Jon-Paul Gilhooley dan Kematiannya yang Terlalu Dini

Entah apa yang ada di benak Soe Hok Gie saat merumuskan keberuntungan hidup melalui nyawa. Katanya, keberuntungan pertama adalah tidak pernah dilahirkan. Kedua, dilahirkan tapi mati muda. Lalu yang tersial adalah berumur tua.

Padahal hidup tak lepasnya seperti bongkahan mutiara di mana banyak orang pontang-panting untuk menjaganya, untuk berjuang agar tetap terawat dengan sebaik-baiknya. Kematian seharusnya menjadi sesuatu yang sebisa mungkin dihindari, bukan kemudian dianggap sebuah keberuntungan saat umur hanya sampai kepala satu.

Kematian sering dianggap sebagai jalan penutup di mana harapan-harapan memudar bersama segala impian sebelumnya telah tersusun secara rapi. Kematian mau tak mau akan membuang jauh-jauh pretensi tentang hari-hari indah di depan. Dan itu berlaku bagi 96 suporter Liverpool dalam tragedi Hillsborough pada tahun 1989 lalu di mana harapan dan hari-hari indah yang telah tersusun dalam kepala mereka hilang bersama degup jantung yang berhenti berbunyi.

Masyarakat Merseyside tidak pernah mengira bahwa 15 April 1989 akan menjadi hari yang menorehkan luka dengan begitu mendalam. Tidak pernah mereka sangka bahwa mereka akan menyaksikan pemandangan mengerikan di Hillsborough secara langsung maupun melalui siaran di televisi. Sebuah pemandangan yang mengguncang jiwa siapa pun yang melihat serta mendengarnya. Kecemasan dan kebingungan pun dengan cepat melanda mereka pada situasi tersebut. Mengapa? Bagaimana? Siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu membombardir dengan kecepatan dan intensitas luar biasa, sementara tak banyak waktu yang mereka miliki untuk mendapat jawaban dengan serta merta.

Hari itu adalah hari spesial bagi orang-orang di Merseyside. Semifinal Piala FA yang digelar di kota Sheffield membuat sebagian warga Merseyside memutuskan berangkat untuk mendukung secara langsung tim kebanggaan mereka, Liverpool.

Namun sayang, tidak semua yang pergi bisa kembali. 96 orang divonis tewas atas kekacauan di area tribun yang ditempati oleh suporter Liverpool. Banyak praduga dalam kejadian itu. Tuntutan keadilan disuarakan karena beberapa pihak menganggap biang musibah itu adalah suporter Liverpool sendiri yang terlalu berjubel hingga melebihi kapasitas tribun. Namun, keadilan bagi 96 nyawa yang melayang pun akhirnya diperjuangkan sampai akhirnya kebenaran menemui jalannya, meski berliku.

Yang menjadi sorotan tajam dari para pendukung The Reds jelas adalah pihak keamanan. Mereka merasa heran mengapa mereka ditempatkan di area Leppings Lane End yang hanya mampu menampung sekitar 14 ribuan orang, sementara area Spion Kop End, yang bisa menampung hingga 21 ribuan orang ditempati oleh supporter Nottingham Forest. Hal ini jelas janggal untuk sebagian pihak, karena boleh dikatakan, jumlah suporter Liverpool yang datang akan lebih banyak ketimbang suporter dari Nottingham.

Ketidaksiapan perangkat pertandingan itu mulai terasa jelang pertandingan dimulai. Menumpuknya para suporter Liverpool di luar stadion membuat keadaan semakin kacau. Lagi-lagi, pihak keamanan tidak bisa berbuat banyak. Hanya dua pintu yang dibuka sebagai akses menuju tribun. Walaupun kemudian pintu ketiga dibuka dan mulai memecah kerumunan, namun usaha itu sia-sia karena di dalam stadion tribun telah terisi penuh.

BACA JUGA:  Melepas Kepergian Adam Lallana

Keadaan sesak di dalam stadion membuat sebagian dari mereka memutuskan untuk naik dan melompat melewati pagar. Pertandingan yang sejatinya telah berjalan beberapa menit akhirnya diberhentikan karena keadaan yang semakin kacau. Tidak sedikit suporter yang kesulitan bernafas dan tergeletak di tepi lapangan.

Sekitar setengah jam berselang, ambulans dan bantuan tenaga medis mulai berdatangan menuju stadion. Di saat yang bersamaan, di boardroom, diskusi yang dilakukan oleh pihak kepolisian, wasit, dan wakil tim menghasilkan keputusan bahwa pertandingan tidak dapat dilanjutkan. Pertandingan dinyatakan berhenti bersama duka yang begitu mendalam. Duka bagi Liverpool, juga untuk sepak bola Inggris.

Steven Gerrard: Saya bermain untuk Jon-Paul!

Salah satu nama yang terukir di monumen penghormatan di Shankly Gates adalah Jon-Paul Gilhooley. Ia adalah bocah yang baru berusia 10 tahun pada saat itu. Gilhooley kecil ikut pergi ke Sheffield namun tidak pernah kembali. Satu dari orang-orang yang berani mempertaruhkan hidup untuk hal yang membuatnya merasa jatuh pada cinta yang kuat.

Gilhooley adalah salah satu suporter terbaik yang pernah dimiliki oleh Liverpool. Ia dan juga kebanyakan orang-orang di Merseyside sering menghabiskan akhir pekan mereka di Anfield untuk menyaksikan para pahlawan mereka bertanding.

