Johan Cruyff: Simbolisasi Evolusi

“Ia mengambil papan tulis (hitam) dan menggambar tiga bek, empat gelandang, dua penyerang sayap dan satu penyerang tengah,” kata Eusebio, gelandang yang masuk dalam rencana sepak bola Johan Cruyff pada tahun pertamanya bersama Barcelona.

“Kami semua saling berpandangan dan berkata “what the hell is this?” kami tidak bisa membayangkan ada berapa penyerang yang bermain dan betapa sedikit bek yang bersiap di belakang.”

Eusebio mencoba mendeskripsikan kebingungan dirinya dan para pemain terhadap bentuk 3-4-3 yang dipresentasikan oleh Cruyff.

“Cruyff, seorang diri, memperkenalkan sebuah permainan baru di Spanyol. Sebuah revolusi,” pungkas Eusebio.

Bagi pemain-pemain Barcelona saat itu, ditunjuknya Cruyff pada Mei 1988 merupakan sebuah revolusi. Bagi dunia, bagi pelatih, bagi analis, bagi penikmat sepak bola, kedatangan Cruyff menjadi awal evolusi baru. Awal dari pelajaran yang diambil dari apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Johan Cruyff.

Cruyff, total football dan juego de posicion

Kalau ada salah satu filosofi yang benar-benar berpengaruh besar terhadap strategi dan taktik sepak bola, tidak lain tidak, adalah total football.

Total football merupakan frasa yang digunakan untuk menyebut filosofi bermain Ajax Amsterdam dan timnas Belanda pada dekade 1970-an, era keemasan mereka. Sederhananya, total football berarti semua pemain bermain secara kolektif dalam level yang lebih ekstrem dari pemahaman pada zaman itu.

Apa yang dimaksud kolektif di sini adalah bek sayap ikut mendukung fase penciptaan peluang dengan bergerak jauh ke depan menyusuri sekitaran area sayap lawan dan penyerang ikut serta dalam fase transisi bertahan bahkan fase bertahan bila diperlukan. Gelandang tengah dan sayap saling bertukar posisi mengokupansi ruang-ruang strategis yang telah disepakati sebelumnya.

Tentunya Anda sering melihat pemandangan seperti ini di sepak bola modern, bukan? Yap, saat ini, semua kesebelasan negara maju sepak bola melakukannya. Dan ini mutlak dipengaruhi oleh sepak bola yang dipertontonkan oleh Belanda saat itu.

Total football bisa ditemui di mana pun saat ini. Barcelona-nya Pep Guardiola, Barcelona-nya Luis Enrique, Borussia Dortmund-nya Thomas Tuchel, Bayer Leverkusen yang dinakhodai Roger Schmidt, Cile era Marcelo Bielsa maupun Cile Jorge Sampaoli.

Belanda 1970-an sudah mulai memainkan sistem pressing dan gegenpressing. Walaupun ketika itu mereka memainkannya dengan struktur yang jauh lebih chaos-tidak serapi sepak bola masa kini. Saat itu, siapa presser utama dan bagaimana struktur pendukung (cover) harus dimainkan masih lebih bersifat intuitif.

Kejar dan habisi. Intuitif tanpa struktur yang rapi.

Dalam permainan bertahannya Rinus Michels memilih memainkan blok tinggi, yang mana lini belakang mengambil posisi hingga garis tengah. Mencoba memaksa bola untuk bergulir di area lawan, sehingga saat kehilangan penguasaan bola (transisi bertahan) gegenpressing mereka telah didukung oleh penempatan posisi pemain-pemain yang sudah sejak awal memenuhi pertahanan lawan.

