penyebab gol yang diciptakan sang penyerang.

Kaka yang dijatuhkan Xabi Alonso tepat di depan kotak pinalti lawan berhasil memberi kesempatan tendangan bebas bagi I Rossoneri.

Andrea Pirlo yang ditugaskan untuk mengambil tendangan pun tak ragu buat melepaskan tendangan yang mengarah ke gawang.

Walau dikenal sebagai algojo sepakan bebas jempolan, tetapi bukan Pirlo yang sukses mengoyak jala Liverpool, melainkan Inzaghi.

Prosesnya pun khas Inzaghi banget. Ia hanya membelokkan bola dan seusai melihat si kulit bundar melesat mulus ke dalam gawang, ia langsung bersorak kegirangan untuk merayakannya.

Ia menghampiri tifosi Milan di tribun. Energi yang diciptakannya sungguh luar biasa. Saat itu, mungkin, lari Inzaghi dalam selebrasinya masih lebih cepat daripada momen dirinya menggiring bola di atas lapangan.

Namun Inzaghi pun takkan peduli. Toh, ia tak butuh lari super cepat guna menghadirkan kegembiraan.

Inzaghi hanya perlu bergerak mengikuti instingnya, memosisikan diri dengan baik, sampai akhirnya bola secara otomatis mengarah kepadanya dan gol pun tercipta.

Mungkin, sekali lagi mungkin, Inzaghi punya ajian khusus yang dia rapalkan saban merumput sehingga bola selalu menuju kakinya. Seolah-olah ada medan magnet di antara si kulit bundar dengan kedua tungkainya.

BACA JUGA:  Marina Granovskaia, Perempuan Adidaya di Jagad Sepakbola

Tak sampai di situ karena pada momen bersejarah Milan di tahun 2007 silam, Inzaghi kembali mencatatkan namanya di papan skor untuk kedua kali. Sekitar sepuluh menit jelang laga selesai, ia menerima sodoran Kaka.

Dengan gerakan khasnya, pria berambut gondrong ini melepaskan diri dari jebakan offside lini pertahanan Liverpool sebelum menghujamkan bola ke jala yang dikawal Pepe Reina.

Lagi, dengan gaya berlari yang seolah sulit mengontrol diri, Inzaghi melakukan selebrasi dengan berteriak tanpa henti. Ekspresinya seolah menggambarkan isi hati para Milanisti.

Kala wasit meniup peluit panjang, kubu berkostum putih berpesta pora. Misi membalas dendam terselesaikan dan trofi ketujuh Liga Champions sukses dibawa pulang.

Momen menyenangkan di Athena melambungkan nama Inzaghi. Ia, yang bertubuh ceking. Ia, yang tak punya teknik brilian. Ia, yang acap dipandang remeh. Nyatanya sanggup meraih sesuatu yang tak dapat direngkuh oleh mereka yang punya kemampuan lebih komplet.

Saat ini, Milan memang punya striker sekelas Zlatan Ibrahimovic, Mario Mandzukic, dan Ante Rebic. Namun kerinduan terhadap figur striker seperti Inzaghi, pasti tetap bersemayam di dalam hati karena di banyak momen sulit, striker macam dirinya justru mampu menjadi pemecah kebuntuan.

Komentar
Seorang penggemar AC Milan yang biasa-biasa saja. Bisa disapa di akun Twitter @garinnanda_