Sabtu di tanggal 15 April 1989 pun menjadi hari yang harus ia habiskan untuk Liverpool. Tidak di Anfield, melainkan di Hillsborough, tempat di mana para pahlawannya akan menjalani sebuah pertadingan penting. Seperti juga banyak akhir pekan yang telah ia habiskan untuk Liverpool, akhir pekan pada hari sabtu itu benar-benar ia habiskan untuk tim yang telah membaptisnya menjadi seorang suporter tulen yang seolah siap menghadapi kerasnya dunia tribun sejak bocah. Lalu benar, nyawa pun ia habiskan di atas tribun untuk tim yang ia cintai, untuk Liverpool.

Kepergian Gilhooley untuk menyaksikan Liverpool tidak banyak diketahui oleh keluarga. Awalnya ia nyaris tidak bisa pergi ke Sheffield, namun ibunya ternyata mendapatkan tiket yang begitu berharga bagi Gilhooley. Ibunya tahu seberapa penting arti tiket itu untuk anaknya. Tiket yang pada akhirnya membuat anaknya berada di Hillsborough dan tak pernah kembali lagi.

Duka itu sampai juga ke Huyton, tempat di mana Gilhooley dan Steven Gerrard sering bermain bola di tepian jalan dekat rumahnya. Ya, Jon-Paul Gilhholey adalah sepupu dari Steven Gerrard. Mereka memang telah menahbiskan diri menjadi suporter Liverpool sejak mereka masih kecil, sejak mereka bersama-sama mulai meretas mimpi menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Anfield.

BACA JUGA:  Satu Lagi Dongeng Ajaib dari Zwolle di Belanda

Mimpi mereka sebenarnya berbuah. Mereka berdua telah menjadi bagian yang sulit terpisahkan dengan Anfield dan Merseyside, namun tentu dengan jalan yang berbeda. Gerrard akan diingat sebagai captain fantastic yang pernah mengangkat trofi Liga Champions, sementara Gilhooley akan dikenang sebagai salah satu suporter terbaik yang pernah dimiliki oleh Liverpool.

Jika menyadur dari apa yang dikatakan Soe Hok Gie tentang rumusan keberuntungan hidup dalam awal tulisan di atas, hal ini jelas akan menjadi dilema saat dikaitkan kepada Gilhooley, bocah yang meninggal dalam usia yang terbilang masih sangat muda itu. Apakah suatu keberuntungan tingkat dua jika Gilhooley meninggal pada usia 10 tahun? Siapa pun yang mengutarakan pernyataan itu akan dengan segera dikutuk oleh mereka yang mencintai Gilhooley. Meski jika dikait-kaitkan, keberuntungan itu boleh jadi karena ia tidak akan menanggung rasa malu karena Liverpool tak kunjung berjaya di Liga Primer.

Namun apapun pembelaannya, kepergian Jon-Paul Gilhooley tetap menyisakan kepedihan yang mendalam. Bahkan, Gerrard selalu tak kuasa saat ia berdoa untuk sepupunya yang telah menginspirasinya untuk menjadi pemain sepak bola itu. “Saya kenal Jon-Paul. Ia adalah sepupu saya. Tubuh saya bergetar seperti ada paku tajam yang menusuk saat saya berdoa untuknya,” ratap Gerrard.

Dorongan untuk menjadi pesepak bola dirasakan Gerrard lantaran ingatannya yang tidak pernah habis tentang Gilhooley. Dalam masa percobaannya di Anfield, kedua orang tua Gilhooley sempat datang dan melihat langsung Gerrard bermain untuk memberikan semangat lebih padanya. Dan jelang debut Gerrard bersama Liverpool, mereka berkata, “Jon-Paul akan sangat bangga kepadamu.”

“Selama pertandingan, saya merasa Jon-Paul melihat dari atas sana, bahagia melihat saya telah mencapai mimpi yang selalu kami bicarakan dulu. Saat kemenangan diraih, saya selalu berpikir tentang Jon-Paul dan reaksinya saat Liverpool memenangkan sesuatu. Ini membuat saya sangat sedih saat memikirkan Jon-Paul telah tiada,” kenang Gerrard dalam buku otobiografinya.

Dengan kepergiannya yang terlalu dini itu, Gilhooley tidak bisa menyaksikan sepupunya bermain untuk tim kebanggaan mereka dengan disemat ban kapten di lengan kiri. Ia pun tidak bisa melihat Gerrard mengangkat tinggi-tinggi trofi Piala FA yang dulu, dengan penuh perjuangan, ia harapkan melalui perjalanan menuju Hillsborough terlebih dulu. Namun justru tragedi di Hillsborough itulah yang membuatnya harus meninggalkan Gerrard bersama pencapaian-pencapaiannya sekarang.

Dalam buku otobiografinya, Gerrard menuliskan salah satu alasan ia menjadi pesepak bola tidak lepas adalah sebagai tanda hormatnya untuk Gilhooley. “Setiap kali saya melihat nama Jon-Paul terpampang pada monumen penghormatan di luar Shankly Gates, diri saya dipenuhi rasa sedih dan kemarahan. Saya belum pernah membiarkan orang lain tahu hal ini sebelumnya, tetapi itu benar, saya bermain untuk Jon-Paul.”

Komentar
Lagi belajar baca tulis.