Cruyff tidak lain tidak merupakan tulang punggung, nafas, darah dan sumber ide dalam total football-nya Michels. Ketika Belanda membangun serangan dari belakang (build-up fase 1), Cruyff ikut turun serta jauh ke belakang menjemput bola. Saat Belanda berada di fase 2 dan 3, Cruyff sering terlihat bertindak layaknya no. 10 bahkan 8 yang menjadi penentu arah permainan. Sangat sering pula ia berada di dalam kotak 16 lawan saat fase eksekusi (fase 4) dilakukan. Mobilitas yang menjadi simbol total football sebenarnya.

Dalam edukasi kepelatihan Belanda dikenal istilah positiespel atau dalam bahasa latin dikenal dengan nama juego de posicion (permainan posisional).

Juego de posicion merupakan filosofi sepak bola yang diusung oleh Cruyff ketika ia menangani Barcelona. (Beberapa) prinsip dasar, di antaranya, menguasai bola sebanyak mungkin (media mengenalkan istilah tiqui-taca), menciptakan superioritas kuantitatif maupun kualitatif, mengarahkan pressing lawan dan menghancurkannya serta penciptaan permainan antarlini yang mana para pemain mengisi area-area yang telah ditentukan tanpa terpaku pada pemain dari posisi mana yang harus melakukannya.

Terdengar familiar? Yap, ada total football di dalamnya.

“Without the ball you can’t win” dan “if you play on possession, you don’t have to defend, because there’s only one ball,” merupakan dua teori singkat Cruyff yang memberikan pengaruh besar terhadap sepak bola modern.

BACA JUGA:  Koin yang Memberi Kejayaan Bagi Italia di Piala Eropa 1968

Bisa diartikan dengan menguasai bola sebanyak mungkin tim kita mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk membongkar pertahanan lawan. Dan sepak bola berbasis penguasaan bola semacam ini menempati porsi penting dalam juego de posicion.

Sebuah filosofi yang jamak didapati dalam sepak bola modern. Banyak kesebelasan membangun serangan dari belakang dan beberapa di antaranya menyelipkan salida lavolpiana, mereka memainkan bola dengan struktur yang sekiranya mampu mendukung progresi yang lebih “bersih”, dalam artian memilih umpan pendek dengan tempo yang terkontrol tanpa memainkan bola panjang yang tidak diperlukan.

Untuk mendukung jalannya filosofi ini, Cruyff menyuntikannya dengan terencana. Cruyff-lah yang meminta Josep Luis Nunez merombak total sistem pembinaan pemain dengan membangun kawah candra dimuka bernama La Masia.

komplek-la-masia
Komplek La Masia

Cruyff pula yang meyakinkan Barcelona untuk tidak sekadar berinvestasi dalam pembinaan tetapi termasuk filosofi bermain berserta detail-detail sekaligus bagaimana membangunnya melalui latihan. Melalui Rondo.

Rondo merupakan sebuah game dalam grup kecil (3v1, 5v3, 5v5+2, 6v2, dll). Melalui rondo, semua hal bisa dipelajari, kecuali menembak. Dalam rondo, kita belajar berpikir cepat dalam ruang dan waktu yang sesak, melatih umpan satu sentuhan, mengambil posisi yang tepat saat tidak memegang bola, dll.

Video milik Janus Allas.

Rondo inilah yang membangun dasar-dasar bagi pemain-pemain La Masia untuk berpikir cepat dalam mengambil putusan terkait ruang, posisi, umpan maupun pressure. Rondo menjadi pondasi bagi sempurnanya juego de posicion yang didambakan Johan Cruyff.

Kutipan Johan Cruyff

Cruyff sering kali melontarkan ujaran yang dikutip dan menjadi viral serta membuat penikmat taktik berpikir sejenak mencermati makna di dalamnya.

Salah satu teori (lama) yang menjadi populer karena secara perlahan diadaptasi secara luas adalah “when you’re playing against team that have two great central defenders, the best option is to play without striker”.

Merasa familiar dengan aplikasinya? Belum? Coba bayangkan tim yang bermain tanpa no. 9 murni. Anda benar kalau menjawab false 9! Barcelona era Pep merupakan salah satu generasi yang menggunakan dan membuat peran false 9 menjadi populer.

Saat ini, dengan sangat mudah kita menemukan false 9 di berbagai tim. Paulo Dybala di Juventus, Karim Benzema di Real Madrid, Alexis Sanchez di Cile atau Pierre Emerick Aubameyang di Dortmund. Dan, tentunya, termasuk Michael Laudrup di Barcelona era Cruyff.

Cruyff memainkan Michael-yang disebutnya penyihir walaupun beliau menyayangkan Michael yang sering tampil (hanya) sebanyak 80-90% kemampuan sebenarnya-sebagai penyerang yang bergerak ke pos 10 dan 8, juga 7 dan 11 demi menciptakan ruang bagi dua sayap dan lini lain. Michael yang memiliki teknik individu dan visi ciamik mampu memainkan peran ini sampai pada level yang memuaskan.

Dan Cruyff memainkannya di sebuah era di mana dunia belum familiar dengan false 9.

Ada yang lain lagi? Satu hari Cruyff diwawancarai oleh sebuah media di sebuah halaman belakang hotel. Ia melontarkan sebuah teori yang bermakna sangat dalam terhadap kompaksi.

Johan Cruyff tentang membangun kompaksi melalui individu

Bagi Cruyff, seorang bek yang mendapati area bertahan yang luas akan mati tenggelam dalam lelah mental dan fisik. Tapi saat diberikan ruang kerja yang kecil ia akan menjadi penguat sistem. Teori ini singkat tapi sangat tepat dalam usaha membangun kompaksi.

Kompaksi vertikal yang terjaga antara pemain depan dan belakang sebesar 25 meter serta kompaksi horisontal yang mengokupansi tiga koridor lapangan sedikit-banyak, tanpa bermaksud mengesampingkan peran Arrigo Sacchi, merupakan buah campur tangan teori ini.

Dengan jarak vertikal 25 meter di antara 3 sampai 4 lini (lapis) dalam sebuah struktur permainan, tim bertahan mampu menjaga kontrol celah vertikal di antara lini dengan stabil. Bila dalam sebuah bentuk 4-4-2, jarak antarlini adalah sekitar 8 meter, maka ketika 4-4-2 bertransformasi ke 4-1-3-1-1, jarak vertikal bisa berkurang menjadi 4-5 meter.

Hasilnya, bila salah satu pemain dari salah satu lini harus bergerak naik/turun, pemain dari lini lain sudah mendapatkan akses untuk memberikan dukungan. Bahkan, dalam level lebih eksterem, kedekatan antar-dua-lini ini bisa membuat kedua lini melakukan pressure bersamaan yang sangat merepotkan lawan.

BACA JUGA:  Jejak Kolonial dalam Logo Klub Lokal

Masih terkait kompaksi dan keamanan pertahanan, Cruyff pernah menekankan pentingnya menciptakan sistem pressing dalam blok tinggi. Yang fungsi utamanya adalah mencoba merebut bola di area sedekat mungkin dari gawang lawan. Cruyff mengatakan, dalam tim saya, penyerang adalah pemain bertahan pertama dan kiper adalah penyerang pertama.

Dengan melakukan pressing blok tinggi, yang gelombang pertama diawali oleh lini penyerang, Cruyff meyakini sebuah tim akan perlu melakukan serangan balik sejauh 25-35 meter dari gawang lawan ketimbang bertahan di blok rendah yang mana saat melakukan serangan balik memerlukan jarak tempuh lebih jauh.

Teori dan aplikasi yang dilakukan Cruyff turut-serta mempercepat populernya pressing blok tinggi. Pep Guardiola, Marcelo Bielsa, Jorge Sampaoli, Roger Schmidt, Jurgen Klopp merupakan sedikit contoh pelatih-pelatih yang percaya pada strategi pressing blok tinggi dengan intensitas tinggi.

Dengan melibatkan kiper dalam fase pertama menyerang, Cruyff bersiap menciptakan superioritas jumlah terhadap lini pressing pertama lawan. Dengan melibatkan kiper, serangan Barcelona dibangun dalam superioritas 11v10, bukan 10 v 10.

Ada lagi? Tentu saja.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Cruyff memperkenalkan bentuk 3-4-3 sebagai pola serang. Pada dasarnya, bentuk ini bertransformasi bergantung pada fase bermain. Ketika Barcelona bertahan, mereka bisa membentuk sebuah blok struktural yang terdiri dari 4 pemain belakang. Bagaimana caranya? Sergi Barjuan, bek kiri dalam bentuk 4 bek, menjadi pemain yang bergerak ke gelandang kiri dalam pola 3-4-3 kembali ke pos bek kiri dalam pola dasar 4-3-3.

Salah satu alasan utama Cruyff memainkan 3-4-3 dalam fase serang adalah ia butuh 7 pemain di depan 3 bek menghadapi pressing lawan plus 1 dari 3 bek tadi yang mungkin “bebas” karena pressing lini pertama lawan terdiri dari 2 penyerang (saat itu dunia sedang dipenuhi bentuk 4-4-2 atau 3-5-2).

Dengan memainkan 3 bek, Cruyff berharap ketiga pemain belakangnya lebih mudah melewati pressing 2 penyerang lawan, 3v2. Konsepnya adalah superioritas jumlah. Sesederhana itu.

Cruyff dan masa depan sepak bola

Cruyff belajar total football dari Rinus Michels dan mendapatkan pelajaran awal juego de posicion dari Laureano Ruiz. Dari Cruyff juego de posicion diturunkan kepada Pep.

Sebelum Pep menjabat sebagai juru taktik, raihan trofi Cruyff adalah yang terbanyak untuk Barcelona, sebelas trofi. Ketika Pep mengakhiri kariernya bersama Barca, ia berhasil merengkuh 14 trofi. Melebih yang dicatatkan Cruyff.

Pep berkata: “Cruyff painted the chapel and Barca’s coaches since merely restore or improve it.” Pep juga mengakui ia mengkopi, mengadaptasi dan melakukan semua yang diajarkan Cruyff. Sesuatu yang dilakukan Pep sejak hari pertama masuk ke skuat Cruyff.

Sebuah pertemuan yang telah diatur begitu indah oleh alam semesta. Cruyff datang ke pertandingan tim yunior dan melihat Pep bermain sebagai gelandang sayap. Segera, ia meminta Charles Rexach untuk memindahkan Pep ke posisi gelandang tengah, sebagai pusat permainan.

Hasilnya? Sejarah manis mencatat, Pep menjadi salah satu deep-lying playmaker terbaik era Cruyff.

Sejatinya, bukan hanya Pep yang akan mewarisi dan melestarikan semua pengetahuan Cruyff. Dengan juego de posicion yang sudah dikenal, dipelajari secara luas dan diadaptasi di berbagai lapisan, filosofi permainan, ide, teori dan visi Johan Cruyff akan selalu berjalan di atas karpet merah gelanggang sepak bola. Sebuah kehormatan abadi yang tidak akan tersisih oleh perubahan zaman.

Johan Cruyff lahir 25 April 1947 dan meninggal pada tanggal 24 Maret 2016. Ia lahir dan besar untuk kebesaran dan kemajuan sepak bola. Dunia sepak bola berhutang kepada apa yang diberikannya.

Dari Ajax Amsterdam, ia membawa konsep pembinaan ke Barcelona dan menyesuaikannya dengan kultur setempat. Dari Barcelona ia tunjukan pada dunia tentang apa itu evolusi strategi dan taktik, tentang bagaimana memiliki pemikiran yang lebih maju ketimbang orang-orang pada zamannya, tentang bagaimana meyakinkan diri untuk lebih baik berani berjudi walau gagal dengan filosofi sendiri ketimbang hidup dari filosofi orang lain.

 

Komentar